Tampilkan postingan dengan label DUNIA ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA ISLAM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2011

10 Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia

Sebagai agama dengan penganut terbesar nomer dua di dunia, Islam menjadi agama yang pemeluknya tersebar di seluruh penjuru dunia. Hampir di semua negara di belahan dunia, pasti ada penduduk muslimnya. Dan dalam postingan kali ini, saya akan memberikan artikel tentang 10 negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZHeni9J4Hyq_-Y9Xaj2Lhf7R3TiGdPhlRqpHH_axC2VxPIJ-zs0nR8XUnpC_jWUTazcs5ytrWoYYisAqcv31fdfHlF8NI2iFe1K2rIBS4dkGCDwaHo8Hv2-JhQgfuqCBA0Z1CN9_TEcWS/s400/muslim_family.jpg

Berikut adalah daftar 10 besar negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia

1. Indonesia : 182,570,000 orang
Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di seluruh dunia. Meskipun 88% penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah negara Islam. Muslim di Indonesia juga dikenal dengan sifatnya yang moderat dan toleran. Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

2. Pakistan : 134,480,000 orang
Pakistan adalah sebuah negara yang terletak di Asia Selatan. Dengan lebih dari 150 juta penduduk, Nama Pakistan diambil dari awalan daerah Punjab, Afghan, Kashmir, Sind dan Baluchistan. Sedangkan dalam bahasa Persi Pak berarti suci dan Stan bermakna negara sehingga para pendiri Pakistan mengharapkan adanya negara suci menurut ajaran Islam.

3. India : 121,000,000 orang
Islam adalah agama yang kedua terbesar kedua setelah agama Hindu (80.5%). Ada sekitar 174 juta Muslim, 16.4% dari jumlah penduduk. Sejak pengenalannya ke India, Islam telah membuat penyumbangan keagamaan, kesenian, falsafah, kebudayaan, kemasyarakatan dan politik kepada sejarah, warisan dan kehidupan India.

4. Bangladesh : 114,080,000 orang
Islam adalah agama terbesar Bangladesh, yang muslim penduduk lebih dari 130 juta dan merupakan hampir 88% dari total jumlah penduduk, berdasarkan sensus 2001. Islam datang ke wilayah Bengal sejak abad ke-13, terutama oleh kedatangan para pedagang Arab, Persia Saints dan penaklukan daerahl Salah satu yang terkenal adalah suci Islam, Shah Jalal.

5. Turki : 65,510,000 orang
Daerah yang terdiri dari Turki moden mempunyai tradisi Islam yang lama dan kaya melatar belakang ke zaman permulaan Seljuk dan Empayar Uthmaniyyah. Orang Turki secara kebudayaan dan sejarah adalah umat Islam.

6. Iran : 62,430,000 orang
Sejarah awal Iran meliputi negara Iran dan juga negara-negara tetangganya yang mempunyai persamaan dalam kebudayaan dan bahasa. Ketika itu, negara-negara ini diperintah oleh kekaisaran-kekaisaran seperti Media dan Akhemenid. Sassania adalah kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Kemudian Persia bergabung menjadi sebagian khilafah Islam awal.

7. Mesir : 58,630,000 orang
Islam menyentuh wilayah Mesir pada 628 Masehi. Ketika itu Rasulullah mengirim surat pada Gubernur Mukaukis -yang berada di bawah kekuasaan Romawi-mengajak masuk Islam. Rasul bahkan menikahi gadis Mesir, Maria. Pada 639 Masehi, ketika Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab, 3000 pasukan Amru bin Ash memasuki Mesir dan kemudian diperkuat pasukan Zubair bin Awwam berkekuatan 4000 orang. Mukaukis didukung gereja Kopti menandatangani perjanjian damai. Sejak itu, Mesir menjadi wilayah kekuasaan pihak Islam. Di masa kekuasaan Keluarga Umayah, dan kemudian Abbasiyah, Mesir menjadi salah satu provinsi seperti semula. Khalifah Muiz membangun Masjid Besar Al-Azhar (dari “Al-Zahra”, nama panggilan Fatimah) yang dirampungkan pada 17 Ramadhan 359 Hijriah, 970 Masehi. Inilah yang kemudian bekembang menjadi Universitas Al-Azhar sekarang, yang juga merupakan universitas tertua di dunia saat ini.

8. Nigeria : 53,000,000 orang
Islam dianut oleh 50% dari total penduduk Nigeria, Penyebaran Islam di Nigeria dibagi dalam tiga periode, yaitu periode Trans Sahara dan Afrika Utara, periode Atlantik dan periode kemerdekaan. di samping melakukan perdagangan, para pedagang Muslim juga memperkenalkan misi utama ajaran Islam, yaitu mengembangkan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan.

9. Algeria (Al-Jazair) : 30,530,000 orang
Islam pertama kali dibawa ke Aljazair oleh Bani Umayyah setelah invasi dinasti dari Uqba bin Nafi, dalam berlarut-larut proses penaklukan dan konversi yang membentang 670-711. Namun, seperti di Timur Tengah itu sendiri, mereka berusaha untuk menggabungkan baru mereka Islam dengan perlawanan terhadap aturan luar negeri kekhalifahan - sebuah ceruk yang Khawarij dan Syiah "ajaran sesat" diisi dengan sempurna.

10. Maroko : 28,780,000 orang
Maroko modern pada abad ke-7 M merupakan sebuah wilayah Barbar yang dipengaruhi Arab. Bangsa Arab yang datang ke Maroko membawa adat, kebudayaan dan ajaran Islam. Sejak itu, bangsa Barbar pun banyak yang memeluk ajaran Islam.

Senin, 15 Agustus 2011

Ramadhan di Negeri Seribu Menara

Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dengan keunikannya yang magis dan cita rasanya yang khas di berbagai provinsi Mesir. Keistimewaan ini membuat para penduduk Mesir memberikan perhatian yang besar terhadap bulan ini, mereka menyambut Ramadhan dengan luar biasa hangat, mereka menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, bersimpuh dalam doa kepada Allah, memperbanyak perbuatan-perbuatan baik dan menumbuhkan kedermawanan terhadap kaum fakir.
Jika Anda melintasi Mesir saat bulan Ramadhan, mustahil Anda tidak terjun kedalam suasana yang sangat unik. Kemegahan hari raya dan kekhusyuan beribadah dalam satu waktu. Ramadhan di kota Kairo memiliki karakter yang unik hingga menjadikan kota sejarah beratus tahun yang lalu ini menjadi demikian istimewa melalui berbagai tradisi dan adat istiadat yang sampai sekarang terus menjadi warisan turun temurun. Suasana semarak ini kemudian menarik perhatian para pelancong asing. Dalam buku “Ramadhan fi az-Zamân al-Jamîl” karya seorang peneliti Mesir, ‘Arfah Abduh, diungkapkan berbagai fenomena Ramadhan yang ditemukan pada malam dan siang di kota Kairo.
Seorang penulis Inggris, Edward Line, dalam bukunya menulis, “Malam, dimana esok harinya diprediksi sebagai awal Ramadhan, disebut malam rukyah. Sekelompok orang yang dianggap kredibel diutus beberapa mil jauhnya ke daerah gurun. Disana, udara jernih memungkinkan mereka melihat bulan sabit Ramadhan.” Sementara pelancong Italia, Feliks Fabri yang mengunjungi Mesir pada tahun 1483, ia mengungkapkan kekaguman akan suatu malam ketika ia memasuki kota Kairo. Saat itu, ia melihat demikian banyaknya lampu, lampion dan lentera di sepanjang jalan dengan berbagai ragam dan warnanya yang dibawa oleh kaum dewasa dan anak-anak kecil. Ketika ia bertanya mengenai keramaian ini, dikatakan kepadanya bahwa ini adalah bulan Ramadhan, dan beginilah cara kaum muslimin Kairo menyambut kedatangannya.
Pelancong asal Perancis, Jean Balern yang mengunjungi Mesir pada tahun 581, menuturkan, “Pada bulan Ramadhan, kaum muslimin Mesir memiliki kebiasaan membagikan daging dan sedekah kepada kaum fakir miskin. Mereka saling berkunjung, menyemarakkan malam dengan lampion-lampion besar beraneka warna di depan rumah, toko dan masjid-masjid.” Ada pula Bernardi Bread yang datang ke Mesir dari kota Venice, Italia, pada pertengahan abad ke-15, ia menyaksikan fenomena kebahagiaan kaum muslimin menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan menerangi masjid dan jalan-jalan dengan lampion, kidung-kidung syukur dan halaqah-halaqah dzikir kepada Allah.
Pelancong Irlandia, Richard Barton yang tiba di Mesir pada tahun 1853, menulis, “Berbagai lapisan masyarakat sangat memperhatikan syiar bulan mulia ini dengan penuh ketulusan, meskipun sangat berat menjalaninya. Bahkan, kaum pendosa yang biasa menenggak minuman keras dan berpesta pora, hingga menjelang waku shalat pada bulan-bulan sebelum Ramadhan, serentak menghentikan maksiat itu pada saat Ramadhan tiba. Mereka turut berpuasa dan mengerjakan shalat. Pengaruh yang sangat jelas dari bulan ini terhadap kaum mukmin adalah ketenangan yang menyelimutinya. Saat maghrib menjelang, Kairo tampak seperti kota yang baru terbangun dari lelapnya, orang-orang melongok dari balik jendela, sementara sebagian lain tetap terlena dalam doa dan tasbihnya.”

Berdakwah Islam di Kolombia

Fatimah Al-Huli, seorang muballigh Arab Muslim di Kolombia menyatakan bahwa berdakwah tidak hanya sebatas pada sebuah kalimat. Akan tetapi bersikap dengan baik dan tepat justru mampu menjadi faktor pemikat utama bagi para nonmuslim untuk tertarik kepada agama yang benar. Ajakan ke arah Tuhan merupakan tugas dan kewajiban para Nabi sebagai makhluk Tuhan yang termulia. Mereka adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Tuhan untuk membimbing, mengarahkan dan memberikan hidayah pada umat manusia, dan para ulama merupakan pewaris para Nabi yang juga menapakkan langkahnya di salah satu jalan para Nabi yaitu memberikan hidayah pada manusia.
Fatimah Al-Huli adalah salah satu muballigh Arab Muslim di Kolombia yang melakukan kegiatan pendidikan di kalangan muslimin dan melakukan kegiatan agama di kalangan para nonmuslim.
Di bawah ini merupakan wawancara yang pertama kalinya dilakukan dengan jaringan Islam Al-Yaum mengenai kondisi Islam dan muslimin di Kolombia dan hambatan terpenting yang dihadapinya.
Islam: Ms. Al-Huli, bagaimana Anda memulai perjalanan untuk tabligh Islam?
Huli: Pengalaman saya di Kolombia merupakan pengalaman paling menarik yang pernah saya alami. Saya tidak pernah mengira bahwa suatu hari saya akan pergi ke salah satu negara Amerika Selatan, sebuah negara yang hanya pernah saya pelajari di sekolah itu pun tidak dengan kajian yang mendalam. Waktu itu yang kami dengar dari Kolombia hanyalah tentang obat-obatan terlarang dan kelompok-kelompok mafianya, sama sekali saya tidak pernah mendengar sesuatu yang positif mengenainya. Kemudian saya menikah dengan seorang muslim Kolombia, suami saya banyak bercerita tentang kondisi musliminin di Kolombia dan menyarankan untuk pergi ke negara ini. Cerita tentang kondisi muslimin di negara ini menyedihkan saya dan membuat saya ingin mengenalnya lebih mendalam. Sesampai di negara ini saya melihat, ternyata negara terindah yang diciptakan oleh Tuhan adalah Kolombia. Saya menemukan kebanyakan rakyat Kolombia sebagai manusia-manusia sederhana yang menarik saya untuk semakin mereguk kealamian, fitrah dan temperamen mereka yang baik, dan ini pulalah yang telah mendorong saya untuk segera memulai belajar bahasa Spanyol.
Jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya, di masyarakat Kolombia hanya terdapat sedikit kelompok yang mengenal agama Islam, dan terlihat begitu banyak ketidaktahuan terhadap ilmu-ilmu Islam dan Arab, sedemikian hingga misalnya banyak dari saudari muslimah yang bahkan tidak mengetahui bagaimana harus melakukan shalat, kendati mereka telah menjadi muslim sejak beberapa tahun sebelumnya. Begitu pula dengan Kristen, agama ini juga tidak mengetahui informasi apapun tentang Islam, apa yang mereka miliki danketahui adalah informasi-informasi salah dan keliru yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam. Dari sinilah kemudian saya termotivasi untuk mendirikan sebuah lembaga guna memperkenalkan Islam dan memberikan pelajaran-pelajaran keislaman, dan ternyata banyak kalangan Muslim yang kemudian berpartisipasi dalam lembaga ini dan memulai ajakan-ajakannya kepada para nonmuslim dan Kristen untuk bergabung ke dalam agama yang benar. Ide ini dimulai dengan sekelompok kecil dari muslimin Arab dan Kolombia yang memberikan perhatian pada kondisi dan masa depan Islam di Kolombia dan berupaya untuk memajukannya.
Islam: Dari mana ide pendirian Markaz Al-Qurthubi dimulai dan apa tujuannya?
Huli: Ide ini berawal seusai saya dan suami menganalisa kondisi kaum muslim di negara ini dan seusai saya berbincang dengan saudara-saudari di sini setelah 6 bulan sampai di negara ini. Kami banyak mengunjungi mushala-mushala Bogota dan melihat kebanyakan tempat ini tertutup pada waktu-waktu shalat. Dan kalaupun ada yang terbuka pun, di sana tidak ada pelajaran-pelajaran agama atau tema-tema agama yang disajikan. Tidak ada seorang pun syaikh atau ulama di ibukota, demikian juga tidak ada seorang pun yang peduli terhadap Islam.
Banyak para saudari yang mengatakan kepada saya bahwa mereka ingin mempelajari prinsip-prinsip agama, karena kendati mereka adalah para Muslim, namun setelah memeluk agama Islam, mereka tidak mengetahui apapun tentang Islam. Karena inilah sehingga saya memutuskan untuk mendirikan sebuah Pusat Islam, dan setelah satu tahun melakukan evaluasi bersama kelompok, kami memutuskan untuk membuka Pusat Penelitian Islam Qurthubi dan segera memulai aktivitas setelah sebelumnya memilih salah satu ulama agama di dalam kelompok sebagai seorang syaikh.
Markaz Al-Qurthubi berupaya memberikan pelajaran-pelajaran tajwid, akidah, hadis, fikih, syariat, sirah, pelajaran-pelajaran bahasa Arab dan tulisan Arab kepada umat Islam untuk mendukung minoritas Islam. Lembaga ini akan memberikan pelajaran apapun demi kepentingan agama Islam. Lembaga ini juga berupaya untuk menterjemahkan kitab-kitab agama dari bahasa Arab ke bahasa Spanyol dan menginformasikan kepada masyarakat tentang realitas yang terdapat di Kolombia dan kemajuan penyuluhan Islam kepada lebih dari 7 juta penduduk di ibukota Kolombia. Kami berharap atas izin Tuhan, dalam waktu dekat bisa mengajak seluruh penghuni benua ini kepada agama Islam.
Islam: Bagaimana Anda menggambarkan perempuan Kolombia, dan apakah warga Kolombia menyambut Islam dengan baik?
Huli: Meskipun masyarakat Kolombia adalah masyarakat yang baik, akan tetapi perceraian keluarga dan berbagai penyimpangan lainnya juga banyak ditemukan dalam masyarakat ini sebagaimana yang terjadi di masyarakat Barat, dan banyak juga dari mereka yang sangat serius beraktifitas untuk kesejahteraan hidup. Di antara mereka ini juga terdapat orang-orang yang jahil, pintar, berpengetahuan, namun kendati terdapat berbagai hambatan yang ada di masyarakat Kolombia, mereka tetap menyambut Islam dengan baik. Sebagian mereka mulai mengkaji Islam lebih jauh setelah mendengar ceramah-ceramah Islam atau akan mendatangi kami untuk mendiskusikannya.
Apa yang mendorong masyarakat mempertanyakan dan memperbicangkan Islam di jalan-jalan Kolombia mengindikasikan bahwa umat Muslim dikenal dengannya, misalnya jika mereka melihat seorang muslim mengenakan baju Islam atau seorang muslimah mengenakan hijab, maka mereka akan bertanya kepadanya tentang Islam, hijab dan persoalan-persoalan yang berkaitan dengannya.
Rakyat Kolombia memberikan sambutan yang hangat kepada Islam, saya ingat, tahun lalu pada setiap pekannya, kami sempat menyaksikan terdapatnya begitu banyak orang yang datang untuk melakukan penelitian tentang Islam atau untuk mengucapkan dua kalimat syahadah.
Islam: Sebagai seorang muslimah yang hidup di masyarakat seperti ini, apa dilema terpenting yang dihadapi oleh masyarakat Kolombia, dan apakah dalam keadaan seperti ini kalangan masyarakat ini bersedia menerima hijab perempuan muslim?
Huli: Secara eksplisit saya katakan, sesampai di Kolombia saya sempat merasa tak nyaman dengan cara mereka memandang saya. Akan tetapi setelah beberapa waktu berlalu, dengan bantuan suami, saya menjadi terbiasa dengan hal tersebut. Suami saya memahamkan bahwa masyarakat lebih besar dari saya, dan tidak seharusnya saya marah dan kecewa. Kepada saya ia menyarankan untuk menyapa mereka dengan ramah, memberikan salam, dan menjawab pandangan-pandangan aneh dari mata para perempuan dan anak-anak itu dengan senyum, dan ini merupakan sebuah bentuk ajakan yang secara perlahan akan menarik mereka ke arah saya. Sejak itu saya ikuti masalah ini dengan sangat serius.
Saya ingat, suatu hari, gerakan sementara ini telah memberikan hasil padaku. Seorang perempuan yang bekerja di salah satu pertokoan di Bogotta melihat ke arah saya. Saya berikan senyum terbaik untuknya. Ia bertanya tentang hijab yang saya kenakan dan bertanya tentang agama yang saya anut. Saya katakan bahwa saya seorang muslimah yang beragama Islam. Ia mengira bahwa saya adalah seorang Alkitab, namun saya katakana bahwa kitab kami adalah Al-Wuran, sebuah kitab yang hingga kini tidak pernah ia dengar namanya.
Pria Kolombia menghormati para wanita yang mengenakan busana agama dan Islam, kendati busana yang dikenakan oleh masyarakat Kolombia padaumumnya, juga seperti busana-busana di negara Barat yang setengah telanjang.
Islam: Berapa jumlah Muslim Kolombia, lelaki yang lebih banyak ataukah perempuan?
Huli: Di Kolombia, jumlah mereka mencapai hampir 10 ribu Muslim. Jumlah perempuannya lebih banyak dari jumlah lelakinya. Dan ini merupakan sebuah hasil yang logis, karena jumlah perempuan dunia lebih banyak dari jumlah lelakinya, demikian juga jumlah perempuan yang telah mendapatkan hidayah, lebih banyak dari jumlah lelaki.
Islam: Bagaimana para muslimah Kolombia berhadapan dengan keluarga atau suami-suami mereka, apakah kalangan karir atau perguruan tinggi tidak berurusan dan menentang mereka?
Huli: Pada kenyataannya, kebanyakan perempuan yang telah memeluk agama Islam berhadapan dengan banyak kesulitan terutama dengan keluarga-keluarga Kristen mereka, hal ini lebih-lebih lagi dirasakan oleh para gadis, karena mereka biasanya mendapat tekanan yang keras dari keluarga untuk meninggalkan Islam. Sebagian dari gadis-gadis ini terpaksa harus meninggalkan keluarganya, kendati langkah seperti ini sangat sulit.
Namun banyak pula para perempuan yang telah menikah akhirnya bercerai dari suaminya yang Kristen dan mengambil tanggung jawab untuk mengasuh anak-anaknya demi pendidikan Islam yang benar. Dalam kondisi yang sulit ini, para perempuan juga harus berhadapan dengan biaya hidup dan mata pencaharian.
Islam: Apakah saat ini Markaz Al-Qurthubi telah berhasil mewujudkan tujuan-tujuannya?
Huli: Tentu, dengan kasih Tuhan, kami telah berhasil mengajak begitu banyak masyarakat untuk bergabung ke dalam Islam, dan sebagian besar mereka telah menyatakan ke-Islamannya. Saat ini, saudara-saudara kami juga telah memulai penterjemahan buku-buku yang rencananya akan menjadi buku bahan pelajaran dan akan akan segera menerbitkannya, kendati kami merasakan kurangnya dukungan bagi para penterjemah.
Kami memulai pengajaran dengan Ekonomi Islam dalam Al Qur'an, Akidah, Fikih, Sirah, bahasa Arab, Fikih Ibadah, dan kesemuanya ini disajikan dalam tingkat dasar dan sederhana untuk mempermudah pemahaman bagi para Muslim baru. Kini kami juga hadir di Pameran Buku Internasional di Boggota.
Islam: Anda telah bepergian ke pedesaan Kolombia, bisakan Anda ceritakan perasaan Anda, dan bagaimana Anda melakukan kewajiban ini?
Huli: Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan ini. Saya telah bepergian ke empat atau lebih pedesaan Kolombia. Untuk menemukan seorang muslim di tempat-tempat ini merupakan sebuah pekerjaan yang mustahil dan tidak mungkin, akan tetapi saya tetap melanjutkan perjalanan dengan perenungan dan kontemplasi, karena keindahan alam di negeri ini benar-benar tidak bisa diceritakan. Di sepanjang perjalanan antar pedesaan, kami menyaksikan patung-patung Maria as di rumah-rumah mereka, dan ini menunjukkan kepercayaan mereka bahwa patung-patung ini akan mempertahankan jalan-jalan mereka dan menghindarkannya dari segala peristiwa.
Akhirnya kami sampai pada satu kesimpulan bahwa kapanpun dan dimanapun, baik di ibukota maupun di pedesaan Kolombia, saat hendak mengajak masyarakat ke arah Tuhan, kami harus betul-betul memfokuskan diri, karena masyarakat di pedesaan tidak pernah mendengar tentang Islam, dan ketika kami berbicara tentang Islam, mereka akan menyamakan Muslim dengan Yahudi atau mencampur adukkan keduanya.
Islam: Anda sebagai seorang perempuan Arab telah memutuskan untuk tinggal dalam sebuah masyarakat yang asing dan jauh, dan bertahun-tahun dalam usaha untuk menyebarkan Islam. Apa pengalaman terpenting yang Anda peroleh?
Huli: Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa saya memiliki ilmu agama Islam yang banyak, karena sebagaimana saya kurang dalam mempelajari agama ini, saya juga kurang dalam pengalaman mengajak masyarakat ke arah Islam. Untuk lebih memajukan kegiatan dakwah ini saya masih harus banyak belajar dan beraktifitas untuk lebih mengenal masyarakat lain seperti negara-negara Afrika Selatan. Kendati jam terbang saya dalam berdakwah bisa dikatakan masih sangat kurang, akan tetapi inilah pengalaman terindah dan terlezat yang pernah saya rasakan. Saya menemani dan membantu rakyat Kolombia untuk memahami, mengenal, dan menerima Islam. Saya juga telah berhasil membuka tabir antara saya dan perempuan-perempuan di jalanan Kolombia dan mengajak mereka untuk mengenal Islam, dan masalah ini berbeda dengan yang selama ini saya rasakan di masyarakat Teluk dimana saya pernah hidup di sana.
Islam: Kegiatan ini membutuhkan dukungan yang banyak. Siapa saja yang telah memberikan dukungan terhadap kegiatan ini?
Huli: Pada awalnya kami menerima bantuan keuangan dari beberapa saudara untuk menyewa sebuah tempat mendirikan Pusat Riset Islam Al-Qurthubi, dan waktu itu kami membutuhkan dukungan yang lebih banyak untuk memajukan kegiatan ini. Terjemahan-terjemahan dari bahasa Arab dan Inggris ke bahasa Spanyol memakan waktu yang lama dan tidak ada dukungan bagi para penterjemah, oleh karena itulah kami menerima segala bentuk dukungan spiritual maupun material. Kami selalu membutuhkan bantuan dana untuk melaksanakan seluruh rencana-rencana dan dakwah-dakwah Islam, dan kami mengajak semuanya untuk mengunjungi blog resmi kami yang kami luncurkan dalam bentuk Komite Muslim Kolombia dalam bahasa Arab yang di dalamnya juga menyajikan berita-berita Pusat Penelitian kami, kenati kami tidak bisa menterjemahkannya dikarenakan masalah dana.
Islam: Ms. Fatimah Al-Huli, bagaimana Anda melihat peran putri-putri muslimah, baik dalam masyarakat Arab ataupun non-Arab, dalam dakwah Islam?
Huli: Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda terhadap kondisi Islam dan muslimin di seluruh tempat, dan saya mengajak kepada seluruh gadis-gadis muslim untuk lebih memperhatikan ilmu-ilmu syariat, berdiri tegak dalam menghadapi dampak-dampak propaganda asing dan Barat yang ditujukan kepada masyarakat Islam, dan menjadikan ibu-ibu mukmin sebagai contoh dan model tertinggi untuk memanifestasikan keindahan wajah muslim dan menarik begitu banyak perempuan-perempuan non-Muslim untuk menerima Islam, karena sesungguhnya agama Islam adalah agama yang agung.
Saya juga mengatakan bahwa berdakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan dakwah bukanlah sebatas pada penyampaian satu atau dua kalimat, melainkan bagaimana bersikap dan berperilaku yang tepat dan baiklah yang justru menjadi faktor paling signifikan untuk menarik seseorang ke arah kita. Agama Islam adalah agama amal dan perilaku dimana contoh dan teladan terindah dan tertinggi dari perilaku Islam ini ada pada Khatamul Anbiya Rasulullah Muhammad Musthafa saw, kita bisa mencontoh bagaimana beliau mengajak orang-orang kafir ke agama yang benar. Dan seharusnya kita mengetahui bahwa banyak perempuan-perempuan non-Muslim yang tertarik dengan para muslimah yang komitmen, saya melihat sendiri hal itu. Para gadis-gadis muslimah bisa berdakwah di negara-negara mereka sendiri secara sukarela atau ketika mereka tengah melakukan perjalanan. (Shabestan)