Tampilkan postingan dengan label PENCAK SILAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENCAK SILAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 September 2012

Perguruan Silat Persinas Asad



PENCAK silat tampaknya cukup identik dengan santri karena di pesantren-pesantren biasanya diajarkan ilmu bela diri ini. Ada benarnya juga, tetapi tidak benar juga, ujar H. Ashabul Anbiya, S.H., dari Perguruan Silat Nasional (Persinas) ASAD Jawa Barat yang menjadi ketua panpel pada Kejurda Persinas di GOR Pajajaran yang berakhir Minggu (4/1).

Ashabul mengatakan kejurda kali ini memang diikuti sebagian besar jebolan pesantren, bahkan salah satu persyaratan peserta adalah harus mendapat izin dari kiai daerah asal. Namun, tidak seluruh peserta merupakan jebolan dari pesantren, bahkan ada juga peserta yang mantan preman, ujarnya.

Seperti perguruan pencak silat lainnya, Persinas ASAD yang bernaung di bawah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), terbuka bagi siapa saja, asal mematuhi aturan perguruan. Jadi, anggota mereka memiliki latar belakang beragam walau sebagian besar merupakan santri anggota LDII.

Pada kesempatan tersebut, Ashabul mengharapkan Persinas ASAD bias memberikan sumbangsih untuk kemajuan pencak silat di Jawa Barat. Sebagai perguruan anggota IPSI Jawa Barat, kami tentunya ingin memberikan sesuatu bagi pencak silat Jawa Barat, ujar Ashabul sambil mengatakan salah seorang anggota Persinas asal Kota Cimahi akan memperkuat Jawa Barat pada pra-PON nanti.

Pembinaan di Persinas dipastikan akan berkesinambungan karena mereka sudah memiliki jalur kompetisi. Pesilat terbaik pada kejurda kali ini akan menjadi wakil Jawa Barat pada kejurnas. Mudah-mudahan pada masa mendatang akan muncul pesilat berprestasi dari Persinas ASAD Jawa Barat, harap Ashabul sambil mengatakan perguruannya berdiri pada 1993. (P-05)***
http://www.pikiran-rakyat.com

Makna Warna Sabuk Persinas ASAD

Tingkat I / Sabuk Putih / Siswa I

Warna putih pada sabuk mempunyai makna lembaran putih dan bersih dengan tulus ikhlas, ridho dan suci. Bagi seorang calon pesilat untuk diberikan pengetahuan, ketrampilan dan sikap dasar tentang ilmu beladiri.


Tingkat II / Sabuk Hijau / Siswa II

Warna hijau pada sabuk memberi makna kedamaian hati setalah diberikan pelajaran dasar tentang pengetahuan, ketrampilan dan sikap sehingga memberi keteduhan hati dan bangga dengan ilmu yang dimilikinya.


Tingkat III / Sabuk Hijau Strip Kuning / Asisten Muda

Warna hijau yang memberikan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan serta dipersiapkan untuk menjadi pesilat yang berkualitas dan berbudi pekerti luhur yang dilambangkan strip kuning pada sabuk.


Tingkat IV / Sabuk Kuning / Asisten Madya

Warna kuning melambangkan keluhuran budi pekerti (akhlaqul karimah) dan keagungan jiwa serta berkualitas, sehingga pesilat makin banyak ilmunya makin berbudi pekerti yang luhur.


Tingkat V / Sabuk Kuning Strip Biru / Asisten Utama

Dengan budi pekerti yang luhur dan keagungan jiwa disertai cita-cita yang luhur, semangat belajar dan tabah dalam menghadapi tantangan yang dilambangkan dengan strip biru pada sabuk.


Tingkat VI / Sabuk Biru / Pelatih Muda

Warna biru melambangkan semangat belajar yang tinggi, dengan percaya diri serta dapat menjaga martabat dan mampu menguasai serta mengendalikan diri walaupun banyak tantangan, rintangan dan halangan.


Tingkat VII / Sabuk Biru Strip Coklat / Pelatih Madya

Dengan semangat dan cita-cita yang tinggi menjadikan percaya diri, selalu menegakkan kebenaran, kejujuran dan menghormati sesama insan.


Tingkat VIII / Sabuk Coklat / Pelatih Utama

Warna coklat tua melambangkan sikap damai, bersahabat, selalu rendah hati dan senantiasa menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan.


Tingkat IX / Sabuk Coklat Bintang Merah 1 / Guru Muda

Bersikap damai dan bersahabat, ramah dan sopan, senantiasa menegakkan kebenaran.


Tingkat X / Sabuk Coklat Bintang Merah 2 / Guru Madya

Senantiasa mengupayakan perdamaian dan persahabatan dengan sesame. Keramahan dan kesopanan ditingkatkan, dengan keberanian yang tinggi membela kebenaran.

Tingkat XI / Sabuk Merah / Guru Utama

Merah melambangkan keberanian dalam membela kebenaran, berjiwa besar, mawas diri, pemaaf dan mengutamakan kepentingan umum dan dapat menjadi panutan.


Tingkat XII / Sabuk Merah Garis Tepi Emas / Guru Besar

Berjiwa besar sebagai pendekar, bisa meramut dan membina serta sebagai pengayom.

IKSPI KERA SAKTI




Perguruan Seni Ilmu Beladiri Kung Fu IKS.PI. Kera Sakti

Merupakan kombinasi dari seni ilmu beladiri kungfu dataran Tiongkok Cina dengan pengembangan teknik ilmu beladiri yang dilakukan oleh pendiri sekaligus Guru Besar perguruan ini dan juga dengan penambahan teknik seni pernafasan ilmu tenaga dalam sebagai pelengkap dalam pelajaran perguruan.

Materi Perguruan


Didalam metode latihan perguruan ini, terdapat 5 tahapan penting untuk mencapai tingkatan tertinggi dari Perguruan Seni Ilmu Beladiri Kung Fu IKS.PI. Kera Sakti, yaitu :


1. Tingkat dasar I sabuk hitam dengan lama latihan 6 bulan.
2. Tingkat dasar II sabuk kuning dengan lama latihan 6 bulan.
3. Warga tingkat I sabuk biru dengan lama latihan 1 tahun.
4. Warga tingkat II sabuk merah.
5. Warga tingkat III sabuk merah strip emas.



I. Materi Latihan Tingkatan Dasar I Sabuk Hitam

Untuk latihan awal siswa tingkatan dasar I harus melewati 3 tahapan penting didalam latihan, yaitu :

· Tingkatan awal, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar perguruan.

· Tingkatan menengah, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan.

· Tingkatan akhir, yaitu materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke tingkatan dasar II.


Adapun materi yang diberikan adalah :

- Teknik Senam Pelemasan dan Yoga

- Teknik Dasar Pukulan dan Tendangan
8 teknik dasar pukulan
5 teknik dasar tendangan
3 teknik dasar tangkisan
3 teknik dasar kelitan

- Teknik Dasar Pernafasan
3 teknik dasar pernafasan Chi Kung

- Teknik Dasar Pengembangan Jurus
teknik dasar jurus kuda kuda Bhesi
3 teknik dasar jurus pengembangan Way Jien
3 teknik dasar jurus kombinasi Toan Ta
3 teknik dasar jurus bantingan San So



II. Materi Latihan Tingkatan Dasar II Sabuk Kuning



Untuk latihan awal siswa tingkatan dasar II harus melewati 3 tahapan penting didalam latihan, yaitu :

1. Tingkatan awal, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar lanjutan perguruan.
2. Tingkatan menengah, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan.

3. Tingkatan akhir, yaitu materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat I.

Adapun materi yang diberikan adalah :

- Teknik Senam Pelemasan dan Yoga

- Teknik Dasar Pukulan dan Tendangan
8 teknik dasar tendangan

- Teknik Dasar Penafasan
2 teknik dasar pernafasan Chi Kung

- Teknik Dasar Pengembangan Jurus
2 teknik dasar jurus pengembangan Way Jien
2 teknik dasar jurus pengembangan toya
2 teknik dasar jurus kombinasi Toan Ta
3 teknik dasar jurus bantingan San So


III. Materi Latihan Warga Tingkat I Sabuk Biru

Untuk latihan awal warga tingkat I harus melewati 3 tahapan penting didalam latihan, yaitu :

1. Tingkatan awal, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan perguruan yang lebih rumit.

2. Tingkatan menengah, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan kombinasi.

3. Tingkatan akhir, yaitu materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat II.

Adapun materi yang diberikan adalah :

- Teknik Senam Pelemasan dan Yoga

- Teknik Dasar Pukulan dan Tendangan

5 teknik pukulan kombinasi lanjutan
5 teknik tendangan kombinasi lanjutan

- Teknik Dasar Penafasan

1 teknik dasar pernafasan Chi Kung

- Teknik Dasar Pengembangan Jurus

5 teknik dasar jurus pengembangan Way Jien
2 teknik dasar jurus kombinasi double stick
teknik pernafasan tenaga dalam

IV. Materi Latihan Warga Tingkat II Sabuk Merah

Untuk latihan bagi warga tingkat II lebih banyak mengacu kepada pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi namun kami meminta maaf karena materi yang diberikan tidak dapat kami sampaikan melalui media ini.

V. Materi Latihan Warga Tingkat III Sabuk Merah Strip Emas

Untuk latihan bagi warga tingkat III lebih banyak mengacu kepada pemantapan dari pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi namun kami meminta maaf karena materi yang diberikan tidak dapat kami sampaikan melalui media ini.

SERAGAM : Hitam lis putih

SEJARAH 10 PERGURUAN HISTORIS IPSI

SEJARAH 10 PERGURUAN HISTORIS IPSI



ipsi.gif
Pasca penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia (dulu masih bernama RIS-Republik Indonesia Serikat) tanggal 27 Desember 1949, pusat Pemerintahan Republik Indonesia berpindah tempat dari Yogykarta kembali ke Jakarta. Sebelumnya, selama empat tahun Yogyakarta pernah menjadi ibukota Republik Indonesia, yaitu resminya sejak 4 Januari 1946 sampai 27 Desember 1949. Perpindahan pusat pemerintahan tersebut diikuti dengan perpindahan kantor kementerian, dan kantor-kantor atau instansi milik pemerintah.
Demikan pula pada tahun 1950 Pengurus Besar IPSI secara de facto juga berpindah tempat dari Yogyakarta ke Jakarta, sekalipun tidak semua anggota pengurus-pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia dapat ikut pindah ke Jakarta. Waktu itu IPSI baru 2 tahun berdiri, yaitu sejak didirikan pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta, oleh Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia, yang menetapkan Mr. Wongsonegoro sebagai Ketua PB.IPSI. Saat IPSI berdiri, Republik Indonesia sedang dalam masa perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dan memantapkan kedaulatan Republik Indonesia, yang harus ditempuh melalui perjuangan baik secara fisik maupun diplomasi. Kondisi ini juga mengakibatkan IPSI yang masih berusia muda harus mengkonsentrasikan pengabdiannya kepada perjuangan kemerdekaan, sehingga kondisi manajerial dan operasional IPSI kala itu mau tidak mau mengalami penyusutan.

Di sisi lain, Pemerintah Pusat RI kala juga sedang menghadapi pemberontakan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia ( DI/TII ) di beberapa daerah, termasuk di Jawa dan Lampung. Untuk menambah kekuatan dalam melawan DI/TII tersebut, Panglima Teritorium III waktu itu, Kolonel (terakhir Letnan Jenderal) R.A. Kosasih, dibantu Kolonel Hidayat dan Kolonel Harun membentuk PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia), yang kala itu didirikan untuk menggalang kekuatan jajaran Pencak Silat dalam menghadapi DI/TII yang berkembang di wilayah Lampung, Jawa Barat (termasuk Jakarta), Jawa Tengah bagian Barat termasuk D.I. Yogyakarta.

Setidaknya dalam kondisi tersebut timbulah dualisme dalam pembinaan dan pengendalian Pencak Silat di Indonesia, yaitu Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dengan konsentrasi lebih banyak dalam hal pembinaan pada aspek Olah Raga, sedangkan Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) lebih banyak membina pada aspek seni pertunjukan (ibing Pencak Silat) dan Pencak Silat bela diri untuk melawan DI/TII. Selain dua organisasi, IPSI dan PPSI ini, juga terdapat beberapa organisasi lain seperti Bapensi, yang masing-masing berupaya merebut pengaruh sebagai induk pembinaan pencak silat di Indonesia.

Sementara itu IPSI harus berjuang keras agar pencak silat dapat masuk sebagai acara pertandingan di Pekan Olahraga Nasional. Hal serupa juga dilakukan oleh PPSI yang setiap menjelang PON juga berusaha untuk memasukkan pencak silatnya agar dapat ikut PON. Namun Pemerintah, yang pada tahun 1948 juga ikut berperan mendirikan IPSI, hanya mengenal IPSI sebagai induk organisasi pencak silat di Indonesia.

Kala itu induk organisasi olahraga yang ada adalah KOI (Komite Olimpiade Indonesia) diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) dengan Ketua Widodo Sosrodiningrat.Di tahun 1951, PORI melebur kedalam KOI. Tahun 1961 Pemerintah membentuk Komite Gerakan Olahraga (KOGOR) untuk mempersiapkan pembentukan tim nasional Indonesia menghadapi Asian Games IV di Jakarta. Kemudian di tahun 1962 Pemerintah untuk pertama kalinya membentuk Departemen Olahraga (Depora) dan mengangkat Maladi sebagai menteri olahraga. Selanjutnya di tahun 1964 Pemerintah membentuk Dewan Olahraga Republik Indonesia (DORI), yang mana semua organisasi KOGOR, KOI, top organisasi olahraga dilebur ke dalam DORI.

Pada tanggal 25 Desember 1965, IPSI ikut membentuk Sekretariat Bersama Top-top Organisasi Cabang Olahraga, yang kemudian mengusulkan mengganti DORI menjadi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mandiri dan bebas dari pengaruh politik, yang kemudian kelak pada 31 Desember 1966 KONI dibentuk dengan Ketua Umum Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Maka kala itu IPSI juga ikut memegang peranan penting dalam sejarah pembentukan KONI sehingga kelak menjadi induk organisasi olahraga di Indonesia.

Menjelang Kongres IV IPSI tahun 1973 beberapa tokoh Pencak Silat yang ada di Jakarta membantu PB IPSI untuk mencari calon Ketua Umum yang baru, karena kondisi Mr. Wongsonegoro yang pada saat itu sudah tua sekali. Salah satu nama yang berhasil diusulkan adalah Brigjen.TNI Tjokropranolo (terakhir Letjen TNI) yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sekalipun kelak kemudian pada Kongres IV ini beliau terpilih sebagai Ketua Umum PB IPSI, namun jalan bagi Brigjen.TNI. Tjokropranolo tidaklah semudah yang dibayangkan. Masih banyak tugas dan tanggung jawab PB IPSI yang kelak harus dihadapi dengan serius. Disamping itu PB IPSI pun perlu merumuskan jati dirinya secara lebih aktif, disamping merumuskan bagaimana mempertahankan eksistensi dan historis IPSI dalam langkah pembangunan nasional.
Karena itu kemudian Brigjen.TNI. Tjokropranolo dibantu oleh beberapa Perguruan Pencak Silat yaitu:
  • dari Tapak Suci Bapak Haryadi Mawardi, dibantu Bpk. Tanamas;
  • dari KPS Nusantara Bp. Moch Hadimulyo dibantu Bp. Sumarnohadi, Dr. Rachmadi, Dr. Djoko Waspodo;
  • dari Kelatnas Perisai Diri Bp. Arnowo Adji HK;
  • dari Phasadja Mataram Bp. KRT Sutardjonegoro;
  • dari Perpi Harimurti Bp. Sukowinadi;
  • dari Perisai Putih Bp.Maramis, Bp. Runtu, Bp. Sutedjo dan Bp. Himantoro;
  • dari Putera Betawi Bp.H. Saali;
  • dari Persaudaraan Setia Hati Bp. Mariyun Sudirohadiprodjo, Bp. Mashadi, Bp. Harsoyo dan Bp.H.M. Zain;
  • dari Persaudaraan Setia Hati Terate Bp. Januarno, Bp. Imam Suyitno dan Bp. Laksma Pamudji.

Salah satu tantangan yang cukup berarti saat itu adalah belum berintegrasinya PPSI ke dalam IPSI. Kemudian atas jasa Bapak Tjokropranolo berhasil diadakan pendekatan kepada 3 (tiga) pimpinan PPSI yang kebetulan satu corps yaitu Corps Polisi Militer. Sejak itu PPSI setuju berintegrasi dengan IPSI, kemudian Sekretariat PB IPSI di Stadion Utama dijadikan juga sebagai Sekretariat PPSI. Pada Kongres IV IPSI itulah kelak kemudian, H. Suhari Sapari, Ketua Harian PPSI datang ke Kongres dan menyatakan bahwa PPSI bergabung ke IPSI.

Kongres IV IPSI tahun 1973 menetapkan Bp. Tjokropranolo sebagai Ketua PB. IPSI menggantikan Mr. Wongsonegoro. Mr. Wongsonegoro telah berjasa mengantarkan IPSI dari era perjuangan kemerdekaan menuju era yang baru, era mengisi kemerdekaan. Saat inilah seolah IPSI berdiri kembali dan lebih berkonsentrasi pada pengabdiannya, setelah sebelumnya melalui masa-masa perang fisik dan diplomasi yang dialami seluruh bangsa Indonesia. Di bawah kepemimpinan Bapak Tjokropranolo ini IPSI semakin mantap berdiri dengan tantangan-tantangan yang baru sesuai perkembangan zaman. Pada Kongres IV IPSI itu pun sepuluh perguruan yang menjadi pemersatu dan pendukung tetap berdirinya IPSI diterima langsung sebagai anggota IPSI Pusat, dan kemudian memantapkan manajemen, memperkuat rentang kendali PB IPSI sampai ke daerah-daerah, dan mempersatukan masyarakat pencak silat dalam satu induk organisasi. Untuk selajutnya Bapak Tjokropranolo menegaskan bahwa 10 (sepuluh) Perguruan Silat tersebutlah yang telah berhasil bukan sekedar menyusun bahkan juga melaksanakan program-program IPSI secara konsisten dan berkesinambungan.

Maka selanjutnya yang dimaksud dengan sepuluh perguruan tersebut adalah:
  1. Tapak Suci,
  2. KPS Nusantara,
  3. Kelatnas Perisai Diri,
  4. Phasadja Mataram,
  5. Perpi Harimurti,
  6. Perisai Putih,
  7. Putera Betawi,
  8. Persaudaraan Setia Hati,
  9. Persaudaraan Setia Hati Terate,
  10. Persatuan Pencak Seluruh Indonesia (PPSI).

Pada waktu kepemimpinan Bapak. H. Eddie M. Nalapraya nama kelompok 10 (sepuluh) Perguruan Silat anggota IPSI Pusat tersebut diubah menjadi 10 (sepuluh) Perguruan Historis, setelah sebelumnya sempat istilahnya disebut sebagai Top Organisasi, atau Perguruan Induk kemudian menjadi Perguruan Anggota Khusus karena keanggotannya di IPSI Pusat menjadi anggota khusus. Di dalam setiap Munas IPSI maka Perguruan Historis ini selalu menjadi peserta dan memiliki hak suara di dalam Munas.

Selasa, 14 Agustus 2012

PERGURUAN PENCAK SILAT CEMPAKA PUTIH

Sejarah Berdirinya Pencak Silat Cempaka Putih






A. WARISAN NENEK MOYANG

Pencak silat merupakan kebudayaan yang tumbuh dan digali oleh nenek moyang Bangsa Indonesia dan diwariskan kepada anak cucu melalui proses panjang secara turun-temurun dan mengandung nilai-nilai budaya, Tradisi atau adat sakral. Dimana pencak silat di dalamnya terkandung unsure olah raga, beladiri dan seni serta tersimpan pula ilmu-ilmu lahir maupun batin. Konon pada zaman kerajaan tempo dahulu, pencak silat merupakan silat yang ampuh bagi tentara kerajaan untuk membela diri dan mempertahankan kedaulatan kerajaan. Adapun pencak silat dapat diartikan= “ ngepenke kawikcasanaan” (mengutamakan kebijaksanaan) SILAT= “ sinau” (belajar) “ilmu” “laku” (kegiatan) “amanah” “Tuhan”(allah).

B. BAPAK WAGIMAN.

Bapak Wagiman, beliau dilahirkan di kota Magetan pada tanggal 31 januari 1944. pada tahun 1966 adalah masa peralihan zaman orde lama ke zaman orde baru di Negara Indonesia. Dengan penuh tantangan dan kendala Bp. Wagiman pada masa itu mulai merintis dan menata kesinambungan budaya pencak silat yang telah diwarisinya.
Pada saat itu di kabupaten Magetan masa kekosongan Organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Jadi Organisasi Pencak Silat yang berada di kabupaten Magetan pada waktu itu masih berdiri sendiri tanpa induk organisasi IPSI. Pada tahun 1969, atas nama komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) Cabang Magetan menunjuk dan mengangkat Bp. Wagiman menjadi ketua IPSI cabang Magetan pada kurun waktu tahun 1969 sampai tahun 1971. pada masa inilah Bp. Wagiman mulai aktif menggerakkan kegiatan IPSI, untuk mengisi kekosongan aktifitas IPSI cab. Magetan. Tepatnya pada tanggal 1 april 1971, secara resmi digiatkannya olah raga bela diri pencak silat yang mendapat rekomendasi dan ijin dari kepala Kepolisian Resort 1054 Magetan dan Komandan KODIM 0804 Magetan, yang akhirnya ini merupakan cikal bakal berdirinya organisasi olah raga bela diri pencak silat cempaka putih.
Tepatnya pada tanggal 18 juli 1974 dengan diberi nama Organisasi Olah Raga Bela Diri Cempaka Putih secara resmi didirikan oleh Bapak Wagiman. Kemudian diakui dan terdaftar pada IPSI cab. Magetan dengan surat keputusan No. 3/6/IPSI/74 kemudian dinyatakan sebagai pusat induk Organisasi Olah Raga Pencak Silat Cempaka Putih berada di Magetan Provinsi Jawa Timur.
Di dalam mendirikan Organisasi Olah Raga Bela Diri Pencak Silat Cempaka Putih, Bapak Wagiman mendapat dukungan dari para pendekarnya antara lain:
1.Kol. Pol. Drs. Cuk sugiarto, MA.
2.Letkol Pol. Drs. Pranowo
3.Kapten Inf. Purn. Ngadeni
4.Lettu Pol. Sukar H.W
5.Lettu Pol. Puguh
6.Peltu Pol. Purn. Masdar
7.Peltu Pol. Purn. Mulyono H.S
8.H. Soemarmo
9.Purdjito
10.Ahmad Nidom
11.Maelan
12.Kusnidi
Didalam pengembangan telah disiapkan pula para pelatih yang handal antara lain:
1.Drs. Kusdi
2.Sugeng Haryono
3.Syukurno
4.Suprapto
5.Totok Suprapto
Dengan modal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi Olah Raga Bela Diri Pencak Silat Cempaka Putih dan dengan landasan spiritual: ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, landasan moral: pancasila, serta landasan operasional : panca setia cempaka putih, dengan semboyan WIRO YUDHO WICAKSONO dan lambing bunga cempaka berwarna putih berdiri dengan kokoh dan mekar berkembang di seluruh wilayah persada nusantara
Di dalam pengembangannya Organisasi Olah Raga Bela Diri Cempaka Putih berpedoman pada ajaran-ajaran dan kaidah-kaidah pencak silat, serta menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang serba maju dan modern.
Dengan bekal ilmu lahir maupun batin yang dikembangkan dan dituangkan dalam bentuk bahan pendidikan dan pembinaan yang meliputi:
Ilmu Teknik Pencak Silat
Ilmu Tenaga dalam
Ilmu terapi ( penyembuhan )
Ilmu kerohanian
Kini Organisasi Olah Raga Bela Diri Pencak Silat Cempaka Putih telah berkembang pesat dan telah mencetak jutaan pendekar yang terdiri dari tiga tingkatan warga, yaitu:
Tingkat Warga Purwa
Tingkat Warga Madya
Tingkat Warga Wasana
Tingkat Warga Dwija

PERGURUAN PENCAK SILAT MERPATI PUTIH

Merpati Putih adalah Perguruan Pencak Silat yang ilmiah, tidak ada mantra dan klenik. Semua realitas dan logis. Kemampuan pesilat Merpati Putih mematahkan benda-benda keras seperti kikir, baja, gagang pompa, pipa beton, dsb. didapat dari zat yang disebut Adenose Triposphat (ATP).
Setiap saat kita melakukan suatu kegiatan yang tidak kita sadari yaitu bernapas. Menghirup napas bisa dikatakan sebagai usaha membersihkan paru-paru. Peristiwa pernapasan melibatkan oksigen (zat asam), sehingga terjadilah peristiwa kimiawi yang disebut oksidasi dan menimbulkan panas atau energi.
Dalam teori listrik, kekurangan satu elektron dari satu atom akan menimbulkan gaya listrik. Ketika kita menghirup napas yang kemudian ditahan, akan terjadi pula kekurangan zat asam. Pada saat berlangsung kekurangan ini, timbul suatu zat baru yang sangat aktif untuk membantu mempercepat pengulangan peristiwa kimiawi tadi. Zat ini dikenal sebagai Adenose Triposphat atau disingkat ATP. Tenaga yang ditimbulkan ATP ini adalah 5 kali tenaga yang dihasilkan oleh peristiwa oksidasi itu sendiri.
Untuk mendapatkan ATP diperlukan syarat-syarat, seperti penegangan otot, kemudian digabungkan dengan kemampuan psikis dan biologis. Kalau proses oksidasi terus berulang dengan cepat maka akan timbul getaran. Getaran bisa ditingkatkan frequensinya bila kita mengenal ciri-cirinya.
Teknik getaran inilah yang dimanfaatkan Merpati Putih untuk memecahkan benda-benda keras seperti balok es, batang pompa dragon, beton cor, kikir atau per mobil.
Dengan mengirim getaran lewat tangan, kaki atau kepala akan mempengaruhi susunan molekul pada benda yang akan dipatahkan. Pada saat molekul pada garis yang kita jadikan sasaran itu berada dalam keadaan labil, maka sasaran itu kita hantam. Jadi yang terpenting disini bukan kekuatan tetapi momentum pukulan.
Dengan alat yang disebut osciloscope telah berhasil dideteksi lima macam getaran yang ada pada murid Merpati Putih. Sedangkan menurut Dewan Guru masih ada getaran keenam, tetapi masih dalam taraf pengujian. Apakah getaran keenam ini merupakan “Senjata Pamungkas” dari MP kita tunggu saja kiprah Merpati Putih lebih lanjut.
SEJARAH MERPATI PUTIH
lmu Merpati Putih diwariskan secara turun-temurun pada masa Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro di lingkungan keluarga. Latar belakang didirikannya PPS Betako Merpati Putih adalah hasil pengamatan Sang Guru, Saring Hadi Poernomo pada awal tahun 1960-an yang prihatin terhadap perkembangan kehidupan generasi muda yang terkotak-kotak membentuk kelompok-kelompok yang mencerminkan rapuhnya persatuan dan kesatuan bangsa. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah milik bangsa Indonesia, oleh karena itu setiap warga negara Indonesia mempunyai tanggung jawab, hak, dan kewajiban yang sama dalam melestarikan kehidupan bangsa dan mencapai tujuan negara. Seni budaya Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila, kepribadian bangsa, mempertebal harga diri dan kebanggaan nasional serta memperkokoh jiwa persatuan.
Atas dasar hal tersebut tergerak hati nurani beliau untuk berbuat sesuatu demi kecintaannya pada nusa, bangsa, dan negara. Sumbangsih beliau hanya didasari keyakinan bahwa “sikap dan perbuatan sekecil apapun, apabila dilandasi oleh itikad baik pasti akan ada hasilnya”. Keyakinan tersebut hingga kini menjadi semboyan perguruan yaitu: SUMBANGSIHKU TAK SEBERAPA NAMUN KEIKHLASANKU NYATA.
Dalam mengembangkan ilmu beladiri ini Sang Guru mengamanatkan empat sikap, watak, dan perilaku yang harus ditumbuhkan yaitu: (1) rasa jujur dan welas asih, (2) percaya pada diri sendiri, (3) keserasian dan keselarasan dalam penampilan sehari-hari, dan (4) menghayati dan mengamalkan sikap itu agar menimbulkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan amanat Sang Guru, kedua pewaris yang juga puteranya, yaitu Poerwoto Hadi Poernomo dan Budi Santoso Hadi Poernomo bertekad mengambil langkah nyata dalam pengabdian kepada bangsa dan negara Republik Indonesia dengan mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu yang dimiliki keluarga untuk kepentingan nasional.
Atas berkat dan rakhmat dari Tuhan pada tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta, kedua pewaris membentuk Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong MERPATI PUTIH dengan filosofi MERSUDI PATITISING TINDAK PUSAKANE TITISING HENING, yang secara harafiah berarti “Mencari sampai mendapat tindakan yang benar dalam ketenangan”.
Pada periode 1995-1998 ini Ketua umum organisasi PPS Betako MERPATI PUTIH adalah Letjen TNI (Purn) Solihin GP, sedangkan Dewan Pembinanya adalah Bapak Surono, Bapak Tjokropranolo, Bapak Sugiarto, Bapak Ismail Saleh, SH., Bapak Ir. Azwar Anas, Bapak Ir. Hartarto, dan Bapak Eddy M. Nalapraya.
FILOSOFI
Merpati Putih, sebuah nama yang mengandung arti luas dan mendalam, singkatan dari “Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening, yang secara harafiah dapat diartikan dengan “Mencari sampai mendapatkan tindakan yang benar dalam ketenangan”.
Ungkapan tersebut kemudian menjadi dasar filosofis perguruan yang menggambarkan semangat dan dinamika anggota dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Masih banyak yang perlu dipahami oleh anggota dalam kaitannya dengan filosofis perguruan serta hal-hal yang terkandung dalam EMPAT SIKAP, WATAK DAN PERILAKU. Masih banyak pula yang harus dikerjakan oleh pengurus di seluruh jajaran organisasi agar pengkajian, penghayatan dan pelaksanaannnya dapat memberikan manfaat bagi manusia.
TRY-PRASETIA adalah janji yang harus diucapkan oleh setiap anggota yang menunjukkan tekad mereka akan sebuah kesepakatan. Keterikatan dan peran serta baik pribadi maupun bersama dengan anggota lain adalah suatu konsensus, yang meliputi :
  1. Taat dan Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Mengabdi dan berbakti kepada Nusa, Bangsa dan Negara Indonesia
  3. Setia dan taat kepada perguruan
Dalam rangka meningkatkan peran serta anggota terhadap misi Merpati Putih serta peran serta perguruan dalam pembinaan dan pengembangan budaya bangsa Indonesia, ditetapkan semboyan yang diharapkan memotivasi perwujudan peran serta tersebut, yaitu : SUMBANGIHKU TAK SEBERAPA NAMUN KEIKHLASANKU NYATA..
Dengan demikian tanggung jawab tersebut tidak hanya berlaku bagi diri pribadi tapi lebih jauh lagi adalah kewajiban perguruan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
AMANAT SANG GURU”
Saat ini aku merasa ada harapan mampu mewariskan ilmu-ilmu yang kumiliki ini kepadamu. Akan tetapi bukan berarti sampai disini saja tujuannya. Dan mulai saat ini pula kita harus memberanikan dari mengamalkan ilmu tersebut demi kepentingan masyarakat banyak.
Artinya, ilmu ini tidak hanya diturunkan kepada keluarga saja, melainkan dikembangkan juga untuk kepentingan masyarakat. kembangkanlah untuk kepentingakn Nasional. Amalkan untuk kepentingan Nusa, Bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Sebab dengan cara kita berusaha mengembangkan budaya bangsa, sama artinya kita mempertahankan identitas bangsa. Karena budaya adalah salah satu unsur perwujudan kepribadian bangsa.
Pencak silat sebagai alah raga bela diri besar manfaat dan faedahnya dalam pembentukan diri dan pribadi. “Diri melihat bentuk fisik, yang artinya kondisi fisik sehat, sedang pribadi, dilihat dari segi penampilan, sikap budi, yang lebih cenderung disebut : sikap mental dan moral”
Empat sikap watak dan prilaku yang menjadi banyak orang belajar pencak silat :
  1. Akan menumbuhkan rasa jujur dan welas asih.
  2. Menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri sebab didasarkan pada kemampuan yang dimikliki diri pribadi.
  3. Dalam mempelajari pencak silat akan mendalami masalah keserasian dan keselarasan gerak, dan hal ini terwujud dalam sikap serta penampilannya sehari-hari.
  4. Bagi pesilat yang benar-benar menghayati apa yang didapatkan dari sistem pelajaran akan menimbulkan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa.
“Kepribadian yang kuat, memahami hidap dalam kehidupan”
PENDIDIKAN DAN LATIHAN
Pendidikan dan latihan di dalam PPS Betako Merpati Putih meliputi :
  • Pendidikan dan latihan keterampilan dalam Seni Beladiri dan tata pernapasan
    - Senam Peregangan
    - Senam Pemanasan
    - Nafas Pengolahan
    - Nafas Pembinaan
    - Nafas Penghayatan
  • Pendidikan dan latihan bidang kepemimpinan dan atau organisasi, serta pendidikan latihan bidang intelektual lainnya.
Lama pendidikan setiap tahap, bergantung pada tingkatan yang berhasil dicapai. Setiap tingkatan mempunyai seragam latihannya serta materi dan tahap pencapaian yang berlainan.
1. Tingkat MUDA : Tanda tanpa tingkatan 2. Tingkat DEWASA : Strip merah 3. Tingkat MADYA : Strip Jingga 4. Tingkat WIYATA : Strip Kuning
  • Dari tingkat Muda sampai dengan tingkat Madya, periode latihan adalah 4 (empat) bulan untuk setiap tingkat.
  • Pada tingkat wiyata, tidak ada batas periode latihan, dalam hal mana siswa pada tingkatan ini diarahkan untuk :
    - Mengikuti Program Latihan Prestasi
    - Tetap ditingkat Wiyata untuk pembinaan dan pendalaman serta untuk berperan serta dalam pengembangan kelompok kebugaran
Sasaran Pendidikan dan Latihan :
1. Kondisi Bugar 2. Penyembuhan / pengobatan 3. Peningkatan Stamina 4. Peningkatan Daya Tahan Fisik
Sumber : Perguruan Merpati Putih

Sejarah Berdirinya Pencak Organisasi

SEJARAH BERDIRINYA PENCAK ORGANISASI (PO) Pencak Organisasi atau PO berdiri di Kota Lumajang, pada tanggal 27 Agustus 1927, Didirikan Oleh seorang Pahlawan yaitu Guru Besar IMAM SUJA'I, Beliau Seorang Pahlawan yang pada masa itu berjuang untuk Bangsa Indonesia. Bapak IMAM SUJA'I mendirikan Perguruan Silat Pencak Organisasi sebagai gerakan yang "Bawah Tanah" yang menentang Penjajahan. Sebelum Beliau mendirikan Perguruan Ini, beliau telah bergabung di Perguruan Silat "Setia Hati Terate", setelah sekian lama bergabung, lalu beliau menciptakan suatu Perguruan Bela Diri (silat) Pencak Organisasi, Sehingga Beberapa Jurus-jurus PO Mirip dengan SHT, namun tidak sama, Beliau Telah Memodifikasi dan mengembangkan jurus-jurus SHT dengan Pikiran Beliau. Pada Waktu itu beliau dan Murid-muridnya mengadakan gerakan bawah tanah untuk menentang penjajahan dan beliau gugur di medan perang sehingga di Lumajang terdapat nama jalan IMAM SUJA'I sebagai tanda penghargaan dan peringatan untuk Beliau sebagai BUNGA BANGSA. PENCAK ORGANISASI MENEMBUS DUNIA Sekarang PO telah berkembang dimana-mana dan telah meraih prestasi yang membanggakan BANGSA INDONESIA, dengan Pesilat-pesilat yang BerKualitas, PO telah mengharumkan nama bangsa, Sebagai Contoh Menangnya Pesilat-Pesilat PO yang mewakili BANGSA INDONESIA di SEA GAMES Chiang Mai THAILAND. Pesilat PO Berhasil dalam cabang SILAT SENI BELA DIRI yang menampilkan Seni itu Sendiri. ARTI LOGO PENCAK ORGANISASI Dalam hal ini Logo PENCAK ORGANISASI belum bisa ditampilkan disini sehingga Arti Logo PO Nanti akan dijelaskan.

Silat Bintang Sembilan


Silat Bintang Sembilan, begitu Alm Abdul Latief memberi nama perguruan silat yang diperlajarinya. Nama ini berasal dari gurunya yang bernama Haji Ikhsan di Kutorejo di lokasi Kauman Kota Tuban Jawa Timur akhir tahun 60 an. Gurunya ini konon masih merupakan kakek dari budayawan Emha Ainun Najib, cerita ini dan nama Haji Ikhsan ini kebetulan didapat ketika tak sengaja bincang-bincang bersama Ibu Kandung Cak Nun di Jombang tahun 2000 saat pengajian Padhang Bulan,. Menilik nama Silat Bintang Sembilan ini memang dikaitkan dengan semangat NU yang masa itu sedang mengakar di Indonesia khususnya Jawa Timur. Silat bintang sembilan ini memang berkembang didorong kondisi konflik horisontal tahun 48 hingga 60-an. Hji Ikhsan telah memberikan kesan yang membekas kepada Abdul Latief dan mengajarkan silat yang indah dilihat bahklan oleh orang awam karena perpauan kelembutan, ketegasan dan kecepatan.

Pasca meninggalnya Khaji Ikhsan, Abdul latief meneruskan berlatih silat aliran bawean kepada Cak Moel. Cak Moel adalah semacam asisten pelatih, sedang guru beliau adalah asli bawean yang datang ke Tuban sesekali.

Abdul Latief muda - biasa dipanggil Cak Dul atau Cak Dullatip– sangat menggemari silat. Sebagian hidupnya dinikmati sambil berlatih silat. Cak Dul kerap berlatih hinga larut malam, seperti kebanyakan latihan silat masa itu. Beliau menguasai teknik tangan kososng (kontou) dan teknik senjata pedang.

Peragaan teknik tangan kosong dengan langkah, pukulan, kelit , kuncian kerap diperagakan beliau. Langkahnya mantap, seperti tak pernah meninggalkan bumi. Tak ada lompatan atau mengangkat kaki tinggi, Langkah demikian terkontrol, meski demikan tak kehilangan kelincahan dan kaki kiri dan kanan bergantian menjadi poros dan menauver serangan dan hindaran ke segala penjuru. Ada langkah berupa gesutan. Seluruhnya menggunakan teori pemindahan berat badan. Ini dipakai sebagai kekuatan kunci untuk menyerang, menghindar, mengunci dan membuka kuncian. Langkah adalah kunci dari setiap geraknya. Setiap langkah dilakukan dengan perlindungan terhadap kemaluan sehingga tak ada kesempatan langkah yang terlalu terbuka.

Teknik tangan hampir tak pernah dipakai untuk menyerang lebih dahulu. Tangan digunakan untuk menepis, penutup pukulan dan tendangan, meyangkol, membesut, dan memegang serta mengunci serangan lawan. Serangan dilakukan dalam keadaan lawan terkunci atau terkuasai. Ini sesuai filosopi silat ” musuh jangan dicari, tapi kalau datang dihadapi:. Maka yang disebut musuh adalah yang sudah menyerang. Jika masih ancang-ancang jangan dianggap musuh. Demikian dalam suasana dikeroyok, yang dianggap musuh adalah yang menyerang saja. Dengan demikian kita jadi lebih berani dan fokus kepada serangan yang masuk ke kita. Demikian filosopi beliau.

Abdul Latief banyak mengajari kuncian baik mengunci maupun melepaskan kuncian. Ini termasuk teknik praktis perkelahian kuncian. Teknik yang diajarkan di kuncian adalah bila kita dipegang atau dkunci jangan menyerang sebelum membuka kuncian itu. Kuncian yang diajarkan beliau agak aneh. Pegangannya longgar dan tidak menyakitkan, namun bila lawan berupaya meronta atau melawan, kunciannya mengeras, membuat sakait semdi yang dikunci atau mematahkan. Beliau pernah mengajarkan kuncian ”orang gila” yang bisa dipakai untuk orang yang sedang mengamuk. Kuncian ini membuat yang terkunci walau masih bisa digiring untuk berjalan ia tidak dapat meronta sedikitpun karena akan merusak sendi-sendi. Uniknya pula kuncian ini dilakukan dengan satu tangan. Sayang sampai beliau meningal beliau belum mengajarkan bagaimana membuka kuncian ini, padahal seluruh teknik kuncian selalu diajarkjan mengunci dan membuka kuncinya.

Abdul latief menonjol di permaikan pedang. Dengan Cak Moel rekan seperguruannya acap kali mengikuti demonstrasi silat di Tuban dengan teknik pedang. Melalui teknik yang indah dengan kecepatan permainan yang tinggi sering menimbulkan percikan api ketika melakukan peragaan pertarungan dengan pedang. Penonton kerap menjerit setiap sabetan dan tusukan yang dilakukan dengan kecepatan tinggi.

Teknik pedangnya sangat rapi. Pedang seperti sambungan dari tangan beliau yang memiliki syaraf. Maka gesekan pedang dan tekanan-tekanan pedang lawan menjadi perhatian beliau. Pedang diayunkan tidak terlalu jauh dari badan. Mirip dengan teknik kelit dan besutan dengan tangan kosong. Memang langkah menjadi sangat dominan di teknik pedang silat Abdul Latief ini. Seluruh gerakan pedangnya hampir berupa irisan bukan bacokan. Cara memegannya pun berubah-ubah kadang berganti menjadi pedang siku dan kadng dipegang didepan. Sejauh ini tidak pernah melihat berganti tangan dalam memegang pedang seperti teknik pisaunya.

Hampir tak ada tendangan melebihi pinggang. Tendangan dilakukan untuk menyerang kemaluan. Menginjak dan menggejug lutut. Kaki lebih besar di atur untuk memindah-mindahkan berat badan dan melakukan manuver langkah yang lincah diikuti gerak tubuh yang memdukan momentum ini dengan bahu, pinggul dan dan sikap tangan tertentu. Bantingan dan kuncian sangan dipengaruhi teknik langkah ini bukan saya teknik tangannya.

Sila ini memang sangat indah dan gagah. Keindahan geraknya serasi dengan power dan kelincahannya. Sayangnya tidak satupun video maupun foto bisa mengabadikan beliau yang sedang melakukan gerak silat.

Beliau sangat dalam mengajarkan filosopi silat yang akhirnya sangat bermanfaat membentuk karakter untuk bekal kehidupan. Baliau juga mengajarkan doa meminta perlindungan, maklum dalam dunia silat sering terjadi kecelakaan atau cedera. Beliau juga memberui dorongan agar berani melawan orang-orang yang mamakai ilmu hitam dalam berkelahi dan mengajarkan Doa masyhur yang di baca Rasululloh ketika diracun oleh Yahudi.

Silat beliau ini hanya diturunkan kepada anak-anaknya yang kesemuanya lelaki. Terutama kepada anak pertama dan kedua yang menyukai beladiri. Anak pertama beliau bernama Arifin sempat mengembangkan silatnya dengan berlajar pada beberapa perguruan seperti Silat Betawi Walet Putih di Jeruk Purut Jaksel dan Perisai diri serta belajar perorangan kepada beberapa guru silat. Anak kedua bernama Anwar (lahir di Tuban) selain mengikuti silat sempat Perisai Diri kini berlatih silat Cingkrik kepada Bank Popon di kampus UI Depok.

Pencak Silat Jokotole.


 
Jokotole adalah sebuah aliran pencak silat yg berasal dari pulau Madura. Pada awalnya, perkembangannya sejalan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Setelah beberapa pertikaian dengan penguasa Jawa dan Madura, rakyat Madura berpihak ke Belanda dan sebagai imbalannya Madura mendapat kebebasab dalam hal-hal tertentu. Sebagai hasil dari persekutuan ini, masyarakat Madura diperkenankan untuk memiliki bala tentaranya sendiri. Inilah sebabnya mengapa aliran pencak silat Madura berkembang dalam gayanya sendiri. Gayanya sangat praktikal dan akibatnya gerakan-gerakannya terlihat kurang anggun. Karena kekerasan dan karakter masyarakat Madura yang keras, aliran pencak silat Madura berkembang menjadi aliran yang efektif, cepat dan keras.
Pada akhir tahun tujuh puluhan, kejuaraan dunia pertama diselenggarakan di Singapura. Ketua Poras Jokotole saat ini, Bapak Suheimy bertanding untuk Indonesia dan menjadi juara dunia. Dua orang Indonesia yang lain, Bapak Salehodin dan Ibu Tuti pun mengikuti jejaknya menjadi juara dunia. Kemenangan2 ini menyebabkan Jokotole menjadi terkenal di Indonesia dan juga di luar negeri. Bantuan keuangan dari pemerintah Indonesia, memungkinkan pendirian sebuah akademi di Kamal, Madura, tempat kelahiran Bapak Suheimy. Beliau kemudian diminta untuk melatih tim nasional Indonesia dan Jokotole dianugerahi status sebagai akademi yang resmi. Selama 25 tahun terakhir, lebih dari 80 orang telah menjuarai gelar-gelar nasional maupun internasional. Dalam kompetisi olah raga dan seni, orang-orang Indonesia masih sangat berjaya.
Emblem, atau senjata terdiri dari beberapa bagian tertentu yang bersama-sama membentuk simbol dari gaya (Aliran) pencak silat kami.
Jokotole
Ini adalah nama dari seorang pahlawan legendaris Madura yang hidup sekitar enam ratus tahun yang lalu. Sejak masa kecilnya Jokotole meghadapi banyak pertualangan dimana dia mengalahkan musuh-musuhnya dengan keahlian tarungnya, kebijaksanaannya, dan ilmu gaibnya. Dia membebaskan orang-orang Madura dari orang-orang China dan Bali, dan orang-orang kemudian memilihnya sebagai penguasa pulau mereka.
Cambuk
Cambuk ajaib Jokotole adalah salah satu atribut yang digunakannya untuk mengalahkan kesaktian penguasa China. Dalam pertarungan kerbau Madura yang populer, cambuk masih digunakan. Hal ini telah menjadikan cambuk sebagai lambang identitas orang Madura.
Pintu (Gapura)
Gapura ini menyimbolkan usaha para murid untuk mencapai kesempurnaan jiwa dan raga. Gapura ini sangat penting dalam salah satu petualangan Jokotole. Jokotole dapat mencapai tujuannya hanya dengan pengorbanan penuh.
Tangga
Untuk mencapai kesempurnaan, murid harus melewati lima tingkatan. Setiap tingkat mempunyai warnanya tersendiri. Sabuk yang dikenakan murid menunjukan tahap kemajuaanya. Kelima tahap berhubungan dengan panca indera dan tahap keenam menuju ke kesempurnaan.
Wicaksana
Terjemahan bebas dari pepatah kuno sansekerta ini berarti ?Bersatu kita teguh?. Ini menunjukan solidaritas bersama antara para murid dan perguruan.
Perguruan Olah Raga Silat
Karena Jokotole sebagai aliran berperan penting bagi perkembangan pencak silat masa kini di Indonesia, maka Jokotole adalah satu dari beberapa aliran yang mendapat status sebagai akademi(Perguruan).
Dalam Pencak Silat Poras Jokotole aspek berikutnya dibedakan:
1.Olah Raga
2.Bela Diri
3.Seni
4.Ilmu/Kebatinan
Pelajaran diatur sehingga setiap aspek dilakukkan.
1. Olah Raga
Ini berarti:
- Latihan untuk memperbaiki kondisi badan
- Latihan untuk meregangkan badan
- Latihan jatuh
- Bertanding
- Latihan pukul dan latihan tendang (dasar)
2. Bela Diri
Bela diri dibagi dalam tiga bentuk:
- Tangkis
- Latihan dasar
- Bela diri berseni
3. Seni
Maksudnya latihan seni ialah menjamin ciri tradisional pencak silat. Seni itu diperlakukkan dalam aspek lain, tapi dilatih tersendiri juga:
- Bentuk Lanka (menjalani bermacam-macam sikap tempur diganti dengan teknik)
- Dasar (melakukkan kombinasi pukul dan tendang berseni)
- Bela Diri (melakukkan teknik bela diri berseni)
4. Ilmu/ Kebatinan
Sejak permulaan muridnya diperkenalkan dengan adat tradisional dan perbuatan yang mengalir terus dari cara lain orang Madura menganggap dunia. Selain itu, latihan yang bertujuan berlatih setiap perasaan kalau ada keadaan bahaya dilakukkan sering juga. Teknik pernafasan diperhatikan sering juga untuk sama sekali bersantai jiwa dan memperbaiki konsentrasi.
Karena Poras Jokotole adalah aliran tradisional yang mempunyai hubungan erat dengan sekolah pusat di Indonesia, muridnya diberitahu ilmu tentang negerinya, kebudayaannya, dan bahasanya.
www.silatindonesia.com

PENCAK SILAT DI SAMPANG, MELAHIRKAN PRESTASI NASIONAL


Pencak silat di sampang, melahirkan prestasi nasional
Pencak silat di bumi Nusantara bukan merupakan barang baru lagi, karena memang olah raga ini dianggap asli milik tanah melayu. Tidak terkecuali di Madura, olah raga yang penuh dengan unsur seni ini juga mendapat tempat yang terhormat di mata masyarakatnya, bahkan sampai ke manca negara. Seni bela diri yang pernah dilarang pada jaman penjajahan Belanda ini berkembang pesat setalah Indonesia mendapatkan kemerdekaan dan sekarang sudah mendapatkan pengakuan dari bidang olah raga sebagai salah satu cabang olah raga yang dipertandingkan secara internasional.
Jokotole Cabang Sampang
Dan seperti pencak silat yang berasal dari daerah lain di Indonesia ini, Perguruan Pencak Silat Jokotole Sampang Madura ini juga digemari oleh generasi muda. Bermarkas di Jalan Garuda Kelurahan Gunung sekar, Kabupaten Sampang, perguruan ini menjadi tempat berkumpulnya anak muda yang berkreasi dalam banyak bidang. Selain menjadi tempat berlatih bagi perguruan ini juga tempat mangkalnya anak muda yang bergelut di bidang seni teater rakyat. Tempat ini memang cukup reprsentatif untuk kegiatan-kegiatan luar ruangan seperti berlatih olah raga ini. Dengan halaman yang luas beralaskan paving dan matras maka jadilah sebuah arena latihan pencak silat.
Menurut Ketua Harian Jokotole Cabang Sampang, Mohammad Wasil S.Sos, Cabang Perguruan Pencak Silat Jokotole Sampang berdiri pada tahun 80-an yang merupakan cabang dari Perguruan Pencak Silat Jokotole Kamal, Bangkalan Madura. ? ?Perguruan Pencak Silat Jokotole salah satu keistimewaanya adalah pada seni pencak silatnya. Ini yang menurut saya Jokotole digemari sampai ke manca Negara. Selain yang sudah eksis di negeri Belanda, seni ini juga sedang tumbuh dan berkembang dengan baik di Amerika,? jelasnya.
Ketua Harian yang sudah belajar pencak Jokotole sejak sekolah dasar ini menjelaskan bahwa pencak Jokotole berakar dari banyak aliran pencak yang ada di bumi Nusantara. Kemudian diracik dan dikembangkan oleh Guru Besar Bpk. Suheimy menjadi seperti yang sekarang ini. ? kalau mau dirunut lebih jauh lagi sejarah aliran pencak Jokotole, kita akan dapatkan bahwa karakter dan budaya Madura yang keras banyak mewarnai jurus dan gerakan-geraknnya. Guru Besar kami ( Bapak Suheimy-red ) banyak belajar pada perguruan pencak silat di negari ini, dan kemudian meramunya menjadi gerak dan jurus Jokotole sekarang. Selain itu, kehidupan khas pondok pesantren juga memberi sumbangan yang penting untuk perkembangannya,? ungkapnya. Lebih lanjut, diuraikannya bagaimana disiplin pondok pesantren telah secara langsung menggembleng santri untuk berlatih secara lahir maupun batin untuk bisa menguasai jurus dan gerakan pencak.
Dengan disiplin khas ini , perguruan Jokotole cabnag Sampang sedang mempersiapkan muridnya untuk mengikuti kejuaraan Pekan Olah Raga Provinsi ( Porprov ) Jawa Timur. Saat ini, ada empat murid yang dipersiapkan untuk kejuaraan Pekan Olah Raga Provinsi Jawa Timur yang akan diselenggarakan pada bulan Juli 2011. Murid-murid itu sedang berlatih keras untuk bisa menyumbang prestasi bagi Sampang. Even itu merupakan kesempatan bagi murid-murid Jokotole Sampang untuk mencari tiket menuju kejuaraan nasional.
Untuk even yang berskala nasional, Pergurun Jokotole Cabang Sampang bukan hal baru lagi. Sudah ada juara nasional yang dihasilkan dari perguruan yang sederhana ini. ( Lihat boks gadis kecil juara seni pencak silat nasional ). Dari berbagai cabang pencak yang dilombakan, Jokotole Sampang mempersiapkan cabang seni pencak silat berpasangan, regu dan individu. Menurut Koordinator Pelatih Moh. Hosnan Sudarmaji, untuk mempersiapkan atlit mereka ke Porprov Jatim, setiap hari harus melakukan latihan fisik dengan berlari pada tengah hari dan memperdalam teknik pada malam harinya.
Olah Raga Keras
Saat Tim Redaksi Rato Ebhu bertandang ke tempat latihan yang juga merupakan halaman rumah Pak Husnan ini, sedang dilakukan latihan pematangan teknik pencak secara berpasangan. Masing-masing murid menggunakan senjata secara berpasangan yang terdiri dari tongkat, pedang, dan senjata tradisional rakyat Madura, clurit. Gerakan-gerakan cepat dengan menggunakan senjata itu betul-betul mengerikan bagi orang kebanyakan. Dengan kekuatan penuh para murid memperagakan jurus-jurus pencaknya yang bisa membahayakan lawan latih tandingnya. Kilatan pedang dan clurit tak henti-hentinya beradu dan saling menebas, sungguh satu latihan olah raga yang sangat berbahaya dan keras.
Menurut Pak Husnan, koordinator pelatih yang berbadan kecil ini, teknik pertarungan yang diperagakan oleh murid Jokotole ini sebetulnya tidak lebih dari peragaan jurus untuk membela diri. Meskipun jurus-jurusnya juga sama mematikan bagi si penyerang. ? ?bagi kami, yang penting adalah seni pencaknya. Yang diperagakan sekarang bukanlah sekedar teknik untuk melumpuhkan lawan tetapi seni memperagakan jurus-jurus Jokotole secara berpasangan. Memang kelihatannya keras, tapi sebetulnya yang mau ditunjukkan adalah keindahan gerak,? jelasnya. Ini mungkin menjadi pembenaran bahwa satu karakter masyarakat Madura memang keras, bahkan yang dianggap seni sekalipun tetap dilakukan dengan cara yang keras. Seni pencak silat di Madura telah berkembang menjadi satu seni yang hidup subur di masyarakat dalam bentuk seni tradisi Sandur.
Pencak Jokotole di Eropa
Pada tahun tujuh puluhan, Kejuaraan dunia pertama yang diselenggarakan di Singapura menempatkan anggota kontingen Indonesia sebagai salah satu juara dunia dan beliau itu adalah Bpk. Suheimy yang merupakan pendiri Perguruan Pencak Silat Jokotole Madura. Dengan kedudukan berpusat di Kamal, Kabupaten Bangkalan Madura, perguruan ini berkembang keseluruh penjuru Nusantara bahkan sampai ke benua Eropa. Tercatat dalam website buku tamu perguruan seni bela diri ini, cabang di negeri Belanda yang berkembang pesat dan menghasilkan murid-murid berprestasi dunia. Cabang utama dari perguruan Jokotole di Eropa terletak di Kota Harleem, negeri Belanda, yang sekarang di bawah asuhan Pendekar Paul J.D. Rovers.
Cabang Utama Harleem, berdiri pada awal tahun 80-an yang dirintis oleh Glenn Pennock seorang warga Negara Belanda. Sejak tahun-tahun itu, pencak silat Madura berkembang di Eropa. Pada tahun 1988, Jokotole Belanda berhasil berprestasi di invitasi pencak silat dunia dengan menjuarai lebih dari 15 kejuaraan di Eropa. Dalam Web resmi tersebut disebutkan bahwa hubungan cabang utama yang ada di Harleem dengan Perguruan Utama di kamal Madura adalah dalam bentuk latihan bersama yang dilakuan setiap tahun di Kamal Madura.
Seperti lazimnya olah raga bela diri lainnya, pencak silat Jokotole juga memiliki jenjang dalam pendidikannya. Terdapat lima tingkat utama yang harus dilalui oleh murid untuk mencapai yang disebut tingkat sempurna. Dimulai dari sabuk putih untuk pemula, kemudian sabuk kuning, merah, coklat dan yang terakhir sabuk hijau. untuk . Simbol-simbol warna tersebut dituangkan dengan apik dalam symbol perguruan pencak silat Jokotole yang berupa pintu gerbang yangdirengkuh oleh dua naga. Ditengah terdapat pecut dan tangga di depan pintu gerbangnya. Warna putih terletak pada anak tangga pertama, kemudian warna kuning, merah, coklat dan hijau. Web resmi Perguruan Pencak Silat Jokotole menjelaskan bahwa kelima warna itu adalah symbol panca indera yang dimiliki oleh manusia dan untuk mencapai kesempurnaan harus ditempuh dengan mendakinya. Atas tetaplah sebagai simbol kesempurnaan (Tim Rato Ebhu)

PENCAK SILAT GHUL-GHUL MADURA

Seni Pertarungan yang Memikat

Berbicara tentang Pencak Silat, maka yang ada di pelupuk mata adalah sebuah pertarungan yang menegangkan sekaligus mengasyikkan. Ketegangan itu dibangun ketika menyaksikan kecepatan serta keluwesan gerakan yang dipertontonkan oleh para pesilat. Konon, seni bela diri ini asli Indonesia dan telah menyebar merata di seluruh kepulauan nusantara. Bahkan melanglang sampai ke negara tetangga, Malaysia, Thailand dan Cina.
Seni bela diri Pencak Silat merupakan sebuah prosesi pertarungan yang melibatkan satu orang (tunggal), dua orang (berpasangan) atau lebih dalam sebuah arena. Dalam pertarungan Pencak Silat ini, ada yang menggunakan senjata tajam atau hanya menggunakan tangan kosong. Adapun gerakan yang paling spesifik dari Pencak Silat adalah lompatan-lompatan energik dan luwes, tangkas serta sedikit banyak mengandung unsur seni akrobatik. Disamping itu, gerakan-gerakan dalam Pencak Silat mempunyai persamaan dengan seni tari dari segi ketepatan gerak, gerak di udara dan seni pertarungan. Dan didalamnya terdapat tehnik pengendalian diri, baik dari segi mental dan fisikal.
Disamping menguasai tehnik bertarung yang mengandalkan kecekatan, ketangkasan dan kemahiran, para jawara silat biasanya membekali diri dan menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya. Penguasaan ilmu kekebalan tubuh ataupun ilmu tenaga dalam (kanoragan) diyakini akan mampu memberikan support kekuatan mental.
Selain digunakan dalam  pertarungan, gerakan-gerakan Pencak Silat sering dimodifikasi menjadi gerakan dasar tarian dalam genre kesenian. Pengaruh pola gerak Pencak Silat dapat diketemukan pada kesenian Topeng, Ludruk, tari laki-laki dalam tayub dan beberapa gaya hadrah. Pada umumnya, pemakaian acuan gerakan Pencak Silat berkenaan dengan pengungkapan tantangan, keberanian, kewiraan, kekuatan serta rasa percaya diri baik dari segi fisikal dan metal.
Penyebaran seni Pencak Silat di berbagai daerah di nusantara, ternyata mampu menciptakan gerakan-gerakan, gaya serta versi yang berbeda, sesuai dengan lingkungan, situasi dan kondisi daerah. Begitu pula yang terjadi di wilayah Sumenep, seni bela diri Pencak Silat pertama kali menjadi andalan para putra raja di lingkungan keraton, setelah itu menyebar di kalangan rakyat dan sangat diminati oleh kalangan pemuda. Pada akhirnya jenis seni Pencak Silat menjadi primadona di kalangan rakyat kebanyakan
Dalam perkembangannya, seni bela diri Pencak Silat mengalami pembaharuan yaitu dengan memasukkan unsur seni lainnya dalam setiap pementasan. Unsur tari dan unsur musik tersebut tidak mengurangi substansi dan nilai-nilai yang ada, bahkan cenderung memperkuat dengan kemasan gerakan-gerakan yang lebih indah. Masyarakat pencinta Pencak ini menamakan “Silat Ghul-Ghul”. Nama Ghul-Ghul berasal dari kependekan Guluk-Guluk.
Pencak Silat Ghul-Ghul pada awalnya dikembangkan di lingkungan pondok Pesantren, dan merupakan perpaduan antara pencak silat dan musikal. “Pencak” yang mempertontonkan kecekatan, ketangkasan dan ketahanan fisik serta ilmu tenaga dalam ini mampu diperagakan dalam gerakan-gerakan luwes, indah dan gemulai serta diiringi oleh hentikan alat musik gendang. Tidaklah mengherankan kalau perpaduan gerak tangkas dan gerakan luwes tarian tersebut mampu menarik minat serta menyedot perhatian masyarakat untuk mempelajarinya. Sehingga pada masa itu perkumpulan-perkumpulan silat Ghul-Ghul tumbuh bagai jamur di musim penghujan.
Modifikasi Berbagai Aliran Silat
Seperti halnya permainan Pencak silat pada umumnya, dasar-dasar dari gerakan silat adalah sama. Gerakan pencak yang dimainkan biasanya memodifikasi dari berbagai gerakan silat yang sudah ada, serta memainkan dari berbagai versi daerah. Pada umumnya para pesilat Ghul-Ghul didominasi pesilat laki-laki. Dalam setiap pementasan pesilat ini memperagakan gaya permainan yang sudah dibakukan, diantaranya ; gaya Malaju berasal dari Sumenep, gaya Bhabiyan berasal dari pulau Bawean, gaya Cemandik berasal dari Betawi dan gaya Pamor yang berasal dari Pamekasan.
Adapun ciri-ciri yang membedakan gerakan-gerakannya, sebagai berikut ;
  1. Gaya Malaju (Sumenep) gerakan dalam gaya ini sangatlah halus, luwes dan gemulai. Dibalik kehalusan dan keluwesan, setiap gerakan yang dimainkan mengandung tenaga dalam tinggi. Setiap tendangan yang dilontarkan mengandung jurus-jurus mematikan.
  2. Gaya Bhabiyan (Bawean), gaya permainan ini adalah perpaduan silat dan tari. Sehingga tidaklah mengherankan kalau gaya Bhabiyan  cenderung  pada gerakan-gerakan tarian dan keindahan penampilan. Tujuan dari permainan gaya ini adalah menciptakan suasana menyenangkan. Sehingga jurus-jurus yang dimainkan tidak mengandung tenaga dalam tinggi serta tendangan-tendangan yang dilontarkan tidak hebat dan mematikan.
  3. Gaya Cemandik (Betawi), gaya ini mirip gaya Bhabiyan, yaitu gerakan-gerakan silat cenderung pada gerakan tarian.  Namun dibalik keindahan dan keluwesan setiap gerakan, mengandung satu kekuatan tenaga dalam yang dahsyat dan mematikan.
  4. Gaya Pamor (Pamekasan), permainan dalam gaya ini cenderung kasar. Setiap gerakan yang dimainkan adalah mempertontonkan kepandaian dan ketangkasan bertarung. Namun dalam diri para pesilat tidak mempunyai/memiliki tenaga dalam dan jurus-jurus yang dimainkan tidak mematikan.  Oleh sebab itu, ketika tampil  para pesilat melengkapi penampilannya dengan senjata tajam, misalnya celurit. Alat tersebut digunakan untuk memamerkan keperkasaan.
Adapun alat musik pengiring permainan silat Ghul-Ghul, terdiri dari beberapa alat musik, yaitu  1 gendang besar, 3 gendang kecil (ketipung), 1 jidur dan 1 kerca. Adapun para penabuh terdiri dari 5 personel. Tujuan dari memasukkan unsur musik adalah memberikan semangat agar permainan silat Ghul-Ghul semakin menyenangkan dan menggairahkan.
Dalam setiap pementasan, unsur musik menjadi sangat dominan ketika mengikuti langkah-langkah kaki para pesilat saat berlaga. Permainan irama dalam musik pun beragam, disesuaikan dengan gaya yang dimainkan oleh para pesilat. Adapun irama musik yang dimainkan silat Ghul-Ghul pada saat pementasan, pertama, irama  Serama, yang terdiri dari dua unsur, Serama Teter dan Serama Biyasa,  kedua ; irama Bhabiyan, terdiri dari dua, yakni Bhabiyan Sumenebben dan Bhabiyan Palembhang.  Ketika  menampilkan pencak gaya Malaju, irama yang dimainkan adalah irama musik Serama, gaya Cemandik, diiringi irama Serama Teter, gaya Bhabiyan diiringi oleh irama Serama Teter, gaya Bhabiyan Sumenebben dan Bhabiyan Palembhang memakai irama Serama Teter. Untuk gaya Pamor, irama musik yang dimainkan adalah Serama Biyasa.
Ketika sedang beristirahat permainan musik tetap dimainkan, adapun nama irama-nya adalah ; Ayak Komedi, Ayak  Sampang, Polisiyan dan Tenggian.  instrumental yang didominasi pukulan gendang tersebut, ternyata mampu membangkitkan  kegairahan kepada para pesilat untuk lebih piawai menunjukkan kecepatan dan ketepatan pukulan sekaligus mempertontonkan kelenturan tubuh. Sehingga tontonan yang dikemas dalam pementasan tersebut semakin memikat.
Prosesi Pertunjukan
Komunitas pencinta Pencak Silat Ghul-Ghul hanya ada di wilayah kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep. Komunitas ini setiap setengah bulanan mengadakan pertemuan rutin dengan cara menampilkan acara Pencak di sebuah arena terbuka. Biasanya pementasan diadakan bergiliran sesuai dengan jadwal yang diatur, atau pada saat salah satu anggota memperoleh undian arisan. Selain itu perkumpulan tersebut sering diundang ketika seseorang sedang melaksanakan hajatan ataupun dalam acara pengajian. Tak jarang beberapa perkumpulan silat Ghul-Ghul tampil dalam satu arena, dengan tujuan adu kepandaian, kepiawaian dan kehebatan ketika tampil memainkan jurus-jurus silat mematikan. Meskipun tampil dalam satu arena permainan, keharmonisan antar perkumpulan tetap terjaga.
Dalam setiap penampilan arena yang dipergunakan menempati halaman yang sangat luas, serta didirikan sebuah panggung. Adapun prosesi penampilan dalam setiap pertemuan sebagai berikut ;
 Pertama adalah prakata yang disampaikan oleh ketua dan wakil ketua perkumpulan. Isi dari prakata tersebut adalah perkembangan perkumpulan silat serta tujuan diadakannya perkumpulan. Setelah itu acara dilanjutkan dengan penampilan atraksi Can-macanan (berkostum harimau, dimainkan oleh 1 atau 2 orang). Atraksi ini menampilkan kepandaian dan kemahiran melakukan gerakan-gerakan lompatan, bergulingan ataupun gerakan akrobatik. (Can-macanan mengadopsi dari budaya Cina, Barongsai). Adapun musik yang dimainkan dalam penampilan Can-macanan  adalah irama Serama Teter, tetapi tidak menggunakan alat musik Jidur
Setelah penampilan atraksi Can-macannan yang mendebarkan usai, para penonton disuguhi  penampilan pelawak, dengan memakai kostum badut. Penampilan para pelawak ini mampu mengocok perut penonton, sehingga suasana semakin hangat dan menyenangkan. Setelah acara lawakan usai, maka penampilan permainan silat dimulai. Pertama-tama yang tampil adalah permainan tunggal, 5 sampai 7 orang pesilat menampilkan permainan silat Kembhangan. Para pesilat tunggal ini, memperagakan berbagai macam kemahiran, ketangkasan serta keluwesan gerak.
Setelah penampilan silat Kembhangan selesai, maka inti permainan pertandingan dimulai. Para pesilat secara bergantian memamerkan ketangkasan, kehebatan tendangan dan jurus-jurus silat dengan kelenturan tubuh, gerak yang gemulai, indah mempesona. Walaupun dalam posisi bertanding, jurus-jurus yang dimainkan tidak sampai menimbulkan cedera pada lawan tanding. Karena kemahiran yang dipertontonkan dalam pertandingan tersebut hanya ber-tujuan melihat perkembangan kemampuan para pesilat dalam satu perkumpulan.
Pada acara inti pertandingan silat Ghul-Ghul, terkadang ada beberapa pesilat dari perkumpulan lain  mengambil bagian memamerkan kemahirannya bermain silat. Walaupun dalam posisi bertanding, para petanding lebih mengutamakan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan. Sehingga kehebatan dan kepiawaian dalam menguasai berbagai gaya ilmu silat, hanya dipamerkan dalam bentuk gerakan-gerakan tanpa menciderai lawan tanding, karena pertandingan tersebut tidak bertujuan mencari pemenang.
Silat Ghul-Ghul merupakan sebuah media menjalin tali ukhuwah Islamiyah. Maka tidak mengherankan perkumpulan-perkumpulan yang ada di setiap desa sering mengadakan pertunjukan bersama atau saling mengundang. Di samping itu silat Ghul-Ghul sering dipentaskan apabila merayakan hari-hari besar Islam ataupun diundang dalam acara hajatan.
Adapun pakaian yang dikenakan oleh para pesilat biasanya memakai seragam satu warna, yaitu hitam-hitam atau putih-putih. Dengan model baju longgar, celana longgar serta aksesoris lain seperti ikat kepala. Untuk para penabuh pakaian yang dikenakan berwarna hitam-hitam, celana sebatas lutut (komprang), dipadu kaos bergaris (warna merah-putih), dengan aksesoris lainnya, pemakaian odheng serta kain ikat di bagian pinggang.
Sebagai Sarana Silaturahmi
Konon kabarnya, dekade tahun 60-an sampai dengan 70-an, perkumpulan-perkumpulan silat Ghul-Ghul hampir merata ada di setiap desa dalam wilayah kecamatan Guluk-Guluk. Perkumpulan-perkumpulan tersebut biasanya dipimpin oleh seorang jawara (guru silat) yang mumpuni dan kondang. Di tempat perkumpulan itulah, para pesilat muda digodok mempelajari jurus-jurus silat dan media arisan digunakan sebagai tali pengikat antar sesama anggota. Pertemuan rutin diadakan setiap setengah bulanan atau setiap bulan sekali. Dalam pertemuan tersebut diperagakan keahlian dan kepandaian pesilat muda, sekaligus sebagai arena untuk menguji sejauh mana pesilat muda mampu menyerap ilmu yang disampaikan oleh sang guru.
Saat ini komunitas pencinta Pencak Silat Ghul-Ghul hanya tinggal hitungan jari. Untuk pelestariannya, para jawara (jago) senior mulai merekrut kaum muda untuk mempelajari serta menggeluti seni bela diri ini. Sehingga tidaklah mengherankan, kalau atraksi ini masih dapat disaksikan ketika ada hajatan, ataupun saat-saat gebyar meriah memperingati hari besar Nasional, tujuh-belasan. Dalam acara tersebut biasanya para jagoan, baik secara individu maupun kelompok turun gunung memamerkan ketangkasan, kelincahan, kegesitan sekaligus kelenturan, keindahan gerakan dalam satu arena. Menjadi komoditas tontonan yang sangat apik, menarik dan memikat.

SEJARAH ALIRAN SILAT INDONESIA








Terdapat 4 aspek utama dalam pencak silat, yaitu:
1. Aspek Mental Spiritual: Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat zaman dahulu seringkali harus melewati tahapan semadi, tapa, atau aspek kebatinan lain untuk mencapai tingkat tertinggi keilmuannya.
2. Aspek Seni Budaya: Budaya dan permainan “seni” pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.
3. Aspek Bela Diri: Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.
4. Aspek Olah Raga: Ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regu.
Bentuk pencak silat dan padepokannya (tempat berlatihnya) berbeda satu sama lain, sesuai dengan aspek-aspek yang ditekankan. Banyak aliran yang menemukan asalnya dari pengamatan atas perkelahian binatang liar. Silat-silat harimau dan monyet ialah contoh dari aliran-aliran tersebut. Adapula yang berpendapat bahwa aspek bela diri dan olah raga, baik fisik maupun pernapasan, adalah awal dari pengembangan silat. Aspek olah raga dan aspek bela diri inilah yang telah membuat pencak silat menjadi terkenal di Eropa.
Bagaimanapun, banyak yang berpendapat bahwa pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dipermudah, saat pencak silat bergabung pada dunia olah raga. Oleh karena itu, sebagian praktisi silat tetap memfokuskan pada bentuk tradisional atau spiritual dari pencak silat, dan tidak mengikuti keanggotaan dan peraturan yang ditempuh oleh Persilat, sebagai organisasi pengatur pencak silat sedunia.
SEJARAH BEBERAPA ALIRAN SILAT :
Sejarah beberapa aliran/perguruan silat berikut ini dikutip dari beberapa sumber. Penulis tidak dalam kapasitas menilai kebenaran fakta sejarah yang disampaikan
I. SEJARAH ALIRAN SILAT SERA
(sumber : http://sahabatsilat.com/forum/aliran-pencaksilat/sejarah-aliran-silat-sera/)
“Bismillahirrahmanirrahim”
Sejarah Singkat Aliran Silat Sera (Berkembang menjadi Perguruan Pencak Silat Pancassera) Sumber : H. Cucu Sutarya, SH (Guru Besar/Pembina Utama).
Bermula dari kabilah-kabilah Gujarat Persia yang pada abad ke XVI dating ke daerah aceh, selain berniaga mereka juga membawa dan menyebarkan agama serta kebudayaan Islam. Pada abad ini agama Islam mulai masuk ke tanah Aceh. Saudagar-saudagar tersebut mendapat pengetahuan agama dan kebudayaan dari Syekh Sayyidina Ali r.a. Beliau adalah sahabat dan sekaligus menantu Rasulullah Muhammad SAW. Beliau dikenal sebagai seorang ahli dalam strategi perang, terampil dalam mengolah raga, terutama dalam permainan pedangnya yang selalu membuat ciut nyali lawan-lawannya, terutama musuh Islam pada saat itu. Tak heran jika kemudian beliau dijuluki dengan julukan Syaifullah ( Si Pedang Allah).
Saudagar-saudagar inilah yang membawa pengetahuan agama dan kebudayaan itu hingga
sampai ke tanah Aceh. Hubungan mereka dengan penduduk asli terjalin dengan baik, terbukti kemudian dengan munculnya seorang tokoh sufi setempat yang dikenal dengan sebutan Nyai Panjate. Nama asli Nyai Panjate adalah Hajja Cut Suriah binti Teuku Syamannur. Suaminya bernama H.Teuku Kaharuddin Solehuddin. Kedua suami istri tersebut mempelajari ilmu agama dan kebudayaan (ilmu silat) dari Kabilah Gujarat Persia. Salah seorang guru mereka adalah murid dari keturunan murid Syekh Sayyidina Ali r.a (Wallahu alam).
Ketika tentara kolonial Belanda (VOC) masuk ke tanah Aceh pada tahun 1752 M, kedua suami istri tersebut bekerjasama dengan para pendekar silat lainnya mengadakan perlawanan bersama rakyat untuk mengusir tentara belanda dari bumi Aceh. Pada mulanya mereka berhasil memukul mundur pasukan Belanda, namun dengan siasat licik dengan cara mengadu domba diantara rakyat Aceh, maka tentara Belanda dapat mengetahui kelemahan suami Cut Suriah tersebut. Akhirnya pada saat yang naas bagi Teuku Kaharuddin Solehuddin, Belanda dapat menembak roboh beliau dengan peluru emas, maka gugurlah beliau sebagai seorang syuhada.
Setelah suaminya gugur, Hj. Cut Suriah hijrah ke dalam hutan + 35 km ke pedalaman daerah Bireun. Beliau mengasingkan diri sebagai seorang sufi. Pada waktu sedang hamil muda + 2 bulan. Dalam kehidupan sebagai seorang sufi kebutuhan hidup beliau bergantung kepada alam di sekitarnya. Sesekali beliau berburu dengan alat sedanya, beliau sering menolong orang-orang yang sedang mencari kayu atau hasil hutan lainnya, yang sering digangggu binatang buas seperti harimau, ular, buaya dan lain sebagainya. Sudah sering beliau menyelamatkan orang yang diganggu binatang buas, kemudian lenyap tanpa meningggalkan jejak. Dari mulut ke mulut orang-orang yang pernah ditolongnya mengatakan bahwa adanya wanita berkerudung rapi dengan ilmu silatnya yang tinggi sanggup melumpuhkan binatang buas yang menyerang para pencari hasil hutan, hanya dengan beberapa gerakan saja. Yang karena keahliannya yang sangat mengagumkan sehingga terkenal sebagai seorang wanita berkerudung yang misterius sering menolong tanpa pamrih, kemudian pergi tanpa diketahui identitasnya. Sifat pendekarnya
membuat dicari orang untuk berguru, tetapi karena yang masih buas sehingga banyak yang menjadi korban sebelum sampai ke tujuan.
Sekitar abad ke XVII, datanglah seorang laki-laki bernama Bapak Sera, beliau adalah seorang yang gemar sekali bertualang. Dalam petualangannya beliau banyak sekali menimba ilmu agama dan silat dari berbagai daerah, disamping berniaga sebagai mata pencariannya. Beliau selalu merasa bahwa ilmunya masih saja kurang. Ketika beliau sedang berada di daerah Riau, beliau mendengar berita yang tersiar akan keperkasaan wanita meisterius itu yang membuat Bapak Sera bertekad untuk mencarinya ke tanah Aceh. Untuk mencapai tujuannya, tentu saja harus melalui perjuangan yang amat berat, harus bertarung dengan harimau, ular, babi hutan, begitu juga harus berhadapan dengan buaya setiap menyeberangi sungai. Jarak yang hanya sekitar 30 km itu harus dicapai selama 3 bulan. Seandainya tidak berbekal ilmu silat, mustahil dapat mencapai tujuan.
Rupanya segala sepak terjang Bapak Sera sudah diketahui oleh Ibu Hj. Cut Suriah. Ketika
Bapak Sera sedang tertidur lelap terdengar suara takbir adzan dari Hj. Cut Suriah yang
dikeraskan, tanda waktu shalat Shubuh telah tiba. Dari atas pohon besar Bapak Sera melihat seorang berkerudung kuning dengan menggendong anak dipunggungnya turun, untuk melaksanakan Shalat Shubuh. Kemudian Bapak Sera pun turun daripohon dan mengucap salam, dibalas salamnya. Kemudian mereka melakukan shalat dengan berjamaah. Sebagai seorang pendekar dan ahli sufi, semua sepak terjang dan tujuan dari Bapak Sera sudah diketahui oleh Hj. Cut Suriah. Sekitar tiga bulan Bapak Sera melayani Hj. Cut Suriah, barulah dengan perjuangan yang ulet mulailah diajarkan ilmu silat oleh Hj. Cut Suriah pada siang hari dan ilmu agama pada malam harinya. Setelah sekitar satu setengah tahun Bapak Sera berlatih, datanglah seorang pemuda yang terdampar, konon khabarnya dari tanah Sulawesi, bernama Lago dan menjadi adik seperguruan dari Bapak Sera.
Kurang lebih 6 tahun berguru kepada Hj. Cut Suriah, Bapak Sera baru mengetahui nama asli gurunya tersebut. Nyai Panjate adalah julukan yang diberikan Bapak Sera, karena setiap menyusui anak perempuannya dengan terbungkus rapi selalu dikebelakangkan. Hj. Cut Suriah bersumpah bahwa putrinya itu tidak akan pernah dilatihilmu silat. Atasm anjuran Sang Guru, Bapak Sera dan Bapak Lagoa dianjurkan untuk kembali pulang ke tanah asalnya karena ilmu yang didapat telah dinilai cukup. Mereka kembali ke tanah Jawa, Bapak Sera ke Bogor dan Bapak Sera ke Tanjung Priuk, tepatnya daerah Lagoa sekarang, daerah itupun berasal dari nama beliau karena wafat dan dimakamkan disana.
Dalam pengembaraannya, Bapak Sera bertemu dengan dengan seorang pedagang kain dari
Mongol yang bernama Yu Sak Liong, yang kemudian menjadi majikan Bapak Sera dalam
berniaga. Bah Yu Sak Liong adalah seorang Muslim yang lebih dikenal dengan nama Bah Yusa. Mereka berniaga berkeliling sampai ke tanah Aceh. Awal perkenalan mereka dimulai ketika saat Bapak Sera sedang menurunkan bal gulungan kain, tiba-tiba, satu gulungan kain tersebut jatuh dan akan menimpa dirinya. Namun dengan gerakan tangannya, Bapak Sera berhasil menagkis bal gulungan kain tersebut, hingga bal gulungan kain tersebut yang beratnya puluhan kilo tersebut mental terkena tangkisannya dan tak sengaja melayang menuju kea rah Bah Yusa. Namun dengan gerakan kakinya, Bah Yusa menyambut bal gulungan kain tersebut dan menendangnya kearah tempat semula. Bah Yusa sangat kagum menyaksikan gerakan Bapak Sera yang hanya dengan sedikit saja menggerakan tangan, dapat menyelamatkan diri, karena jika orang lain yang mengalaminya pasti sudah cedera berat. Akhirnya mereka berkenalan dan sepakat untuk tukar pikiran dalam hal ilmu mereka masing-masing.
Bah Yu Sak Liong ahli dalam beladiri menggunakan kaki sesuai dengan negeri asalnya yakni Mongol, sedangkan Bapak Sera ahli dalam menggunakan tangan. Mereka mengadu ilmu kurang lebih tiga hari tiga malam, dengan istirahat untuk mengerjakan shalat. Tak ada yang unggul dalam adu ilmu tersebut, Bah Yu Sak Liong hangus kakinya, sedangkan Bapak Sera hangus pula tangannya. Akhirnya mereka sepakat untuk mengabungkan ilmu mereka. Sejak saat itu maka bertambahlah ilmu silat Bapak Sera dan Bah Yu Sak Liong. Ilmu mereka kemudian dikenal dengan Aliran Sera, sesuai dengan nama penemunya yaitu Bapak Sera. Bah Yu Sak Liong kemudian kembali ke Mongol dan Bapk Sera meneruskan pengembaraannya.
Suatu ketika Bapak Sera menyaksikan seorang pedagang kain keliling dari Cina Shantung
sedang dikeroyok olehsekelompok penyamun yang bermaksud merampoknya, namun Cina tersebut dengan gesit dan lincah dapat mengalahkan para penyamun tersebut dengan hanya bersenjatakan meteran kainnya sebagai senjata toya. Permainan toyanya sangat
mengagumkan, sampai-sampai bapak sera tidak beranjak dari tempatnya menyaksikan
permainannya. Namun naas bagi Cina tersebut, ketika sedang bertarung, kakinya dipatuk
seekor ular berbisa. Dia pinsan dan ditolong dan diobati oleh Bapak Sera hingga sembuh.
Sebagaitanda terima kasih, Cina tersebut meberikan seluruh kain dagangannya kepada Bapak Sera, namun ditolak, meskipun demikian Bapak Sera tidak dapat menyembunyikan
keinginannya untuk belajar ilmu toyanya. Maka dengan senang hati Cina Shantung tersebut mengajarkan ilmu toyanya kepada Bapak Sera dan dalam waktu singkat telah dapat dapat menguasai ilmu toya tersebut. Malah sebelum Cina Shantung tersebut kembali ke negeri asalnya, dia berkenan menurunkan seluruh ilmunya kepada Bapak Sera dan mereka berdua mengangkat saudara. Bapak Sera mengembangkan ilmunya sesuai dengan keadaan waktu itu, konon khabarnya beliau bermukim hingga wafat
dimakamkan di Tegal Harendong Rumpin Ciampea Bogor.
Salah seorang murid Bapak Sera yang paling menonjol adalah Bapak Mursyid atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bah Ocid yang berasal dari Kebonmanggis. Beliau inilah
yangmengembangkan Aliran Sera pada abad ke XVIII di daerah Bogor dan sekitarnya. Ciri-ciri fisik Bah Ocid, tinggi sekitar 157 cm, rambut panjang sebahu, kuku tangan dan kaki sekitar 7 cm, sehingga kalau berjalan, aka nada bekas kuku kakinya menggores jalan yang dilaluinya. Tak banyak hal ikhwal Bah Ocid, untuk lembih komplitnya kami masih berusaha mencari datanya dari berbagai sumber.
Konon Bah Ocid ini selain menguasai Silat Sera, juga mempelajari ilmu istijrad. Kuku tangan dan kakinya dibiarkan panjang karena tak bias dipotong, begitu pula rambutnya, mandi hanya dapat dilakukan setahun sekali yakni pada Bulan Maulud, hal ini disebabkan ilmu istijradnya tersebut yang menyebabkannya. Pantangan ini kalau dilanggar akan menyebabkan badan Bah Ocid menjadi hitam dan gatal-gatal. Jika Bah Ocid sedang tidur, tak seorangpun berani membangunkannya, sebab dapat berakibat fatal, karena refleknya yang sudah menyatu, walaupun sedang tidur, Bah Ocid dapat membuat orang yang
membangunkannya jatuh tunggang langgang. Kalau terpaksa orang yang membangunkannya harus memakai galah atau tongkat panjang, itupun bisa patah-patah karena refleknya.
Sepengetahuan Bapak Sera bahwa Hj. Cut Suriah tidak pernah mengajarkan ilmu hitam,
adapun ilmu-ilmu hitam yang dipunyai oleh Guru-guru Sera adalah hasil pelajaran dari Guruguru sebelumnya, karena berguru Silat Sera, fisik harus kuat dahulu, seperti Bah Ocid, sebelumnya sudah mempunyai ilmu kebal, kejayaan, Batara Karang dan lain sebagainya.
Peristiwa Bapak Sera rupanya juga dialami oleh Bah Ocid, yakni pernah mengadu ilmu dengan seorang Cina seorang pedagang koyo bernama Babah Tong, yang juga mahir ilmu silat. Merekamengadu ilmu di pinggir kali Cipakancilan di Jalan Paledang, di depan Asrama Tentara yang sekarang menjadi Kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi. Babah Tong mengakui keunggulan Bah Ocid, setelah itu hubungan mereka tetap berjalan baik. Babah Tong menganggap Bah Ocid sebagai kakak sperguruannya. Kata Pabaton sekarang adalah berasal dari nama beliau, karena tinggal disana. Bah Ocid banyak mempunyai murid, tetapi jarang yang sampai kepada ajaran terakhirnya yaitu yang disebut Sera Geni, Gerak Rasa Sera, Rasa Diri Sera dan Sera Manjak Pamungkas, yang merupakan filsafat Silat Sera. Kebanyakan hanya sampai pada Langkah Opat Lipet, Kombinasi dan Tilu Eusi (Tiga Isi) beserta fungsinya atau istilah Ajaran Sera disebut Rusiah (Rahasia).
Dalam hal ini hanya Bapak H. Ali Yoenoes Bin Kartadiredja, yang sampai kepada Langkah
Pamungkas. Beliau sebelum menjadi murid Silat Sera dari Bah Ocid terlebih dahulu banyak
belajar dari guru-guru silat terkenal di seluruh Tanah Jawa, diepkirakan tidak kurang dari 11 (sebelas) orang gurunya. Dengan bermodalkan silat-silat itulah baru dapat berguru kepada Bah Ocid, konon khabarnya, setiap beradu fisik dengan Bah Ocid, kalau tidak berilmu tentulah anggota badan yang terkena benturan akan menjadi hitam legam (tampak hangus). Bapak H. Ali Yoenoes berasal dari Jombang, Jawa Timur, beliau malang melintang di dunia persilatan sejak abad ke XVII dan XIX, karena beliau panjang umurnya sampai mencapai usia 103 tahun.Beliau pernah dicoba oleh para pendekar berbagai daerah, namun Alhamdulillah belum pernah kalah. Dahulu Pemerintah Kolonial Belanda sengaja mengadu domba para pendekar silat. Mereka diharuskan bertarung sampai mati, dengan perjanjian tidak ada tuntutan apapun dari pihak keluarga korban, dibawah panggung sudah disediakan keranda mayat. Belanda sengaja mengadakan hal tersebut dengan maksud agar para pendekar silat tersebut tumpas dengan sendirinya, hingga tidak ada yang ditakuti lagi oleh pihak Belanda. Acara tersebut diadakan setiap tahun bertempat di dalam Istana Kebun Raya Bogor, dalam memperingati Ulang Tahun Ratu Belanda, Ratu Wilhemina.
Pada awal mulanya Bapak H. Ali Yoenoes tidak menyadari siasat licik dari pihak Belanda
tersebut, maka pada setiap bertanding beliau pasti membunuh lawannya, tak kurang, 19 orang mati ditangannya. Tetapi akhirnya beliau menyadari akan hal ini, maka setiap kali bertarung, beliau tidak sampai membunuh lawannya yang kalah, namun cukup hanya dilukai saja dan kemudian menyuruh lawannya tersebut untuk melarikan diri. Tindakan ini lama kelamaan tercium juga oleh pihak Belanda dan akhirnya Bapak H. Ali Yoenoes untuk selanjutnya tidak diperkenankan ikut pertandingan lagi, malahan beliau ditahan selamapertandingan berlangsung. Para pendekar yang beliau selamatkan pada pertandingan tersebut, setiap Hari Idhul Fitri dan Bulan Maulud selalu berkumpul dan bersilaturahmi di rumah Bapak H. Ali Yoenoes di Gang Selot Paledang, sebagai rasa syukur dan tanda terima kasih telah 31 diselamatkan nyawanya. Bapak H. Ali Yoenoes belajar silat pada Bah Ocid sekitar 9 tahun dan beliau melatih selama 21 tahun.
Bapak H. Ali Yoenoes menunaikan ibadah haji pada tahun 1969. Salah seorang putra beliau
yang turut mengembangkan Silat Sera adalah Bapak Abdulrachman, atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Komang dan di dunia persilatan dijuluki Si Girimis, karena kecepatan tangan beliau yang kalau mencecar lawan seperti hujan gerimis, putra lainnya adalah H. Rachmat atau lebih dikenal dengan nama Pak Memet. Bapak H. Ali Yoenoes bin Kartadiredja meninggal pada tahun 1971 dalam usia 103 tahun, yang kemudian disusul oleh putranya yakni Bapak Abdulrachman pada tahun 1983 dalam usia 64 tahun.
Salah satu murid yang dilatih oleh Bapak H. Ali Yoenoes dan Pak Komang adalah Bapak H.
Cucu Sutarya, SH Bin Tubagus Baban Sidik Ismaya. Beliau mulai berlatih pada Bapak H. Ali Yoenoes sejak tahun 1957 hingga tahun 1968 dan mengembangkannya hingga sekarang. Bapak H. Cucu Sutarya, SH menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun 1998, sekitar bulan Maret-April (Tahun 1418 Hijriah). Beliau pernah pula menimba ilmu dari berbagai sumber lain seperti karate (Dan II Internasional) yudo, tinju (pernah juara tinju kelas bantam pada PON di Surabaya), kuntau, yuyitszu, dan silat dari perguruan lain seperti Aliran Cikalong, Syahbandar, Pamacan, Cimande, Ajrak. Hal ini dilakukan atas anjuran dari Bapak H. Ali Yoenoes sebagai bahan pembanding dan sebagai ilmu tambahan saja, tetapi loyalitas tetaplah terpusat pada Silat Sera yang kemudian beliau kembangkan menjadi Perguruan Pencak Silat PANCASSERA (Lima Silat Sera, yaitu Sera Banyu, Sera Ringkus, Sera Bayu, Sera Putih dan Sera Geni). Khusus untuk para Pelatih diajarkan Gerak Rasa dan Rasa Diri sebagai Langkah (Jurus Panjang) terakhir dari Aliran Silat Sera. Bapak H. Cucu Sutarya, SH mendapat kepercayaan langsung dari Bapak H. Ali Yoenoes untuk meneruskan perguruan. Beliau resmi mulai melatih sejak tahun 1968 di Bandung dan di Garut, kemudian di Bogor sampai sekarang. Hanya kepada beliaulah Bapak H. Ali Yoenoes menurunkan seluruh ilmunya hingga tuntas untuk dikembangkan dan diteruskan. Dengan demikian pewaris dan penerus satu-satunya adalah Bapak H. Cucu Sutarya,SH.
Guru-guru lain dari Bapak H. Cucu Sutarya, SH adalah :
1. H. Adra’I Cianjur Selatan (Pengurutan dan Patah Tulang)
2. Kyai H. Baing Bakri Pasarean Cianjur (Cikalong)
3. Bah Rumanta Garut (Syahbandar)
4. Bah Djadja Gunungbatu Bogor (Pamacan)
5. Bah Maun Dreded Bondongan (Sera Pamacan)
6. Bah Enuh Tarogong Garut (Ajrak)
7. Liem Sen Thong Bogor (Kuntau dan Akunktur)
8. Meneer Ong Bogor (Yudo dan Yuyitszu)
9. Mr. Matsunaga Osaka Jepang (Karate)
10. Endang Ukaedi Bogor (Tinju)
Perguruan Silat Pancassera menjadi anggota IPSI pada tahun 1976. Sampai saat ini
perguruan telah banyak berkembang, bahkan sampai keluar Pulau Jawa yakni di Kalimantan dan Maros, Sulawesi Selatan. Di Jawa sendiri Silat Sera tersebar luas, mulai dari Garut, Bandung, Bogor, Sukabumi, Depok, Jakarta dan di mancanegara di Amerika Serikat, Norwegia dan khusus di Belanda ada murid Bapak H. Ali Yoenoes yaitu Keluarga Van de Vries.
Pada perguruan Silat Pancassera khusus diajarkan :
• Ilmu beladiri Sera tangan kosong
• Ilmu beladiri senjata : golok tunggal, golok ganda, gobang (sejenis pedang), gada, toya
panjang, toya pendek, ruyung pendek, ruyung panjang, toya pendek, toya panjang, trisula,
tongkat rantai dua, rantai tiga (double stick, triple stick), pisau terbang, cambuk, cemeti, clurit dan kombinasi senjata-senjata tersebut)
• Pengurutan keseleo, patah tulang.
• Tusuk jari, tusuk jarum (akupunktur.
• Peramuan obat-obatan tradisional.
• Seni pernapasan

Aliran dan Perguruan Silat di Indonesia

  • HASDI (Himpunan Anggota Silat Dasar Indonesia) - didirikan oleh Bapak RS. Hasdijatmiko pada tahun 1961, yang berpusat di Jember Jawa Timur, merupakan perguruan silat yang mengembangkan tekhnik gerak silat cepat dan lugas.
  • PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) didirikan oleh Ki Hajar Harjo Utomo di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Madiun pada tahun 1922, merupakan perguruan silat yang mengajarkan kesetiaan pada hati sanubari sendiri yang bersandarkan pada Tuhan Yang Maha Esa. Perguruan ini mengutamakan persaudaraan dan berbentuk sebuah organisasi.
  • Silat Perisai Diri – teknik silat Indonesia yang diciptakan oleh Pak Dirdjo (mendapat penghargaan pemerintah sebagai Pendekar Purna Utama) yang pernah mempelajari lebih dari 150 aliran silat nusantara dan mempelajari aliran kungfu siauw liem sie (shaolin) selama 13 tahun. Teknik praktis dan efektif berdasar pada elakan yang sulit ditangkap dan serangan perlawanan kekuatan maksimum. Saat ini merupakan silat yang paling dikenal dan banyak anggotanya di Australia, Eropa, Jepang dan Amerika Serikat, lihat pula: Perisai Diri Cabang Bandung
  • Silat Riksa Budi Kiwari- Perguruan ini didirikan oleh Pak Ujang Jayadiman pada tahun 1982 di Bandung. Meskipun usia perguruan ini tergolong masih muda,namun telah mencetak banyak atlet-atlet berprestasi baik di tingkat Nasional maupun Internasional.
  • Silat Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria - organisasi pencak silat bernafaskan agama Katolik, didirikan oleh 7 dewan pendiri, termasuk Rm. Hadi,Pr. dan Rm. Sandharma Akbar,Pr.
  • Pencak Silat Siwah - aliran silat asli yang berasal dari daerah Nanggroe Aceh Darussalam yang memadukan empat aliran asli Aceh yaitu dari 1.Peureulak ,2. Aceh Besar (Keudee Bing - Lhok Nga), 3. Pasee, 4. Pidie)
  • Silat Merpati Putih - perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong (PPS Betako)
  • Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah - organisasi pencak silat yang menjadi wadah pendekar-pendekar yang berada di lingkungan Muhammadiyah
  • Silat Zulfikari – ajaran bela diri dari Qadiri Rifai Tariqa
  • Pukulan Bongkot – suatu aliran silat
  • Pencak Silat Sharaf (Silat Mubai) - Merupakan aliran silat modern yang benar-benar agresif. Menekankan pengajaran pada pertarungan tangan kosong, pisau, bagaimana cara mengatasi senjata api dan gulat.
  • Silat Hikmatul Iman Indonesia - perguruan beladiri yang didirikan oleh Dicky Zainal Arifin. Merupakan aliran silat tersendiri tanpa pengaruh dari aliran manapun.
  • Silat Elang Putih - perguruan beladiri yang bertempat di Bogor). Merupakan aliran silat yang terdiri dari gabungan pencak silat aliran di Jawa Barat.
  • Pusaka Sakti Mataram Lakutama PPS Inti Ombak - perguruan pencak silat yang mengaju pada zaman mataram jogja dan bercampur dengan aliran madura berkembang dengan tujuan pelestarian budaya bangsa.
  • Pencak Silat Pertempuran – aliran silat yang terdiri dari gabungan beberapa aliran, terutama Pencak Silat Pamur dan Silat Sterlak. Pengaruh silat Indo-Melayu lainnya termasuk: Seni Bela Diri Silat Jati Wisesa dan Raja Monyet Silat
  • Pencak Silat Gerakan Suci – merupakan pengembangan dari Pencak Silat Mande Muda
  • Pencak Silat Tri Bela - merupakan gabungan dari tiga aliran Pencak Silat, IPSI, dan dua aliran tradisional. Tri Bela adalah perguruan pencak silat olah raga dan kesehatan yang merupakan sebuah unit kegiatan di IKIP Padang (Fakultas Pendidikan Olah Raga)
  • Pencak Silat Maung lugay( harimau manggariak)-merupakan perguruaan yang berasal dari jakarta utara tepatnya di rawa badak yang sekarang di buka cabangnya di padang juga pasaman(sumbar) yang mana gurunya adalah adrisman.
Riau-Siak
  • Perguruan Pencak Silat Mutiara Panca Rasa - Ilmu – ilmu yang dipelajarinya adalah Ilmu Agama Islam serta Ilmu Pencak Silat Aliran Pengian dan Ilmu Pencak Silat Aliran inangkabau serta Ilmu Pencak Silat Aliran Gerak Pengelat yang dijaga keasliannya walaupun sudah mengalami perubahan sesuai keadaan zaman. Bertitik tolak dari sisi dan jiwa amanat sang guru kepada putranya yaitu Tengku Fuad Al – Zakiyat Azhar di suatu senja latihan. Berbekal ilmu pencak silat & agama yang diperoleh langsung dari guru – gurunya dan setelah mendapat mandat secara gaib ( berupa bayang bayang ) dari ayahandanya Datuk Panglima Bahroem Azhar, yang isinya iyalah : “ ……. Saat ini aku merasa ada harapan meneruskan ilmu yang kumiliki ini kepadamu. Akan tetapi bukan berarti sampai di sini tugasmu ! Mulai saat ini kita harus memberanikan diri mengamalkan ilmu tersebut demi kepentingan orang banyak. Artinya, ilmu ini tidak hanya diturunkan kepada keluarga saja, melainkan dikembangkan juga untuk kepentingan masyarakat ….. “ Sejak itu, disusunlah suatu bentuk organisasi yang merupakan wadah keanggotaan dengan nama Perguruan Pencak Silat MUTIARA PANCA RASA , dengan Doktrin Perguruan yaitu MUTIARA PANCA RASA, yang merupakan kepanjangan dari : Menyerang Tanpa Tentara, Berperang Tanpa Senjata, Menang Tanpa Pujian, Berjuang Lillahi taa’lla Yang bermaknanya iyalah : Jadilah dirimu Engkau adalah dirimu sendiri. Dan takut kepada ALLAH, selalu Waspada serta ingat “ Diatas Langit Masih Ada Langit “ Artinya : “ Kalau Ada Orang Yang Mengaku Pandai Masih Ada Orang Yang Lebih Pandai lagi “.
     Minangkabau
Di Ranah Minangkabau, istilah pencak silat memiliki dua pengertian. Untuk beladiri, masyarakat Minangkabau hanya menyebut istilah silek (silat), sedangkan pencak (pancak, mancak) digunakan untuk pertunjukan silat yang lebih mementingkan aspek keindahan atau disebut juga dengan silat seni.
  • Silat Tuo - Aliran silat yang dianggap paling tua yang turun dari daerah Pariangan, Padang Panjang, tapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa silat ini mulanya dikembangkan oleh Tuanku Nan Tuo, salah seorang anggota Harimau Nan Salapan atau golongan paderi. Jika pendapat ini diterima, maka "Silat Tuo" di Minangkabau terinspirasi dari gerakan binatang seperti harimau, buaya dan kucing.
  • Silat Bungo - salah satu aliran silat Minang yang menekankan gerak pada aplikasi seni pencak silat, silat ini bukan untuk bertempur, melainkan untuk peragaaan di acara-acara adat atau acara formal lain.
  • Silat Sitaralak, Sterlak, Starlak - aliran silat keras dan kuat dari Minangkabau, dikembangkan oleh Ulud Bagindo Chatib (1865) dari Kamang (dekat Bukittinggi), Kabupaten Agam, berkembang sampai ke wilayah Sawahlunto. Ada pendapat yang mengatakan bahwa aliran ini dirancang untuk menghadapi gerakan Silat Tuo. Gerakan Silat Tuo terinspirasi dari gerakan-gerakan binatang seperti harimau, kucing, dan buaya. Karakter khas silat jenis ini adalah menyerang disaat lawan akan menyerang. Silat ini menyebar dan berkembang di Malaysia dan terus ke Amerika.
  • Silat Kumango - salah satu aliran silat di Minangkabau yang dikembangkan oleh Syeikh Kumango, dari nagari Kumango, Batusangkar, Kab. Tanah Datar
  • Silat Kota Anau - aliran silat daerah Koto Anau, Solok yang merupakan daerah pertahanan Minangkabau di masa dahulunya yang menghubungkan antara Pagaruyung sebagai pusat kerajaan dan Bayang, Pesisir Selatan .
  • Silat Pauah (Pauah) - aliran silat di Minangkabau yang berasal dari kampung Pauah, Kota Padang. Silat ini adalah silat termuda dan ada yang menganggap merupakan sari atau kompilasi (gabungan) dari hampir semua aliran silat yang ada di Minangkabau, silat ini khusus untuk berperang, sebab di Pauah, Padang merupakan salah satu basis perjuangan masyarakat Minangkabau melawan penjajah di masa dahulunya.
  • Silat Harimau - salah satu aliran silat di Minangkabau yang menekankan pada permainan bawah.
  • Silat Buayo (Buaya) - aliran silat di Minangkabau yang terinspirasi dari gerakan buaya, bermain rendah, aliran ini berkembang di Pesisir Selatan.
  • Silat Pangian - awalnya berasal dari wilayah Lintau dan sekitarnya yang dimiliki petinggi kerajaan Minangkabau. Silat ini berkembang di rantau Minangkabau, Kuantan, Propinsi Riau
  • Silat Duduk - salah satu aliran silat yang menekankan bermain silat dalam keadaan duduk atau rendah, namun silat duduk bisa juga memiliki pengertian lain, bahwa di sini murid tidak berlatih silat secara fisik, namun mengembangkan nalar dan logika.
  • Silat Sabandar - adalah silat yang berasal dari daerah Pagaruyung, Sumatera Barat, namun dikembangkan di Kampung Sabandar, Karangtengah, Cianjur.
  • Silat Buah Tarok - salah satu aliran silat di Minangkabau yang berasal dari Bayang, Pesisir Selatan. Salah satu peguruannya ada di Aur Duri Padang dengan nama peguruan Salimbado-Buah Tarok, dibawah asuhan Emral Djamal Datuak Rajo Mudo. Silat Buah Tarok ini dikenal juga dengan Silek Sitaralak Baruah oleh masyarakat di kawasan Maninjau yang dahulunya diajarkan oleh Udo Tunang.
  • Silat Pakiah Rabun - berkembang di daerah Alam Surambi Sungai Pagu (lihat Silat Luncua)
  • Silat Gajah Badoroang - berkembang di wilayah Kabupaten Sawahlunto/Sijunjuang.
  • Silat Luncua (Luncur)- yang dikembangkan oleh Pakiah Rabun berkembang di daerah Alam Surambi Sungai Pagu, Kabupaten Solok.
  • Silat Gaib - suatu aliran silat yang bisa memainkan gerakan silat milik peguruan orang lain darimana saja.
  • Silat Sunua - dari dari Pariaman
  • Silat Ulu Ambek dari dari daerah Pariaman.
  • Silat Tiang Ampek, termasuk silat tuo yang berkembang keluar dari Batipuh, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar waktu perang Batipuah melawan Belanda setelah perang paderi. Berkembang dulunya di Palembayan, simpang Batuhampar, Piladang, Tanjuang Alam- Agam, Simarasok, Padang Tarok, Tanjuang Alam-Tanah Datar dan Tabek Patah. Silat tuo ini waktu pengembangan banyak disurau-surau yang guru-guru tuanya pengikut tarikat ( satariah ??? belum pasti, tetapi di dalam doa/tawasul, mereka menyebut Syech Burhanudin/Aba Burhan ) Silat ini bukan silat yang indah gerakannya tetapi silat praktis. Didaerah-daerah yang tersebut diatas cara-cara pengajarannya berbeda-beda;
    • 1. ada yang silat saja yang urutan-urutannya tergantung guru mengajar , dan
    • 2. ada yang diajarkan dikalangan terbatas dengan pelajaran selain silat ,juga agama, adat,pengobatan. silat ini diajarkan sesudah bulan Ramadhan istrahat sebelum Ramadhan (7 x 40 hari atau 9 bulan 10 hari. Silat dengan cara ke dua diatas itu sendiri ada 4 tingkatan:
    • (1). Maapa langkah jo sambuik (menghapal langkah dan sambut).
    • (2). Manyambuang langkah jo sambuik (menyambung langkah dan sambut)
    • (3). Bagaluik. (gelut)
    • (4). Maambiak raso (menyambil rasa, kira-kira sama dengan silat ghaib) tingkat empat ini babiliak ketek (murid terpilih diajar khusus) dalam ilmu bathin (gumam bathin). Saat ini perguruan ini sudah jarang terdengar karena umum tumbuh dilingkungan terbatas.
  • Silat Balubuih, Silat yang dikembangkan oleh Syech Balubuih dinegri Balubuih kabupaten Lima Puluh Kota. Syech Balubuih dan Syech Kumango pernah sama-sama menimba ilmu agama dan tarikat kepada Syech Abdurahman di Batu Ampar kabupaten Lima Puluh Kota (dulunya dinamakan Luhak Lima Puluh Koto).
  • Silat Sungai Patai, Silat yang berkembang di Nagari Sungai Patai Tanah Datar.
  • Silat Lintau, Berasal dari daerah Lintau Buo Kab.Tanah Datar, Sumatera Barat. Silat ini merupakan silat yang terkenal di Minangkabau, dengan dasar Lahkah Ompek (Langkah Empat) dan ada juga dengan Langkah Duo Boleh(Dua Belas). Silat lintau memili guru silat di hampir 9 koto (daerah) di lintau yang masing-masingnya memiliki gaya tersendiri namun tetap berdasarkan langkah yang sama.
 Betawi
  • Silat Cingkrik - salah satu dari 300 aliran silat Betawi, salah satu tokohnya adalah si Pitung sekalipun klaim ini belum dapat dibuktikan kebenarannya. Banyak ditemukan di Rawa Belong, Jakarta Selatan, yang masih bertahan sampai saat ini adalah Cingkrik Goning dan Cingkrik Sinan, keduanya dinisbatkan pada nama pewarisnya Engkong Goning dan Engkong Sinan. Karakter teknik beladirinya adalah mengandalkan takedown atau bantingan. Cingkrik Goning misalnya, memiliki 80 teknik takedown yang bisa dipelajari sampai tamat. Pewaris Cingrik Goning sekarang adalah Tb. Bambang Sudradjat yang melatih di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia
  • Silat Silau Macan - salah satu silat Betawi yang berasal dari Condet, Jakarta Timur. Tokohnya yang terkenal adalah Entong Gendut, pahlawan Betawi yang melakukan pemberontakan Villa Nova yang terkenal pada tahun melawan pemerintah Belanda.
  • Silat Sabeni - silat Betawi, berasal dari daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Anak dari Babe Sabeni bin Chanam (pendiri aliran Sabeni) adalah Babe Ali Sabeni yang juga seniman sambrah, kesenian betawi. Anak dari Babe Ali Sabeni yaitu Zulbachtiar Sabeni (cucu Babe Sabeni bin Chanam) saat ini merupakan pewaris utama ilmu silat aliran Sabeni yang terus dilestarikan hingga kini (www.sahabatsilat.com). Aliran ini terus berkembangan dan memberi warna pada aliran silat lainnya di Betawi yang juga dikuasai oleh Bapak Syuaeb, atau lebih dikenal dengan nama Bang Aeb. Di Jakarta, selain Bang Zulbachtiar yang merupakan cucu sabeni yang terus melatihkan aliran Sabeni di Tenabang, juga dikembangkan oleh banyak pihak termasuk yayasan TIMA (Traditional Indonesian Martial Arts) yang didirikan dan dikembangkan oleh Adhika Aria Wijaya (yang juga penerus dari Bang Aeb), Raditya Raga Wijaya (adik dari Adhika), dan Seniman Wijaya (ayah dari Adhika dan Radi).
  • Silat Tiga Berantai - berasal dari permainan silat tokoh sejarah Jakarta, Pangeran Jayakarta. Didirikan oleh H. Achmad Bunawar (H.Mamak). menggabungkan banyak aliran tradisonal lainnya
  • Silat Gerak Saka - kata Saka diambil dari bahasa Sunda, 'Sakadaekna' yang berarti sekenanya. Aliran yang satu ini memang mengutamakan efektivitas dan kesederhanaan gerak sebagai filosofi pertarungannya. Merupakan pengembangan dari aliran silat tradisional Sunda, Gerak Gulung Budidaya. Dibawa ke Jakarta oleh Raden Widarma (Oom Wid). Murid Oom Wid, Muhammad Syafi'i yang akrab dipanggil Bang Pi'i lantas mendirikan perguruan ini.
  • Silat Paseban - namanya diambil dari daerah Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. M. Soleh adalah pendiri aliran ini.
  • Silat cimacan adalah salah satu silat aliran betawi yang berasal dari banten dan dikembangkan di daerah karang tengah lebak, lebak bulus, jakarta selatan. Guru besar silat cimacan adalah Drs. Ahmad Ramli Topan dan sampai sekarang masih terus exis.Ciri khas perguruan silat cimacan adalah jurus-jurus macan.
  • Silat Si Kilat - aliran silat ini sesuai namanya mengandalkan gerakan serang yang sangat cepat oleh tangan
  • Silat Kancing 7 Bintang 12 Naga berenang (Kera Sakti / Si Bunder / Naga Ngerem )- aliran silat dari Kwitang dibawa oleh Si Gondrong Jagoan Kwitang
  • Silat Gombel - aliran silat yang tergolong silat tertua di Betawi
  • Silat Gelamak - aliran silat Betawi. Nama silat ini diambil dari nama Kong Gelamak tokoh Betawi kelahiran Senayan.
  • Silat Beksi - perguruan ini banyak di daerah Jakarta Selatan (Kp Sawah Petukangan dan Kota Tangerang daerah Kereo Pisangan Ciledug). Nama Beksi konon berasal dari bahasa Cina, Bie Sie. Bie artinya pertahanan dan Sie artinya empat, maknanya pertahanan empat penjuru.
 Jawa Barat
  • Silat Cimande - bersama dengan Sera (aliran kera), Pamacan (aliran harimau) dan Trumbu (pertarungan tongkat) merupakan aliran pencak silat yang didirikan Embah Kahir di akhir 1700-an di Jawa Barat. Seni ini tetap ada di beberapa desa yang ada di Sungai Cimande, termasuk desa Tarik Kolot. Kini ada lebih dari 300 variasi Cimande, termasuk yang ada di Betawi. Si Pitung juga dianggap mempelajari aliran ini.
  • Silat Cikalong - aliran pencak silat dari Cianjur dengan tokoh pendirinya H. Ibrahim atau R. Jaya Perbata, meninggal pada tahun 1908. Tersebar di seluruh daerah Jawa Barat dan mewarnai beberapa aliran silat di Jawa Barat dan sekitarnya. Dikenal juga dengan Ulin Maen Po Cikalong, jurus Cikalong diadaptasi pada beberapa perguruan silat Sunda, seperti Perguruan Silat Panglipur, Pusaka Siliwangi dan lain-lain.
  • Silat Riksa Budi Kiwari - Perguruan ini didirikan oleh Pak Ujang Jayadiman pada tahun 1982 di Bandung. Meskipun usia perguruan ini tergolong masih muda, namun telah mencetak banyak atlet-atlet berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
  • Silat Serak, Sera, Syera adalah salah satu aliran silat yang dikembangkan oleh KH. Raden Sarean di Bogor Jawa Barat. aliran serak ini adalah turunan dari silat Cimande.
  • Silat Depokan, aliran ini berasal dari Bogor, melihat ciri khasnya aliran ini ada hubungannya dengan Cimande dan Serak. pendiri adalah bapak H. Ayub.
  • Gerak Badan Pencak Margaluyu Pusat, didirikan oleh Abah Andadinata, merupakan salah satu pelopor perguruan tenaga dalam di Indonesia.
  • Perguruan Pencak Silat Padjadjaran Nasional - Perguruan Silat yang merupakan hasil penggabungan Lima aliran Silat Buhun dan berpusat di Bogor, Pendiri Perguruan Padjadjaran Nasional ialah Bapak TB. Mochamad Sidik Sakabrata. Perguruan ini mempunyai cabang di berbagai daerah di Indonesia hingga ke Mancanegara, di antaranya negeri Belanda, yang diketuai oleh Mr. Eric Bovelander.
  • Silat Binasatria - Perguruan ini terdapat di Cibinong. Tepatnya di MAN CIBINONG. Perguruan ini berdiri pada tahun 1994. Di kembangkan oleh guru besarnya yaitu Bpk. Zaenudin.
 Jawa Tengah dan Yogyakarta
  • Persatuan Hati (PH) didirikan oleh RM Mangku Pujono (Guru Besar) dan dibantu oleh para sesepuh lainnya di Yogyakarta pada tahun 1927, ini merupakan kelanjutan dari perkumpulan "Be United" tahun 1921.
  • Silat Perpi Harimurti - berasal dari Yogyakarta, didirikan oleh Eyang Sukowinadi yang berguru pada Gusti Harimurti
  • Silat PPS Beladiri Tangan Kosong Merpati Putih - salah satu perguruan dengan jumlah anggota terbanyak di Indonesia. Berasal dari Yogyakarta.
  • Tapak Suci - perguruan silat di bawah ormas Muhammadiyah. Pendirinya berasal dari Banjarnegara dan berkembang di kawasan Kauman, Yogyakarta
  • Pusaka Sakti Mataram Lakutama - perguruan silat yang berasal dari Yogyakarta, didirikan oleh Ki Poleng Sudamala
  • Perguruan Pencak Silat Cepedi (Cepat Pembelaan Diri) - didirikan pada tanggal 17 September 1922 di daerah Dagen kawasan Malioboro barat, oleh Eyang Citra Mangkunagara.
  • Perguruan Beladiri Sinar Perak - merupakan suatu organisasi kekeluargaan beladiri yang secara resmi berdiri pada tanggal 24 Desember 1990.
  • Perguruan Beladiri Garuda Nusantara - didirikan oleh Bapak K.H. Muhammad Thoyyib Sumarko S.Pd. pada tahun 1996. tergolong muda, namun sudah mulai ikut andil dalam keuaraan tingkat jawa tengan maupun Nasional
 Jawa Timur dan Madura
  • Persaudaraan Setia Hati (SH), diturunkan dari Persaudaraan Sedulur Tunggal Kecer yg didirikan oleh Eyang Suro dan menurunkan banyak perguruan silat seperti: PSHT, SH Winanga, SH Putih. Pusat perguruan ini berdomisili di Madiun, Jawa Timur.
  • PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) didirikan oleh Ki Hajar Harjo Utomo tahun 1922 di Pilangbango, Madiun. Perguruan ini berbentuk organisasi dan lebih menekankan pada rasa persaudaraan. Perguruan ini mempunyai anggota yang sudah menyebar keseluruh penjuru nusantara, bahkan sampai keluar negeri di antaranya Malaysia, Singapura, dan Rusia.
  • HASDI (Himpunan Anggota Silat Dasar Indonesia) yang didirikan oleh Bapak RS. Hasdijatmiko pada tahun 1961, yang berpusat di Jember Jawa Timur. Merupakan perguruan silat yang mengembangkan tekhnik gerak silat cepat dan lugas.
  • Silat Bawean - silat dari Pulau Bawean, Jawa Timur. Silat Bawean atau orang Bawean menyebutnya pokolan, merupakan salah satu aliran dari pencak silat yang merupakan permainan beladiri dan juga sebagai hiburan.
  • Silat Cempaka Putih - sebelumnya bernama Silat Mardi Anoraga Sakti, didirikan oleh Eyang Mursid. Tahun 1964 namanya berubah menjadi Pencak Silat Cempaka Putih yang didirikan oleh Eyang Wagiman (anak Eyang Mursid), yang juga terkenal dengan silat hadirannya. Pencak Silat Cempaka Putih ini berdiri Di kecamatan Panekan Kab Magetan, Yang telah mempunyai anggota di seluruh Indonesia. Serta PSCP ini menjunjung tinggi Persaudaraan Antar Anggota Sendiri adan seluruh organisasi lain.
  • Keluarga Persilatan Ki Ageng Pandan Alas, didirikan di kecamatan kare Madiun Oleh bapak Kustari Adi andaya ( pensiunan AURI) berdiri sejak Pada tahun 1972. menjadikan para Warga & siswanya menjadi tangan-tangan Penyelamat.
  • Persatuan Hati (PH) di Ponorogo, Jawa Timur, yang didirikan oleh Mbah Trimo
  • Pagar Nusa (PN) di kediri jawa timur, yang didirikan oleh Gusmaksum. Merupakan persatuan dari berbagai pencak silat yang bernafaskan agama islam NU
  • Silat Cobra, pusat perguruan berada di Pamekasan, Pulau Madura, yang didirikan oleh Pak Arif Budiman. Perguruan ini telah berkembang ke seluruh Indonesia, salah satunya di Pontianak.
  • Persaudaraan Rasa Tunggal, Pencak Silat dan Tenaga Dalam. Didirikan oleh RM. Sutadi Rakhanta pada tahun 1972 berpusat di Kota Madiun Jawa TImur. Menekankan pada prinsip budi luhur dan mencari ridho dan keslamatan dari Allah SWT. Saat ini mempunyai Anggota dan Warga di seluruh Indonesia.
  • Perguruan Ilmu Seni Bela Keselamatan Syiar Islam (SI) di Tuban, Lamongan dan sekitarnya, didirikan oleh K. H. Ahmad Muzaini. Perguruan ini merupakan persatuan dari berbagai perguruan yang bernafaskan ajaran agama islam.
  • Perguruan Seni Ilmu Beladiri Kung Fu IKS.PI. Kera Sakti berdiri pada tanggal 15 Januari 1980 di Jl. Merpati No. 45, Kel. Nambangan Lor, Kec Mangunharjo, Kodya Madiun. Adapun nama dari perguruan ini semula adalah IKS.PI. yang artinya adalah Ikatan Keluarga Silat "Putera Indonesia" tetapi ketika perguruan mulai berkembang diberi nama tambahan "Kera Sakti" dibelakangnya, sebab masyarakat maupun murid murid perguruan lebih mengenal nama jurus perguruan yaitu teknik jurus keranya daripada nama asli perguruan. Untuk itu selanjutnya dalam memudahkan pencarian identitas perguruan sekaligus secara tidak langsung menambah wibawa nama perguruan maka disebutlah IKS.PI. Kera Sakti.
Sebagai pendiri pertama sekaligus sebagai guru besar dari perguruan ini adalah Bapak R Totong Kiemdarto. Oleh guru besar diajarkan pelajaran silat monyet dan kerohanian untuk memantapkan fisik dan iman dari siswa dan siswi yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional yaitu memujudkan manusia Indonesia seutuhnya, yang sehat lahir maupun batin dan berjiwa PANCASILA.
Pada mulanya perguruan ini hanya dikenal dilingkungan masyarakat desa Nambangan Lor saja tetapi pada sekitar tahun 1983 beberapa murid angkatan I dan II mulai mengembangkan ajaran perguruan dibeberapa tempat, yaitu SMAN 3 Madiun, Lanuma Iswahyudi dan Dempel. Baru kemudian menyusul berkembang ditempat lain tidak saja diwilayah eks Karesidenan Madiun tetapi juga diluar bahkan sampai keluar pulau Jawa.
 Kalimantan
  • Bersilat - silat dari Kalimantan
  • Kuntau Banjar,Sendeng Banjar,Sendeng Belalang,Bang'koe(silat monyet) dari Kalimantan Selatan
  • Kuntau Kutai,Kuntau Kilan dari Kalimantan Timur
  • Cuyusika Bangau Putih - perguruan silat yang menggabungkan 4 jenis aliran beladiri. Lahir di Banten, berdiri di Banyuwangi dan berkembang di Pontianak Kalimantan Barat oleh Muchsiono Hadi Saputra.(Red.H.E.Hrp)
 Bali
  • Silat Bakti Negara - dirintis oleh antara lain pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai namun secara resmi didirikan pada 31 Januari 1955 oleh para pendekar Bali yakni Ida Bagus Oka Dewangkara, Pendekar Ida Bagus Oka Sahadewa, Pendekar Bagus Made Rai Keplak, Pendekar Anak Agung Rai Tokir, Pendekar Anak Agung Meranggi, dan Pendekar Sri Empu Dwi Tantra. Perguruan ini cukup berprestasi di ajang silat nasional dengan melahirkan atlet-atlet juara. Selain muatan lokal, banyak dipengaruhi aliran Cikaret dan Cikalong.
  • Silat Kerta Wisesa - dalam perguruan ini kembangan atau seni pencak lebih mendapat porsi dibandingkan dengan dalam perguruan Bakti Negara.
  • Silat Seruling Dewata - ilmu silat dari desa Kerambitan-Tabanan yang konon sudah ada sebelum datangnya agama Hindu. Silat ini diperkenalkan kembali oleh Drs.I Ketut Nantra pada tahun 1980-an. Jurus-jurus yang dimilkinya antara lain: Harimau, Ular, Putri Bungsu, Tali Rasa.
  • Silat Gobleg - ilmu silat dari Bali Utara, tepatnya Desa Gobleg yang terletak dekat Danau Tamblingan. Dan mungkin inilah satu-satunya desa di Bali atau di Indonesia di mana nama desanya di ambil dari nama tokoh silat. Gobleg adalah nama dari pendekar dan guru Silat terkemuka.Sedikit melenceng dari topik; di perbatasan kabupaten Gianyar dan Bangli ada juga desa yang bernama Siladan, menurut hikayat ini pula berasal dari kata silat. Di perbatasan itu dulu para prajurit dari Bangli dan Gianyar saling tantang dan adu tanding dengan jurus-jurus silat.
  • Silat Sitembak - ilmu silat yang berkembang di Bali Utara, namun berakar dari silat Sunda
  • Mepantigan - Mepantigan adalah olah raga beladiri bantingan dan kuncian tradisi Bali yang diiringi gegambuhan atau gamelan yang dirintis Putu Witsen Widjaya di awal milenium ini namun bersumberkan pada ilmu silat Bali.
 Aliran dan perguruan di luar negeri
 Malaysia
Semenanjung Malaysia
  • Gayung Malaysia - salah satu dari 4 perguruan silat terbesar yang memiliki reputasi di Malaysia
  • Silat Cekak – merupakan tipe silat bertahan, sebab memakai 99% teknik bertahan dan hanya 1% teknik menyerang. Merupakan salah satu dari 4 padepokan silat terbesar yang memiliki reputasi di Malaysia
  • Silat Lincah - salah satu dari 4 padepokan silat terbesar yang memiliki reputasi di Malaysia
Sarawak
  • Pencak Silat Melayu Asli (PSMA) Spring12 - Sebelum Merdeka dikenali sebagai Pencak Silat Melayu Asli. Terdiri daripada 6 Peringkat latihan yang diasaskan oleh Arwah Guru Bojeng Bin Sham yang menuntut dari pakciknya iaitu HJ Jeraei. Hj Jeraei belajar di Kampung Dagang Sambas, Kalimantan Indonesia dan merupakan anak murid harapan Guru Wanita tersebut. Sekarang PSMA Spring12 telah mempunyai hampir 20,000 orang ahli di seluruh Sarawak.
 Thailand
  • Seni Gayung Fatani – aliran silat Malaysia berasal dari Propinsi Pattani di Thailand Selatan. Salah satu dari 4 perguruan silat terbesar yang memiliki reputasi di Malaysia
 Filipina
  • Maphilindo Silat – aliran silat yang didirikan oleh Dan Inosanto untuk menghormati guru silatnya. Tersusun dari aliran silat Malaysia (Ma), Philippines (Phil) dan Indonesia (Indo)
 Eropa
  • Perisai Diri
  • Gerak Ilham
  • Saudara Kaum di Perancis, mengajarkan silat Minangkabau dan silat dari Tanah Sunda
  • Pandeka Mihar G=Sentak di Austria, mengajarkan silat dari Minangkabau
 Amerika Serikat
  • Pukulan Pentjak Silat Serak (atau Sera) - ditemukan oleh Pak Sera dari suku Badui dan dikembangkan oleh Mas Roen dan Mas Djoet. Victor de Thouars mengajarkan Pukulan Sera di area Los Angeles
  • Soempat Silat - didirikan oleh Pak Tisari Majoeki, pengembang tongkat rotan bergaris, yang aliran silat keturunannya dilanjutkan oleh Maha Guru "Pak Vic" Victor de Thouars
  • ODF Silat - didirikan oleh Maha Guru "Pak Vic" de Thouars, dibangun untuk Hukum Pelaksanaan, khususnya serangan langsung dari pisau terbuka
  • Tongkat Silat - didirikan Maha Guru "Pak Vic" de Thouars pada 1957, dengan pengaruh Silat Soempat dan Serak (Sera)
  • Bukti Negara - aliran modern dan modifikasi Sera yang didesain oleh keturunan pemilik Sera, Pendekar Paul de Thouars. Nama Bukti Negara berarti "pemberian kepada bangsa," merefleksikan rasa terima kasih Pendekar Paul de Thouars pada Amerika Serikat semua yang diberikannya. Karena banyak pembatasan sistem induk Sera, Pendekar de Thouars memodifikasi Sera untuk membentuk Bukti Negara agar menampakkan bertambahnya perasaan pada seni
  • Kuntao Silat - menggabungkan Kuntao dan Silat, seperti diajarkan Pendekar Willem de Thouars
  • Pukulan Cimande Pusaka - aliran silat Cimande yang diturunkan dari Mas Jut, diajarkan oleh Pendekar William Sanders. Aliran ini termasuk seni asli Embah Kajir (Kahir) dari desa Tarik Kolot
  • Persatuan Pencak Silat Inti Ombak - aliran pencak silat Madura dan Mataram (Yogyakarta), dan di lestarikan oleh Guru Daniel Prasetya yang juga merupakan saudara sepadepokan dengan Pusaka Sakti Mataram lakutama
 Timor Leste
  • Kmanek Oan Rai Klaran (KORK)- ditemukan oleh Pak Jose dos Santos "Naimori" Bucar di suco Suro distrik Ainaro, diresmikan secara nasional sebagai organisasi pencak silat pada tahun 2001.