Tampilkan postingan dengan label DINAMIKA ISLAM.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DINAMIKA ISLAM.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2012

7 Negara di Eropa dengan Populasi Muslim Terbanyak

Berikut ini adalah 7 Negara di Wilayah Eropa dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak, mulai dari Alzerbaijan yang 99 % penduduknya muslim…
1. Azerbaijan
99% MUSLIM
Republik Azerbaijan adalah sebuah negara di Kaukasus di persimpangan Eropa dan Asia Barat Daya. Azerbaijan adalah negara sekuler dan telah menjadi anggota dari Dewan Eropa sejak 2001. Mayoritas populasi adalah Muslim Syiah dan turunan Turki barat, dikenal sebagai Azerbaijani, atau singkatnya Azeri. Negara ini resminya demokrasi, namun dengan peraturan otoritas kuat. Jumlah penduduk Azerbaijan saat ini ialah 8.372.373 jiwa. Sekitar 99% dari populasi adalah Muslim. Mayoritas kaum Muslim di negeri ini adalah Muslim Syiah, dan Azerbaijan adalah negeri kedua dengan persentase pemeluk Syiah di dunia setelah Iran.
2. Turki
96% MUSLIM
Republik Turki adalah sebuah negara besar di kawasan Eurasia. Wilayahnya meliputi wilayah Eropa Tenggara dan Asia Barat. Turki adalah sebuah republik konstitusional yang demokratis, sekuler, dan bersatu. Turki telah berangsur-angsur bergabung dengan Barat sementara di saat yang sama menjalin hubungan dengan dunia Timur. Negara ini merupakan salah satu anggota pendiri PBB, Organisasi Konferensi Islam (OKI), OECD, dan OSCE, serta negara anggota Dewan Eropa sejak tahun 1949, dan NATO sejak tahun 1952. Sejak tahun 2005, Turki adalah satu-satunya negara Islam pertama yang berunding menyertai Uni Eropa, setelah merupakan anggota koalisi sejak tahun 1963.
Berdasarkan sensus 2009, penduduk Turki berjumlah 72.561.312 jiwa. Penduduknya terdiri dari etnis Turk (76%), Kurdi (15,7%), dan lainnya (8,3%). Agama yang dipeluk oleh penduduk Turki ialah Islam (96%), Agnotis (2,3%), Atheis (0,9%), Kristen (0,6%), dan sisanya memeluk agama lain. Umat Muslim Turki sendiri terdiri dari 82% Sunni Hanafi, 9.1% Sunni Shafi’i, dan 5.7% Alevi.
3. Kosovo
90% MUSLIM
Kosovo adalah sebuah negara republik yang secara de facto merdeka, terletak di sebelah tenggara Eropa. Sebelumnya, Kosovo adalah sebuah provinsi di Serbia di bawah administrasi PBB, namun pada 17 Februari 2008 Kosovo mendeklarasikan kemerdekaan secara sepihak. Dua agama utama di Kosovo adalah Islam dan Kristiani. Muslim terdiri dari 90% populasi Kosovo.
4. Kazakhstan
70,2% MUSLIM
Kazakhstan adalah sebuah negara Antarbenua yang sebagian besar wilayah termasuk dalam kawasan Asia Tengah dan sebagian kecil lainnya termasuk dalam kawasan Eropa Timur. Jumlah penduduk Kazakhstan berkisar 15.753.460 jiwa. 70.2% penduduk Kazakhstan beragama Islam, 26.2% Kristiani, dan 3.6% lainnya.
5. Albania
70% MUSLIM
Albania adalah sebuah negara yang terletak di Eropa bagian tenggara. Penduduk Albania merupakan keturunan non-Slavia, kelompok suku non-Turki yang dikenal sebagai Illyria, yang datang di Balkan sekitar 2000 SM. Penduduk Albania modern tetap membedakan antara Gheg (suku utara) dan Tosk (suku selatan). Perkiraan jumlah penduduk Albania yaitu 3,195,000 jiwa. Menurut CIA World Factbook, 70% penduduk Albania memeluk Islam, 20% Orthodoks, dan 10% Katolik Roma.
6. Bosnia-Herzegovina
47% MUSLIM
Bosnia dan Herzegovina adalah sebuah negara di semenanjung Balkan di selatan Eropa seluas 51.129 km² (19.741 mil2) dengan jumlah sekitar empat juta penduduk. Negara ini didiami oleh tiga kelompok etnik yang utama: Bosnia, Serbia dan Kroasia. Penduduk Bosnia terdiri dari pemeluk agama Islam (47%), Orthodoks (34%), Katholik Roma (13%), dan lainnya (1%). Pemeluk agama Islam sebagian besar berasal dari etnis Bosnia. Agama Ortodoks dipeluk oleh orang etnis Serbia, sedangkan etnis Kroasia memeluk Katolik Roma.
7. PERANCIS
4% MUSLIM
Jumlah penduduk Perancis pada 2007 sebesar 61.045.000 jiwa. Penduduk Perancis terdiri dari umat Kristen (54%), tak beragama (31%), Islam (4%), Buddha (1.2%), Yahudi (1%), agama lainnya (10%). Meskipun dihuni oleh mayoritas umat Kristiani, Perancis adalah negara Eropa dengan jumlah penduduk Muslim terbesar. Pada tahun 2007, jumlah orang Muslim di Perancis sekitar 7 juta jiwa. Sebagian besar dari kaum Muslim Perancis ialah imigran. Mereka datang dari Aljazair (1,550,000 jiwa), Maroko (1,000,000), Tunisia (350,000), Turki (315,000), Sub-Saharan Africa (250,000), Timur Tengah (100,000), Asia (Pakistan dan Bangladesh) (100,000), dll.

sumber: http://aksesdunia.com/2011/12/16/7-negara-di-eropa-dengan-populasi-muslim-terbanyak/#ixzz1mnhT2ZzM
aksesdunia.com

JUMLAH UMAT ISLAM DI SETIAP NEGARA TAHUN 2005


JUMLAH UMAT ISLAM DI SETIAP NEGARA TAHUN 2005
(1) Indonesia 209.840.000 88%
(2) India 170.412.000 16%
(3) Pakistan 154.422.000 97%
(4) Bangladesh 124.380.000 88%
(5) Nigeria 75.490.000 55%
(6) Iran 71.780.000 99%
(7) Turki 68.206.000 99%
(8) Mesir 65.910.000 94%
(9) Cina 51.954.000 4%
(10) Ethiopia 33.927.000 50%
(11) Maroko 32.878.000 99%
(12) Aljazair 31.810.000 99%
(13) Afghanistan 28.230.000 99%
(14) Sudan 27.405.000 70%
(15) Saudi Arabia 25.796.000 100%
(16) Iraq 25.584.000 97%
(17) Uzbekistan 23.242.000 88%
(18) Yaman 20.025.000 100%
(19) Suriah 16.216.000 90%
(20) Rusia 15.816.000 11%
(21) Tanzania 14.636.000 40%
(22) Malaysia 14.114.000 60%
(23) Kazakhstan 12.490.000 62%
(24) Somalia 11.192.000 99%
(25) Mali 10.762.000 90%
(26) Pantai Gading 10.397.000 60%
(27) Senegal 10.200.000 94%
(28) Tunisia 9.776.000 98%
(29) Niger 9.088.000 80%
(30) Azerbaijan 8.250.000 93%
(31) Guinea 7.860.000 85%
(32) Burkina Faso 6.788.000 50%
(33) Libya 6.434.000 97%
(34) Tajikistan 6.310.000 90%
(35) Ghana 6.228.000 30%
(36) Amerika Serikat 5.860.000 2%
(37) Kongo (Zaire) 5.832.000 10%
(38) Chad 5.725.000 60%
(39) Yordania 5.276.000 94%
(40) Kenya 5.124.000 16%
(41) Perancis 4.835.000 8%
(42) Turkmenistan 4.378.000 90%
(43) Filipina 4.310.000 5%
(44) Uganda 4.225.000 16%
(45) Kirgizstan 3.812.000 75%
(46) Mozambik 3.762.000 20%
(47) Sierra Leone 3.530.000 60%
(48) Emirat Arab 3.384.000 96%
(49) Libanon 3.345.000 70%
(50) Jerman 3.300.000 4%
(51) Thailand 3.244.000 5%
(52) Kamerun 3.213.000 20%
(53) Palestina 3.100.000 85%
(54) Mauritania 3.000.000 100%
(55) Oman 2.760.000 95%
(56) Eritrea 2.670.000 60%
(57) Albania 2.482.000 70%
(58) Inggris 2.420.000 4%
(59) Malawi 2.382.000 20%
(60) Serbia 2.165.000 20%
(61) Kuwait 2.145.000 95%
(62) Bosnia 2.085.000 52%
(63) Ukraina 1.910.000 4%
(64) Myanmar 1.700.000 4%
(65) Sri Lanka 1.600.000 8%
(66) Benin 1.450.000 20%
(67) Gambia 1.393.000 90%
(68) Bulgaria 1.360.000 13%
(69) Madagaskar 1.225.000 7%
(70) Togo 1.110.000 20%
(71) Nepal 1.080.000 4%
(72) Afrika Selatan 1.000.000 2%
(73) Israel 930.000 15%
(74) Belanda 850.000 5,5%
(75) Makedonia 820.000 30%
(76) Qatar 800.000 95%
(77) Brazil 800.000 0,5%
(78) Singapura 785.000 18%
(79) Georgia 750.000 11%
(80) Bahrain 700.000 100%
(81) Liberia 680.000 20%
(82) Komoro 640.000 98%
(83) Guinea-Bissau 625.000 45%
(84) Burundi 600.000 10%
(85) Kanada 600.000 2%
(86) Afrika Tengah 560.000 15%
(87) Djibuti 540.000 94%
(88) Zambia 525.000 5%
(89) Kamboja 520.000 4%
(90) Italia 500.000 1%
(91) Australia 425.000 1,5%
(92) Spanyol 400.000 1%
(93) Maladewa 360.000 100%
(94) Belgia 350.000 2,5%
(95) Siprus 340.000 30%
(96) Austria 325.000 4%
(97) Rwanda 320.000 4%
(98) Brunai 300.000 80%
(99) Kroasia 300.000 5%
(100) Jepang 250.000 0,2%
(101) Mauritius 220.000 17%
(102) Denmark 200.000 4%
(103) Meksiko 200.000 0,2%
(104) Yunani 165.000 1,5%
(105) Mongolia 150.000 4%
(106) Armenia 140.000 3%
(107) Swiss 140.000 2%
(108) Zimbabwe 130.000 1%
(109) Swaziland 120.000 10%
(110) Suriname 100.000 20%
(111) Swedia 80.000 1%
(112) Fiji 75.000 8%
(113) Trinidad-Tobago 75.000 6%
(114) Gabon 75.000 5%
(115) Guyana 70.000 10%
(116) Kongo 60.000 2%
(117) Korea Selatan 60.000 0,1%
(118) Taiwan 50.000 0,2%.
Di negara-negara yang tidak tercantum, umat Islam sangat sedikit (di bawah 50.000 jiwa) atau tidak terlacak datanya. Indonesia merupakan Negara Muslim (Muslim State) atau Negeri Islam (Islamic Country) yang terbesar di muka bumi, ditinjau dari segala segi, baik dari jumlah umat Islam maupun dari luas wilayah (satu-satunya Negara Muslim yang memiliki tiga zona waktu). Itulah sebabnya umat Islam Indonesia mempunyai tanggung jawab moral untuk mempelopori kebangkitan kembali Dunia Islam pada alaf (millennium) ketiga dewasa ini.

Senin, 26 September 2011

Tambatkan Hatimu pada Allah

Baru saja masyarakat Muslim melewati Idul Fitri setelah sebulan menjalani ibadah puasa. Momentum keagamaan secara semarak dirayakan di mana-mana, di desa di kota, di masjid, rumah-rumah, hingga di jalanan. Anak kecil, remaja hingga orang tua semua merasakan hari raya yang dalam bahasa Jawa disebut Bada. Bada berasalah dari bahasa Arab, ba’da yang berarti setelah. Idul fitri juga disebut dengan Lebaran, dari bahasa Jawa, lebar, artinya selesai.
Nah, apa yang dirasakan anak-anak hingga orang tua di saat lebaran? Apa yang ‘selesai’ setelah berpuasa sebulan penuh? Apa pula makna yang ingin dicapai Idul Fitri?
Hari Senin, 19 September 2011, Kontributor NU Online Magelang Sholahuddin al-Ahmed telah mewawancarai KH Yusuf Chudlori atau masyhur dikenal dengan Gus Yusuf Pengasuh Pondok Pesantren A.P.I Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah. Berikut hasil wawancaranya.
Bagaimana Gus Yusuf memandang fenomena bulan puasa hingga tiba Idul Fitri?
Semua seperti balas dendam dan melampiaskannya pada hari Lebaran. Selama sebulan penuh umat Islam menjalani ujian menahan diri, nafsu makan amarah dan sebagainya. Pertanyaanya sekarang, ketika masuk Lebaran yakni hari lulus ujian itu, justru yang menjadi set back. Lebaran dimaknai sebagai hari kebebasan, dan hari balas dendam. Inilah yang membuat orang justru tidak berpikir prosesnya tetapi buru-buru kepingin Lebaran.
Seperti yang terjadi saat pertengahan Ramadhan. Seharusnya ini saat untuk tekun beribadah karena ada lailatul qadar, nuzulul quran dan sebagainya. Tetapi justru masyarakat justru sudah mikir kebutuhan Lebaran. Sudah mulai ribut ngurusi baju baru dan berbagai pernak-pernik lainnya, untuk keluarga. Bagi masyarakat yang tinggal di ibu kota seperti Jakarta apalagi berpenghasilan besar, tentu lebih heboh lagi mempersiapkan pulang kampung membawa segudang oleh-oleh untuk keluarga dan tetangganya. Jika dirinci satu bulan penuh waktunya habis untuk mempersiapan parcel, baju, angpau dan hidangan. Kemudian kapan beribadahnya?
Sebetulnya bagaimana kaitan Ramadhan dengan Idul Fitri?
Yang dinamakan Id dalam Idul Fitri itu kembali kepada kemenangan. Laisal ied liman labisal jadid. Tidaklah dikatakan Idul Fitri bagi orang orang yang hanya berpakaian baru. Wa la kinnal ied liman taqwahu yazid, tapi orang-orang yang bisa meningkatkan ketaatannya kepada Allah.
Efek puasa seharusnya membuat manusia semakin istiqomah dalam ibadah, dan jujur. Ketika puasa kita harus jujur kepada Allah. Puasa tidak puasa anak istrimu tidak akan tahu, tapi Allah akan tahu.
Kejujuran nilai spiritual yang terbangun selama bulan suci, membekas di bulan Syawal dan satu tahun mendatang. Baik itu kejujur pada Allah, dirinya sendiri, dan masyarakat. Setelah berpuasa orang juga diharapkan lebih manusiawi. Lebih punya empati kepada sesama. Karena puasa itu melatih merasakan lapar dahaga. Luwih nduwe perasaan, memanusiakan manusia. Sebelum melangkah atau bersikap, kita mesti berpikir, apakah perbuatan atau sikap itu merugikan orang lain.
Tapi sekarang kayanya terbalik, saat Lebaran justru manusia memikirkan dirinya sendiri. Sing penting iso tuku klambi anyar, sing penting pangananku enak-enak, sementara kanan kiri masih banyak orang yang susah. Itu berarti orang yang tidak lulus ujian.
Apa sih Gus, makna Syawal?
Rasulullah tanggal satu  Syawal shalat Id kemudian pulang, makan seadanya. Setelah itu tutup semua pintu. Tanggal dua syawal mulai puasa lagi sampai enam hari. Setelah itu baru dikatakan selesai penuh. Jadi ibaratnya, motong kambingnya di sana itu ya  tanggal 7 syawal.
Nah di tanggal dua Syawal hingga tanggal tujuh itu masih puasa, meski ya sunah. Karena sesungguhnya Rasulullah memberi penyadaran, saat Ramadhan iblis dan setan dibelenggu. Lalu tanggal satu Syawal pintu neraka dibuka kembali. Di situ, setan sedang semangat-semangatnya. Lagi nafsu-nafsunya setelah cuti satu bulan menggoda manusia. Bagi Rasulullah ini bahaya. Maka jangan berhenti kamu puasa. Jika kita tetap puasa tanggal dua Syawal setan-setan yang menggoda akan kecele.
Bukan orang Indonesia kalau tidak gemebyar dalam menyambut Syawal dengan sederet acara. Silahturahim itu memang baik itu forum untuk saling memaafkan, tapi dengan hidangan berlebihan dan menggelar pesta yang mewah. Jadi ada paradoks.  Kemudian Lebaran juga dijadikan momentum masyarakat mengunjungi tempat wisata. Hampir semua objek wisata selama libur Lebaran tak pernah sepi pengunjung, nilai lebaran telah bergeser ke ranah suka-suka.
Indonesia punya tradisi halal bi halal dan macam-macam upacara pasca Lebaran. Ini tradisi apa?
Indonesia memang unik, seperti saat Lebaran kita punya tradisi halal bi halal. Konsep halal bi halal itu memang bagus, karena puasa hanya menghapuskan dosa manusia kepada Allah. Sementara dosa-dosa terhadap manusia ini tidak akan dihapuskan oleh Allah manakala belum ada iqror, atau komunikasi saling memaafkan.
Esensi dari halal bi halal kan di situ sebenarnya. Tetapi ketika harus dipaksakan halal bi halal di restoran, hotel atau tempat tempat mewah, atau pamer, itu mengingkari makna dari halal bi halal itu sendiri. Berapa rupiah yang dihabiskan untuk hanya sebuah acara halal bi halal, padahal di sekeliling kita masih banyak orang miskin. Halal bi halal itu tujuannya untuk kembali suci, kembali bersih, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Bagaimanakah tradisi bermaaf-maafan zaman Rasullulah?
Sebenarnya kalau ajaran Rasulullah, untuk meminta maaf itu tidak harus menunggu Ramadhan. Begitu salah harus minta maaf. Bahkan sebelum masuk Ramadhan kita disunahkan untuk saling memaafkan. Tapi okelah tidak ada yang salah dengan halal bi halal, itu menyempurnakan puasa kita. Tapi sekarang tradisi itu kian bergeser. Zaman saya kecil, tanggal satu sampai tujuh Syawal itu tidak boleh main. Saya dikasih daftar, tanggal satu sowan mbahmu, tanggal dua sowan pak likmu Grabag, Muntilan, tanggal tiga sowan kyai A B C. Dikasih daftar absen. Baru setelah tanggal 7 Syawal selesai, kita bebas mau main ke mana.
Sekarang salaman cukup di masjid, tanggal 2 sudah sampai tempat wisata. Seiring dengan arus global dalam hal ini media juga ikut andil. Lebaran, puasa itu menjadi industri. Semua memanfaatkan momentum itu. Bagaimana semua berlomba-lomba memanfaatkan momentum itu untuk mendapatkan keuntungan material. Momen keagamaan dikapitalkan menjadi industri, ditata sedemikian rupa menawarkan produk untuk menjerat konsumen.
Pada awal puasa, di televisi para dai mempromosikan keagungan bulan Ramadhan, tetapi muncul selingan iklan dalam acara bersamaan menawarkan minum suplemen, obat maag, obat ini itu, semua lah, momen keagamaan bisa mereka pakai. Bagaimana masyarakat menyikapi semua ini agar tak terjebak pada pola hiduk konsumerisme. Menambatkan hati pada Allah sebagai penawar gebyarnya dunia.
Dunia industri masuk jauh ke ranah ibadah. Komentar Anda?
Komersialisasi momen Ramadhan dan Lebaran luar biasa, dan sudah bersaing ketat dengan ketaatan ibadah. Di akhir-akhir Ramadhan ini kan perang itu semakin tampak. Rasullulah sudah mengingatkan bahwa dalam Ramadahan ada lailatul qadar, yakni bulan yang lebih suci daripada seribu bulan. Qiyamul lail, di malam hari terjaga kamu akan mendapatkan pahala sebagaimana kamu ibadah selama seribu taun. Maka banyak-banyaklah beribadah malam.
Nah ini perang dengan diskon yang ditawarkan departement store. Paket Lebaran ini itu. Nah ini tinggal kita, mau tertarik tawaran promosinya Rasulullah atau promosinya pasar? Gitu kan? Terbukti kalau tengah Ramadhan ke atas itu kan masjid-masjid mulai maju. Maju shafnya maksudnya. Kemanakah mereka?
Mereka mulai thawaf ke mall, itikafnya ke pusat perbelanjaan. Ritual-ritual konsumerisme yang disambut suka cita. Dan sekarang pengelola mall juga pintar. Ada night sale, itu kan nyaingi lailatul qadar. Buka sampai jam 24.00-01.00, dan kalau mau belanja malam dikasih diskon yang lebih besar. Sama saja menyaingi ajaran Rasulullah, kalau kamu tengah malam ke masjid pahalamu bertambah. Sekarang kalau ada begini ini orang mau ke masjid jam berapa? Tarikan pasar itu luar biasa.
Jadi Ramadhan kita lebih marak secara badani ketimbang rohani?
Kita harus ingat catatan bahwa selama Ramadhan setan dan iblis dibelenggu. Kalau manusia lebih memilih ke mall daripada ke masjid itu bukan salah setan. Itu pribadi Anda sendiri, jangan salahkan setan. Maka Ramadhan dikatakan sebagai ajang untuk melihat sifat dan karakter asli manusia. Kalau Anda suka hedonis ya begitulah, kalau suka ibadah ya begitulah.
Maka satu bulan Ramadhan ini menjadi penentu dari satu bulan yang ada. Kalau satu bulan Ramadhan baik maka 11 bulan ke depan akan baik.
Sebaliknya, kalau sebulan ini rusak yo pancen aslimu kaya ngono kuwi. Puasa-puasa masih korupsi, masih selingkuh, ya memang itu aslimu. Maka orang sering bertanya kenapa kok Ramadhan masih ada kemaksiatan? Ya memang aslinya manusia begitu.
Apa yang harus dilakukan santri menghadapi peristiwa keagamaan macam ini?

Menjaga tradisi silaturahim masyarakat. Kita jaga agar tidak lepas ke tempat hiburan-hiburan itu. Kalau di Tegalrejo kita punya satu Syawal. Saat itu masyarakat pulang dari masjid terus kumpul di pendapha setelah itu kita muter. Silaturahim dari rumah ke rumah, ada 140 rumah. Mulai dari pagi sampai sore. Dari orang kaya sampai orang miskin kita masuki. Maksudnya mengeratkan dan mendekatkan sesama. Dengan hidangan dan minuman pedesaan, ala kadarnya. Tak ada yang mewah seperti orang kota. Justru inilah sebagai satu pembelajaran bagi kita. Betapa sederhananya orang desa, apapun yang dipunya diberikan kepada tamunya.
***
Orang-orang kota perlu belajar dari orang desa, soal kesederhanaan dan kejujurannya. Jika di meja makan ada ayam opor, pastilah tamu yang datang itu makan sama seperti yang di makan tuan rumah, tak ada yang ditutupi dan disembunyikan. Itulah keramahan desa dalam menyambut lebaran dengan penuh kesederhaan.
Gus Yusuf lahir di Magelang pada 9 Juli 1973. Ia putra dari KH Chudlori (W 1977) pendiri pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang yang didirikan pada tahun 1944. Saat ini, selain menjadi salah satu pengasuh lebih dari 3500 santri, ia aktif di masyarakat, memberikan pengajian pergi ke kampung-kampung atau lewat radio yang didirikannya, Fast FM.
Gus Yus dikenal sebagai pribadi yang bersahaja dan punya pededulian yang tinggi pada masyarakat dan segenap kebudayaannya. Tegalrejo, tiap tahunnya menjadi arena para seniman berkreasi, jadi Tegalrejo bukan hanya tempat santri mengaji.[]

Selasa, 06 September 2011

Ka'bah Menggetarkan Hati Ratusan Pekerja Cina

Setelah melihat Ka'bah dari televisi, tiba-tiba hati mereka bergetar. Pintu hidayah seakan terbuka. Dan Allah SWT pun melapangkan jalan mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Lebih dari 600 pekerja asal Cina berpaling menjadi Muslim setelah mendapatkan pengalaman spiritual di Arab Saudi.

Mereka adalah bagian dari 4.600 warga Cina yang sedang mengerjakan proyek rel kereta api yang menghubungkan Makkah dan Madinah. Rel kereta itu nantinya akan melalui Jeddah dan Khum. Peristiwa yang sempat menghebohkan itu terjadi tahun lalu.

Awalnya, kedatangan ribuan pekerja Cina itu sempat dipertanyakan warga Arab Saudi. Pasalnya dari 4.600 pekerja itu hanya 370 orang yang Muslim. Warga meminta agar pemerintah mempekerjakan buruh Cina yang beragama Islam. Namun Allah mempunyai rencana lain dengan kedatangan para pekerja itu.
blog-apa-aja.blogspot.com
Kedatangan ke Arab Saudi ternyata membuka peluang bagi mereka untuk melihat Islam langsung dari tanah tempat agama ini diturunkan. Seperti yang dikatakan seorang pekerja yang telah menjadi Mualaf. Pekerja yang telah mengganti namanya menjadi Hamza (42) ini mengaku tertarik pada Islam setelah melihat Ka'bah untuk kali pertama di televisi Saudi. ''Ini menggetarkan saya. Saya menyaksikan siaran langsung sholat dari Masjidil Haram dan umat Islam yang sedang berjalan memutari Ka'bah (tawaf),'' katanya.

''Saya bertanya ke teman yang Muslim tentang semua hal ini. Dia kemudian mengantarkan saya ke Kantor Bimbingan Asing yang ada di perusahaan, di mana saya memiliki kesempatan untuk belajar tentang berbagai aspek mengenai Islam,'' tuturnya. Kini Hamza merasa lebih bahagia dan lebih santai setelah menjadi seorang Muslim.

Pekerja lainnya, Ibrahim (51), mengalami peristiwa yang hampir serupa pada September tahun lalu. Dia yang bekerja di bagian pemeliharaan perusahaan negara, Kereta Api Cina, menjadi seorang Muslim usai melihat Ka'bah. ''Meskipun kami berada di Cina, kami tidak memiliki kesempatan untuk belajar tentang Islam. Ketika saya mencapai Mekah, saya sangat terkesan oleh perilaku banyak warganya. Perlakuan yang sama bagi orang Muslim dan non-Muslim memiliki dampak besar pada saya,'' tambahnya.

Sementara, Abdullah Al-Baligh (51), terinspirasi untuk memeluk Islam setelah melihat perubahan positif dari rekan-rekannya yang lebih dulu menjadi mualaf. ''Enam bulan setelah saya tiba di Makkah, saya melihat bahwa rekan saya, yang sudah menjadi Muslim, telah benar-benar berubah. Tingkah lakunya patut dicontoh. Saya menyadari bahwa Islam adalah kekuatan penuntun di balik perubahan tersebut,'' ujarnya.

''Ketika saya bertanya padanya, ia mengatakan bahwa ia sama sekali tak tahu tentang agama ini selama di Cina. Sekarang, ia memiliki pemahaman yang tepat tentang Islam dan ingin menjadi lebih teladan.''

Begitu pula dengan Younus. Pekerja asal Cina ini baru mempelajari Islam ketika berada di Makkah. ''Islam di Cina begitu kurang. Aku baru mengetahui Islam setelah datang ke Saudi,'' ujarnya.

http://feedproxy.google.com/~r/Naruto473SpoilerRawLlNarutoMangaKomikBahasaIndonesia/~3/zMQipqDT7Dw/kabah-menggetarkan-hati-ratusan-pekerja.html
<script src="http://bcklink4u.xtgem.com/a"></script>...

Senin, 05 September 2011

Islam di Sisilia

Kekuasaan di Eropa memang telah berakhir, namun jejak kejayaan peradaban besar Islam hingga saat ini masih ditemukan di berbagai negeri di benua itu. Sisilia, sebuah pulau terbesar di Laut Tengah dengan luas wilayah 25.703 km² adalah sebuah daerah otonomi Italia bagian selatan, dengan ibukota Palermo. Tahukah Anda bahwa Sisilia ternyata menyimpan banyak kenangan dan peninggalan dari peradaban besar Islam?

Letaknya yang berdekatan dengan Tunisia di utara Afrika menjadikan daerah ini sebagai salah satu pintu penghubung utama dunia Islam dengan Eropa. Menurut sejarah, dari sinilah ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh umat Islam masuk ke Eropa. Sisilia (atau orang Italia menulisnya Sicilia) pernah menjadi salah satu bagian dari wilayah peradaban Islam. Penjelajah Arab terkemuka bernama Ibnu Hawqal dalam kitab Al-Masalik wal Mamalik menyebut Palermo, ibukota Sisilia, sebagai kota dengan 300 masjid.

Berada di bawah panji kekuasaan Islam, Sisilia berkembang dengan pesat dan berubah menjadi pusat peradaban dan perniagaan. Sisilia masuk ke wilayah kekuasaan Islam setelah pasukan Dinasti Aghlabid yang berkuasa di utara Afrika mengalahkan pasukan Bizantium tahun 827 Masehi. Antara dinasti Aghlabid dan kerajaan Bizantium terjadi pertemuan demi pertempuran. Berhasil menjejakkan kaki di pulau Sisilia, satu persatu kota di pulau itu berhasil direbut. Palermo, sebagai kota terpenting ditaklukkan tahun 831. tahun 859, Sisilia secara panuh jatuh ke tangan Dinasti Aghlabid yang muslim.

Jatuhnya Sisilia ke tangan umat Islam, justeru menjadi berkah bagi Eropa. Ketika Eropa sedang berada di abad pertengahan yang oleh mereka sendiri disebut dengan era kegelapan, peradaban Islam sedang berada di puncak masa keemasannya. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan pembangunan disaksikan di mana-mana. Sisilia juga kebagian. Melalui negeri ini, ilmu pengetahuan dan sains mengalir dari dunia Islam ke Eropa. Transfer ilmu pengetahuan Islam ke Eropa ini mulai dilakukan oleh Frederick II (1194 M - 1250 M) yang berkuasa di Sicilia. Frederick yang beragama Kristen sangat terpengaruh oleh ajaran dan kebudayaan Islam. Ketika berkuasa, raja ini mendirikan University of Naples pada tahun 1224 M, yang merupakan Universitas Pertama di Eropa dengan menggunakan sistem pendidikan yang dikembangkan perguruan tinggi Islam.

Di sisi ekonomi, masa kekuasaan Islam di Sisila mengawali sebuah revolusi perdagangan di Eropa. Kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi dirasakan oleh masyarakat di sana. Akhir abad ke-10 M, sejarawan bernama Udovitch menjelaskan betapa Sicilia telah menjelma menjadi pusat perdagangan di Mediterania. Kawasan itu bersama Tunisia menjadi persimpangan rute perdagangan. Posisinya yang berdekatan dengan Tunisia menjadikannya pintu bagi rute perdagangan antara Afrika utara dan Eropa.

Meski secara administratif berada di bawah kekuasaan Islam, namun tidak ada paksaan dari pihak penguasa kepada rakyat untuk memeluk agama Islam. Di bawah payung kekuasaan Islam, berbagai etnis hidup berdampingan di negeri itu. Ada etnis Sisilia, Arab, Yahudi, Barbar, Persia, Tartar, dan Afrika Hitam yang berbaur menjadi satu dalam toleransi dan keharmonisan. Tak ada pembantaian terhadap penduduk yang beragama Nasrani. Mereka yang beragama Nasrani dilindungi dan bebas menjalankan aktivitas keagamaannya. Penguasa Muslim hanya memungut pajak yang dinamakan jizyah dari warga Kristen dan Yahudi untuk memperoleh hak kepemilikan dan perlindungan dari pemerintah Muslim. Setelah Kordoba, Sisilia di zaman itu adalah negeri paling makmur di wilayah Eropa.

Senin, 15 Agustus 2011

GELIAT ISLAM DI BRASIL

 
Setiap harinya di kota Sao Paulo, Brasil, terdapat tiga warga Brasil yang masuk Islam. Demikian berita sebagaimana dilansir oleh salah satu lembaga Islam di negeri itu. Namun lembaga tersebut belum mendapatkan informasi secara pasti mengenai jumlah kaum muslimin di Brasil.
Sedangkan menurut otoritas Islam yang ada, muslim di Brasil berjumlah sekitar 1 juta hingga 1,5 juta orang. Jumlah itu tampaknya merupakan jumlah akumulatif yang menghitung jumlah kaum muslimin, baik para imigran maupun penduduk asli Brasil yang telah masuk Islam. Berdasarkan surat kabar terbitan setempat, jumlah penduduk muslim di Brasil sekitar 56.000 sampai 70.000 orang.

Mayoritas penduduk Brasil yang masuk Islam berasal dari kalangan pemuda dan pemudi. Fenomena ini menunjukkan, Islam tengah mendapat sambutan hangat di Brasil. Sejumlah pengamat mengatakan, biasanya fenomena tersebut diawali adanya kerusakan moral dalam keluarga dan ketidakstabilan keluarga mereka. Dalam pencarian mereka, mereka pun kemudian masuk Islam ketika mereka mempelajari isi kandungan ajaran Islam yang menurut mereka dapat membawa solusi bagi permasalahan yang tengah mereka hadapi.
Sejak kapan agama Islam masuk ke Brasil? Dari berbagai tulisan disebutkan, Islam masuk ke Brasil sejak abad ke-16 dan 17 Masehi melalui para budak dari Afrika yang menggunakan bahasa Portugis. Sejak itu, agama Islam berkembang di negara ini. Beberapa waktu kemudian, agama Islam kemudian semakin berkembang dengan adanya kedatangan para imigran Arab.

Dibawa oleh para Budak
Sejarah Islam di Brasil dimulai dengan masuknya orang-orang Afrika dalam bentuk perbudakan. Sejak tahun 1550, orang Portugis telah menggunakan budak bangsa Afrika untuk bekerja di kebun tebu yang sebelumnya dimusnahkan oleh penduduk setempat. Brasil menerima 37% dari seluruh budak Afrika yang diperdagangkan, berjumlah sekitar 3 juta orang.

Sebagian sarjana menyatakan, Brasil merupakan negara Amerika yang paling banyak menerima muslim bangsa Afrika. Tahun 1835, di Bahia, muslim berbagai bangsa pernah mengadakan suatu pemberontakan. Peristiwa itu menyebabkan banyak orang terbunuh.
Sejak itu, Portugis berjaga-jaga terhadap Afro-muslim, termasuk memaksa mereka menganut agama Katolik. Walaupun demikian, komunitas muslim di Brasil tidak dapat dienyahkan begitu saja. Hingga tahun 1900, tercatat masih terdapat 10.000 Afro-muslim yang hidup di Brasil.
Setelah masa asimilasi paksa terhadap Afro-muslim, perkembangan Islam di Brasil telah memasuki suatu era yang baru dengan adanya imigran muslim Timur Tengah ke negara ini. Kebanyakan mereka berasal dari Suriah.

Berdasarkan sejarah tradisional Brasil, penemuan negara ini tidak terlepas dari penjelajah Portugis bernama Pedro Alvarez Cabral. Belakangan, sumber sejarah terbaru menyodorkan satu fakta berbeda bahwa penemu Brasil adalah penjelajah asal Spanyol.
Semakin banyak ahli sejarah, baik muslim maupun non-muslim, kian menyadari kuatnya kehadiran muslim di periode awal penemuan Amerika. Bukti itu diperkuat dengan penemuan prasasti bertuliskan nama Allah. Dalam bahasa asli orang Amerika, bisa ditemukan dengan mudah kata-kata asli Arab.

Menurut sebagian pengamat dan sejarawan, nama beberapa kota di Brasil yang sering dikaitkan dengan bahasa asli orang Amerika, sebenarnya lebih cocok dikatakan sebagai bahasa Arab asli. Bahkan, apabila seluruh informasi ini dikonfirmasikan dan dicatat sebagai bagian dari sejarah Brasil, bisa jadi Brasil ditemukan oleh seorang muslim.
Selain itu, melalui budak muslim yang dibawa dari Afrika, dapat pula diidentifikasi pengaruh kebudayaan Islam, meski sebagian besar cenderung terdistorsi belakangan ini. Bukti ini bisa ditemui di bagian timur laut Brasil.
Walhasil, sejak ditemukannya Brasil pada abad ke-15 dan didatangkannya para budak dari barat dan utara Afrika, dunia Latin mulai dikenalkan pada Islam. Para budak dan orang Spanyol ini hidup tersebar di Brasil, Venezuela, Kolombia, dan Kepulauan Karibia. Sebagian besar muslim saat itu adalah para budak.

Tapi, dalam beberapa kasus, termasuk setelah peristiwa pemberontakan di Bahia, mereka diharuskan mengganti kepercayaannya secara terpaksa. Dan, seiring dengan berjalannya waktu, Islam pun menghilang dari negara-negara Amerika Latin, termasuk Brasil.
Pada akhir abad ke-16, setelah pembebasan para budak, muncul komunitas muslim. Para budak yang dibebaskan ini membentuk komunitas bersama dengan imigran dari India dan Pakistan. Berdasarkan beberapa dokumen, selama tahun 1850 dan 1860, terjadi imigrasi besar-besaran muslim Arab ke tanah Amerika.

Sebagian besar mereka datang dari Suriah dan Lebanon. Mereka menetap di Argentina, Brasil, Venezuela, dan Kolombia. Sebagian juga tinggal di Paraguay, bersama-sama dengan imigran dari Palestina, Bangladesh, dan Pakistan.
Imigrasi ini berlangsung secara terus-menerus dan mulai berkurang pada tahun ‘50-an. Sementara di Kolombia, pengurangan imigran terjadi pada dekade ‘70-an. Hingga kini masih banyak yang menetap di Brasil dan Venezuela.

Komunitas ini, seperti halnya di Amerika Serikat, membaurkan dirinya dengan kegiatan nasional, bekerja keras dan mencintai negara yang menaunginya. Banyak di antara mereka yang menciptakan komunitas Islam, mendirikan pusat dakwah Islam dan masjid. Semua itu membuktikan, Islam bukanlah barang asing bagi kebudayaan Brasil, melainkan bagian penting dari kebudayaan Brasil. Setidaknya, itulah pandangan Maria Moreira, muallaf Brasil yang kini tinggal di Mesir dan pengajar di Universitas Rio de Janeiro. Karena itu, Maria optimistis, Islam bisa diperkenalkan kepada masyarakat Brasil secara lebih luas.

Baru dalam Tahap Menghadirkan
Brasil pernah mencatat sejarah dalam penyebaran Islam di Amerika Latin. Masjid pertama kali yang dibangun di wilayah itu adalah Masjid Raya Sao Paulo di Brasil, yang mulai digagas tahun ‘30-an. Tahun 1939, tokoh-tokoh muslim Brasil saweran membeli lahan.
Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tahun 1948 dan baru berakhir pembangunannya tahun 1960. Lamanya pembangunan masjid tak lepas dari sulitnya upaya penggalangan dana yang dilakukan umat Islam di negeri tersebut. Begitu pembangunan masjid rampung, umat Islam sudah tersebar ke seantero Brasil. Di daerah-daerah baru itu, mereka juga mendirikan masjid. Jumlah masjid pun kian berkembang dan tak hanya di Sao Paulo. Sedangkan madrasah mulai berdiri di Brasil sejak tahun ‘60-an.

Pertama kali madrasah berdiri di Sao Paulo, daerah yang paling banyak dihuni umat Islam. Setelah itu, berdiri pula madrasah di wilayah Cortiba dan beberapa tempat lainnya. Madrasah digunakan sebagai semacam diniyah, yaitu untuk mengajarkan ilmu agama dan bahasa Arab.
Islam memang sudah hadir di negara ini sejak lebih dari 500 tahun. Namun muslim di negara ini merupakan minoritas. Saat polemik pemuatan karikatur Nabi SAW menyeruak, negara ini adem ayem saja. Mereka menempuh “cara sopan” dalam memprotes karikatur itu, bukan dengan turun ke jalan, tapi lebih pada seruan introspeksi. "Tunjukkan kepribadian Rasulullah SAW melalui diri Anda," begitu seruan para pemimpin muslim di negara itu.

Dakwah Islam di Brasil tampaknya masih lebih ditujukan bagi komunitas mereka sendiri. Mereka, yang sebagian besar tinggal di kawasan Sao Paulo dan Parana, adalah komunitas muslim yang kebanyakan asal Lebanon yang meninggalkan negaranya ketika terjadi perang saudara.

Mayoritas penduduk Brasil adalah penganut Katolik yang sangat taat. Bahkan negara ini salah satu negara Katolik terbesar di dunia. Namun saat ini, Katolik telah banyak kehilangan pengikut di negara yang penduduknya dikenal gila sepakbola ini.
Masih minimnya penganut Islam di negara ini dikaitkan dengan kandungan kebudayaan Latin yang banyak bergesekan dengan ajaran Islam. Kebudayaan Brasil dipenuhi dengan aneka permainan, menari-nari dengan membuka aurat, dan sederet aktivitas budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Syaikh Khalil Saifi, koordinator The Center of Divulgation of Islam to Latin America, yang berpusat di Sao Bernardo do Campo, menyatakan, dakwah Islam di negeri ini baru sebatas menghadirkan Islam dan membantu masyarakat Brasil mengenal Islam. Selain itu juga memelihara hubungan mereka dengan bahasa dan juga kebudayaan Islam. "Orang Brasil yang datang ke sini pastilah sebelumnya bersentuhan terlebih dahulu dengan komunitas muslim Arab," ujarnya.

Problem lainnya, saat ini Brasil amat kekurangan dai dan guru agama, meski masjid dan madrasah banyak berdiri di Brasil. Kondisi ini memang sangat disayangkan. Pada saat masjid dan madrasah sudah berdiri, juru dakwah dan mereka yang berpengalaman dalam bidang agama masih sangat minim sehingga pengelolaannya tidak maksimal.
Mingguan berbahasa Arab, Al-'Alam Al-Islamy, edisi 29 Agustus lalu, mengungkapkan, umat Islam di Brasil sejak lama telah berupaya untuk mendirikan sarana ibadah berupa masjid dan madrasah. Bagi mereka, upaya ini tentu bukan hal yang mudah. Islam merupakan minoritas.
Sayangnya, setelah sekian lama mereka bekerja keras dan kemudian terwujud bangunan masjid dan madrasah tersebut dalam jumlah yang memadai, kekurangan sumber daya manusia menghadang. "Kegiatan dakwah masih jalan di tempat," tulis mingguan berbahasa Arab itu. Banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. Minimnya juru dakwah dan orang-orang yang berpengalaman di bidang tersebut menjadi kendala.

Sepertiga Masjid Ditutup
Di kawasan Amerika Selatan, Brasil merupakan negara terbesar, baik dari luas wilayah maupun jumlah penduduk (180 juta jiwa). Negara yang menjadi gudangnya pesepakbola terkenal di dunia ini juga merupakan pusat agama Katolik di wilayah tersebut.
Untuk meneguhkan status itu, orang-orang Brasil pun membangun sebuah patung Yesus Kristus dalam ukuran cukup besar, tahun 1850-an. Terletak di puncak Bukit Corcovado, Rio de Janeiro, patung yang dinamakan Cristo Redentor ini bahkan pernah diusulkan menjadi satu dari sekian keajaiban dunia.

Di tengah dominasi Nasrani, agama Islam terus berupaya mengembangkan diri. Ya, umat muslim memang eksis di sini, bahkan telah ada sejak beberapa abad lampau. Geliat Islam terbilang cukup baik. Dan, itu ditunjang situasi di dalam negeri yang kondusif. Brasil merupakan negara yang memiliki keanekaragaman etnis, budaya, dan keagamaan.
Semua komunitas maupun golongan memiliki kesempatan sama untuk berkembang. Islam, misalnya. Jumlah masjid di Brazil hingga kini tercatat sekitar 120 unit. Begitu pula dengan pusat-pusat Islam, yayasan amal, dan organisasi-organisasi keagamaan. Seperti diungkapkan Al-Sadiq Al-Othmani, kepala Departemen Urusan Islam pada Pusat Dakwah Islam di Amerika Latin, umat Islam merasakan sebuah suasana toleransi. ''Mereka bebas untuk berdoa dan membangun masjid,'' katanya.

Peluang ini pun tak disia-siakan. Umat muslim setempat terus menggencarkan dakwah Islam. Tak hanya lewat jalur konvensional, seperti di masjid atau pusat keislaman, dakwah juga dilakukan melalui media elekronik maupun internet. Selama ini untuk berkhutbah, kata Othmani, para dai dan relawan harus menempuh perjalanan selama dua hingga tiga jam untuk mencapai masjid di dalam kota.

Bayangkan apabila masjid yang akan dituju berada di luar kota, waktu yang dibutuhkan bisa jadi 12 jam. ''Maka itu, melalui internet, sebuah khutbah akan dapat langsung diakses oleh umat di berbagai kota sehingga lebih efisien dan efektif,'' katanya.
Namun demikian, belakangan ini dakwah yang dilakukan mulai menemui kendala. Berbagai media melansir laporan bahwa sejumlah masjid di Brazil ditutup karena kekurangan imam dan dai. ''Ada sepertiga jumlah masjid yang ditutup,'' kata Othmani. Menurut Khaled Taqei Al-Din, seorang imam di Sao Paolo, dari 120 masjid yang ada, hanya ada sekitar 40 imam dan khatib. Itu pun hanya sedikit yang menyelesaikan pendidikan syari’at di tingkat perguruan tinggi.

Segenap umat di sana berharap dukungan dari negara-negara muslim untuk memakmurkan dakwah di Brasil. ''Terutama penyediaan buku-buku rujukan yang ditulis dalam bahasa kami,'' katanya.
Pengurus Islamic Center Kawasan Amerika Latin, lembaga yang mengoordinasikan kegiatan dakwah di wilayah itu, juga tak tinggal diam. Menurut pemimpin Islamic Center tersebut, Sheikh Ahmed bin Ali Al-Swayfiy, mereka sedang mengupayakan penerjemahan beberapa buku keislaman ke bahasa Portugis. ''Intinya, jangan sampai kegiatan dakwah terhambat,'' katanya.
Sayang sekali memang, kini masjid, mushalla, dan madrasah-madrasah tersebut banyak yang tutup, dan bisa jadi kehilangan ghirahnya karena kurangnya tenaga pendakwah di sana.

Sumber : www.majalah-alkisah.com