Tampilkan postingan dengan label PAGAR NUSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAGAR NUSA. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Agustus 2012
Gus Maksum Guru Besar Pagar Nusa
KH.MUHAMMAD ABDULLAH MAKSUM JAUHARI
Beliau akrab dipanggil Gus Maksum adalah seorang Ulama,kyai,guru
spiritual,petani,peternak dan pengayom Masyarakat,Gus Maksum adalah
seorang pendekar sejati yang sangat teguh pendirian,tegas dalam bersikap
dan paling tidak suka pada segala bentuk kemungkaran lugas dalam
berbicara,lembut,sederhana dan bersahaja dalam penampilan kesehariannya.
Tokoh kelahiran Kanigoro,Kras Kediri 8 Agustus 1944 adalah pribadi yang
unik,seunik penampilannya yang selalu berambut
gondrong,bersarung,kadangkala bersandal bakiak,berpakaian seadanya,tidak
makan nasi/ngrowot dan beragam keunikan lainnya.
Beliau wafat pada hari senin 22 Desember 2003, Meninggalkan suri
tauladan bagi santri dan masyarakat Serta mewarisi keilmuan silat yang
sempurna IKATAN PENCAK SILAT NU PAGAR NUSA.
Oleh karena itu selayaknya profil beliau kita abadikan agar kita dapat
lebih mengenal beliau yang bukan saja seorang pesilat tapi banyak sisi
lain yang bisa kita pelajari,sebab beliau tidak hanya konsens disatu
bidang saja.disamping itu agar jasa-jasa beliau tidak hilang begitu saja
dilupakan,sehingga generasi mendatang bisa meneladani hal-hal positif
yang telah ia torehkan.
Ayah Gus Maksum adalah KH.Abdullah Jauhari bin KH.Fadil Batokan daerah
yang masuk kecamatan semen Kediri.Ibu Beliau adalah Nyai Hj.Aisyah
putrid dari KH.Abdul Karim pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri
Sejak si jabang bayi masih dalam kandungan,Kiai Jauhari dan Nyai Aisyah
biasa membacakan Al-Qur’an,Asmaul Husna,Wirid,Shalawat dengan harapan
agar kelak bayi yang dilahirkan menjadi seorang anak yang berguna bagi
Agama,Nusa dan Bangsa.
Bayi itu kemudian di namakan Muhammad Abdullah Maksum,Waktu terus
berjalan bayi itupun beranjak besar tumbuh sebagai anak yang sehat dan
bungsu dari ketiga kakak perempuan.wajar jika ia sangat diistimewakan
dalam pandangan orang tuanya.
Namun walaupun diistimewakan Gus Maksum kecil bukanlah anak yang
manja,justru ia sangat rajin membantu orang tuanya dan sangat patuh
terhadap mereka,tak pernah membantah apa yang diperintahkan kedua orang
tuanya.Kepatuhan ini bahkan tetap dibawanya sampai ahir hayat.
Gus Maksum kecil sangat cerdas,sejak dini ia sudah dikenalkan dengan
ilmu agama,ia bersama ketiga kakak perempuannya dididik langsung oleh
Kiai Jauhari dengan pengawasan sangat ketat,setiap jam 01.00 dini
hari,Mereka di bangunkan mengambil air wudlu dan shalat malam,kemudian
dilanjutkan mengkaji pelajaran.Hal ini berlangsung hingga Gus Maksum
kecil pindah kepesantren kakeknya Lirboyo.
Pendidikan formalnya dimulai di sekolah dasar di Kanigoro dan kemudian
melanjutkan kejenjang sekolah lanjutan tingkat pertama di pondok
pesantren Lirboyo.Dalam membaca Al-Qur’an beliau dibimbing langsung oleh
kakeknya KH.Abdul Karim dan Nyai Hj.Khadijah Karim,hingga tak heran ia
dikenal sangat fasih dalam melafalkan Ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Selama menetap di Lirboyo,Beliau banyak menimba ilmu Agama kepada
beberapa kiai di Kediri dan sekitarnya seperti Kyai Jamaludin
Batokan,Kyai Jufri,Mbah JIPANG, jipang akronim dari ngaji gampang,nama
aslinya adalah Kyai Muhammad Batokan.
Jiwa pesantren sangat melekat pada diri Gus Maksum diantaranya adalah
kesederhanaan,kesopan santunan,kepedulian social,dan kepatuhan kepada
orang tua dan guru.jiwa pesantren itulah yang membentuk kepribadiannya
sejak kecil hingga tua.Kesalehan pribadi dan sosialnya itu hasil dari
pendidikan pesantren yang di enyamnya.
Gemar silat sejak kecil
Pertama mengenal silat dari belajar dari seorang pesilat,pengembara dari
rengas dengklok,kerawang Jawa Barat (aliran cikaret,cikalong) bernama
A.Fathoni metode yang diajarkan setahap demi setahap kemudian
dikembangkan secara otodidak ilmu silat yang dipelajari diperdalam
sedikit demi sedikit sehingga menjadi permainan silat yang sangat
atraktif dan menarik.
Selanjutnya Gus Maksum mengembara dari satu guru silat keguru yang lainnya tanpa meninggalkan mengaji dan sekolah.
Diawali dari guru silat disekitar Kediri,guru silatnya diantaranya,Kyai
Kasidak (tinggal antara Kediri Blitar) H.Munawar Jabang Kediri,Bapak
Muhajir Mondo Kediri,H.Zaenal Kediri.
Masa Muda Gus Maksum
Masa muda adalah masa yang indah,kadang-kadang seseorang melalui masa
mudanya dengan bersenang-senang,santai bahkan cendrung berfoya-foya.Tapi
hal itu tidak berlaku bagi Gus Maksum,Masa muda beliau banyak
dihabiskan untuk mempelajari segala yang diperlukan sebagai bekal dihari
tua,Mengaji,Sekolah,riadlah,belajar silat dan olah kanuragan adalah
rutinitas masa mudanya.Beliau sering member nasehat “ TIDAK ADA KAMUS
UNTUK BERFOYA-FOYA DALAM MENJALANI KEHIDUPAN,PEMUDA YANG MENGHABISKAN
WAKTUNYA HANYA DENGAN KESENANGAN TEMPORAL BELAKA ADALAH PEMALAS YANG
MISKIN IDENTITAS,KERING KREATIVITAS DAN HAMPA MILITANSI,TYPE MANUSIA
YANG KEMANA ANGIN BERHEMBUS KESANA IA REBAH DAN TERJATUH” Oleh karena
itu hari hari Gus Maksum selalu diisi denagn belajar dan belajar.Tidak
ada waktu kosong untuk berleha-leha,seluruh waktunya digunakan untuk
melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Dalam olah batin dan kanuragan,beliau mempelajari dengan mengembara dari
satu guru keguru yang lainya seperti halnya dengan silat,Beberapa Guru
yang pernah disinggahi antara lain,Kiai Mansur Kali Pucung Blitar ( yang
masih termasuk kakeknya dari jalur bapak ) selanjutnya Kiai Ahmad
Kemuning Kediri,Kiai Ibrahim Banjar melati Kediri,Habib Jufri Mrican
Kediri,dan Habib Baharun Mrican Kediri.
Guru beliau yang paling berpengaruh adalah Kyai Mahrus Ali dan Kyai
Ya’kub (Lirboyo) kedua orang ini sangat terkenal memiliki kemampuan
silat dan ilmu kanuragan yang mumpuni dan banyak memiliki ilmu karomah
warisan wali songo.
Merasa belum puas dengan ilmu yang diperolehnya,Gus Maksum kembali
mengembara kebeberapa pelosok nusantara diantaranya ke daerah Jawa Barat
dan akhirnya sampailah ke Cirebon tepatnya ke Buntet Pesantren,disana
beliau berguru langsung kepada kyai Ilyas dan Kyai Busro dan beberapa
kyai buntet yang lainya yang masih keturunan Kyai Abbas Cirebon.
Gus Maksum dan Fenomena dirinya

Setiap orang pasti memiliki kelebihan pada dirinya,hal ini juga terdapat
pada figure seorang Gus Maksum,kisah-kisah berikut ini adalah
berdasarkan fakta yang diceritakan langsung oleh beberapa nara sumber
baik yang ikut bersama Gus Maksum maupun yang melihat langsung
kejadian-kejadian itu.Fenomena-fenomena keluarbiasaan ini disangkalnya
tatkala dikonfirmasi kepada beliau ketika masih hidup.Beliau selalu
mengatakan bahwa kejadian-kejadian yang dialaminya itu semata-mata
hanyalah atas izin dan pertolongan Allah tidak lebih dari itu
Keistimewaan sejak kecil
Keistimewaan-keistimewaan Gus Maksum sudah tampak sejak kecil.pada waktu
itu Gus Maksum kecil mampu melompat melayang dari satu tiang ketiang
yang lainnya di masjid Kanigoro,ia juga mampu berputar cepat diatas
piring tanpa pecah laksana Gangsing,padahal waktu itu ia belum mahir
ilmu silat.
Gus Maksum kecil juga pernah melempar seekor kuda seperti melempar
sandal.padahal waktu itu bobot angkatan beliau tidak lebih dari 20 Kg.
Dimasa remaja Gus Maksum pernah membantu salah seorang familinya untuk
memasang lembu bajakannya.ketika hendak memasang tiba-tiba lembu itu
mengamuk dan dengan cepat dan kuat menerjang kearah dada Gus
Maksum.dengan reflex beliau menangkis dan berbalik menerkam,dan apa yang
terjadi membuat semua orang yang melihatnya heran karena lembu itu
terpelanting beberapa meter jauhnya,menanggapi kejadian tersebut Gus
Maksum hanya berkata semua hanyalah kebetulan saja dan berkat
pertolongan Allah SWT.
Rambut tidak mempan dipotong / Kyai Gondrong
Penampilan Gus Maksum dengan rambut gondrongnya bukan sekedar gaya atau
hobi semata.Tetapi Rambut Gondrongnya itu merupakan sebuah ijazah yang
didapat dari guru beliau yaitu Habib Baharun Mrican Kediri,hasil dari
pengamalan itu sering terjadi keanehan keanehan terkait dengan rambut
beliau ini,seperti rambut beliau bisa berdiri,bisa mengeluarkan
api,serta tidak mempan dipotong.
Bukti daripada itu adalah,pada decade 1970-an beliau pernah terjaring
razia rambut panjang.namun terjadi keanehan,setiap kali aparat
menggunting rambutnya,rambut itu tidak terpotong bahkan setiap gunting
yang tajam beradu dengan rambut beliau selalu mengeluarkan percikan
api.Kejadian ini pernah dimuat di harian republika.
Menaklukan Jin
Berbicara tentang Gus Maksum orang awam biasanya akan langsung
berasosiasi tentang jin,tapi apakah benar Gus Maksum memelihara jin
seperti banyak diperbincangkan orang?
Anggapan ini tidaklah benar,yang benar Gus Maksum tidak pernah
memelihara jin,tapi kalau beliau sering menaklukan jin yang mengganggu
itu memang benar,Gus Maksum pernah menaklukan Patihnya jin namanya Jin
Dempul ketika Gus Maksum menolong orang yang kesurupan,orang tersebut
berhasil disembuhkan Gus Maksum setelah jin didalam tubuh orang itu
berhasil ditaklukan.
Menghadapi puluhan orang sendirian
Salah satu kisah yang menunjukan keberanian Gus Maksum adalah ketika
beliau harus bentrok dengan orang-orang PKI di alun-alun.Gus Maksum yang
waktu itu sangat muda usianya mampu mengalahkan mereka semua.
Dalam pertempuran itu Gus Maksum bukan hanya menggunakan olah kanuragan tapi juga dengan olah batinnya.
Peristiwa lain ketika Gus Maksum diundang menghadiri pertandingan silat
di Kediri Timur,saat itu beliau bertarung melawan pendekar silat,jago
duel dari berbagai macam aliran silat yang sudah berkumpul disitu.Karena
telah memiliki bekal dan kemampuan yang terlatih sejak kecil Gus Maksum
mengalahkan puluhan pesilat sendirian,Bahkan lawan terakhir berhasil
dikalahkan dengan sangat mudah peristiwa ini terjadi saat usia beliau 16
Tahun.
Dan itulah peristiwa paling dramatik membuat para pendekar lainnya harus mengakui kemampuan Gus Maksum di dunia persilatan
Ban bocor hanya dengan acungan jari
Saat NU masih menjadi partai massa NU sering bentrok dengan massa LDII
dulu bernama Darul Hadits waktu itu termasuk underbow dari GOLKAR,suatu
ketika massa LDII/Golkar berkonvoi melewati jalan depan Pesantren
Lirboyo,saat itu Gus Maksum sedang menerima tamu.
Ketika arak-arakan itu sampai depan ndalem Gus Maksum,beliau langsung
keluar karena mendengar bising suara knalpot dan klakson kendaraan yang
memekakan telinga.Melihat gelagat yang kurang baik ini secara reflek Gus
Maksum mengacungkan jari telunjuknya kearah mereka.keajaibanpun terjadi
dengan serta merta seluruh ban kendaraan yang mereka tumpangi bocor
secara serentak,karena bannya bocor rombongan konvoi itu tidak bisa
melanjutkan arak-arakan.Akhirnya terpaksa mereka pulang dengan mendorong
kendaraannya masing-masing.
Tidak mempan senjata tajam
Hal ini terbukti saat beliau melawan orang-orang PKI dahulu.Setiap
Bacokan dan tebasan senjata tidak pernah bisa mengenai tubuh
beliau,bahkan senjata lawan selalu berhenti jarak satu kilan dari
tubuhnya.kalaupun ada yang sampai mengenai tubuh beliau,senjata-senjat
tak ada satupun yang melukai beliau.
Keistimewaan ini juga terbukti ketika beliau di undang pengajian di
daerah Sragen Jawa Tengah pada tahun 1999,Waktu itu tanpa ada sebab yang
jelas tiba-tiba ada orang yang menikamnya Untungnya Gus Maksum tidak
terluka sedikitpun hanya pakaian yang dipakai robek kena tikaman,lalu
pakaian itupun beliau simpan karena pemberian dari salah seorang
sahabatnya.
Tidak mempan di santet
Kalau bicara santet,banyak sekali pengalaman yang beliau dapatkan,Hampir
semua aliran ilmu santet di kenalnya,dan sudah tidak terhitung
banyaknya dukun santet yang pernah dihadapi,sejak kecil Gus Maksum sudah
terbiasa menghadapi berbagai macam-macam aliran ilmu santet.Beliau juga
tidak segan-segan untuk menantang para dukun santet secara
terang-terangan.Hal itu dilakukan karena santet menurut Gus Maksum
termasuk kemungkaran yang harus dilawan.
Kekebalan Gus Maksum terhadap santet juga sudah pembawaan sejak
lahir,karena beliau juga masih keturunan Kiai Hasan Besari
(ponorogo).Menurut Gus Maksum sebagai muslim tidak perlu khawatir
terhadap santet,karena santet hanya bisa dilakukan oleh orang-orang
kufur atau murtad,yang penting seorang muslim haruslah selalu ingat
kepada Allah dan bertawakal kepadaNya.
Diantara pengalaman Gus Maksum mengenai santet diantaranya dialaminya
ketika menginap di desa Wilayu,Genteng,BanyuWangi,sekitar jam setengah
dua malam,saat beliau hendak istirahat,tiba-tiba dari arah kegelapan
muncul bola api sebesar telur terbang menuju kearah pahanya.Dengan
santai Gus Maksum membiarkan bola api itu mendekatinya.Ketika bola api
itu sampai ke paha,Beliau Cuma Tanya”Banyol tha (mau bercanda ya?)
seketika itu juga bola api itu melesat pergi ditengah kegelapan malam.
Satu lagi kejadian yang pernah dialaminya,ketika bermalam didesa
Kraton,Ranggeh saat Gus Maksum beristirahat,beliau di datangi kera
jadi-jadian yang berusaha mencekiknya,tapi usaha itu dibiarkannya
saja,setelah beberapa lama baru ditanya Gus Maksum “mau main-main ya?
Langsung saja kera itu lari menghindar dari Gus Maksum.
Surat sakti
Gus Maksum pernah kedatangan tamu dari semarang yang mengeluhkan
kelakuan putranya yang suka mabuk-mabukan dan sering pergi
kelokalisasi,bahkan putranya sering mengancam akan membunuh orang
tuanya.Karena sudah tak tahan melihat kelakuan putranya itu,ia pergi
kerumah Gus Maksum di Kediri,dengan harapan mendapat obat untuk
mengobati prilaku anaknya.Tapi yang diharapkan tidak dipenuhi Gus
Maksum,Beliau hanya membuatkan sepucuk surat untuk dibawa pulang agar
dibacakan kepada anaknya.
Walaupun orang tua itu bingung karena obat yang di harapkannya tidak
diberi,ia tetap melakukan apa yang diperintahkan Gus Maksum dengan
menyampaikan surat itu kepada anaknya,Dan begitulah setelah surat itu
dibacakan kepada anaknya,dalam waktu singkat kelakuan anaknya yang
sebelumnya tidak bisa dikendalikan perlahan berubah.Singkatnya kelakuan
anak itu tidak lagi nakal seperti dulu.
Demikian sebagian Fenomena Gus Maksum
Pagar Nusa: Walisongo Kawinkan Ilmu Beladiri dengan Islam
Jakarta, NU Online
Walisongo menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan pendekatan kultural. Mereka menggunakan budaya sebagai media dakwah. Budaya tersebut kemudian diberi nafas Islam.
Demikian disampaikan salah seorang Pengurus Pusat Pagar Nusa, Gus Yusuf yang dikenal dengan julukan Ki Cokro Santri, selepas acara soft launching Pagar Nusa 2012 di Museum Fatahillah, Jakarta, akhir pekan lalu.
“Misalnya Raden Said yang dikenal Sunan Kalijaga, yang memberikan nafas Islam dalam pagelaran wayang. Wayang itu kan berbasis cerita Mahabarata yang berisi ajaran Hindu-Budha. Kemudian, dengan media yang sama, ajarannya diganti unsur-unsur Islam. Lahirlah istilah jimat kalimosodo,” jelasnya.
Begitu juga dalam ilmu beladiri, lanjut Gus Yusuf yang merupakan pengasuh Paguron Sapujagad yang bernaung di Pagar Nusa ini, Walisongo juga melakukan hal serupa.
“Ilmu Bandungbondowoso dan Rawarontek misalnya, pada mulanya adalah ilmu-ilmu dari ajaran pra-Islam. Tapi kemudian Walisongo mengawinkannya dengan Islam. Maka muncullah kalimah Allah dalam bacaan ilmu itu,” tambahnya.
Menurut Gus Yusuf, hal itu merupakan kerarifan dari Walisongo dalam menyikapi situasi masyarakat pulau Jawa pada waktu itu.
Walisongo menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan pendekatan kultural. Mereka menggunakan budaya sebagai media dakwah. Budaya tersebut kemudian diberi nafas Islam.
Demikian disampaikan salah seorang Pengurus Pusat Pagar Nusa, Gus Yusuf yang dikenal dengan julukan Ki Cokro Santri, selepas acara soft launching Pagar Nusa 2012 di Museum Fatahillah, Jakarta, akhir pekan lalu.
“Misalnya Raden Said yang dikenal Sunan Kalijaga, yang memberikan nafas Islam dalam pagelaran wayang. Wayang itu kan berbasis cerita Mahabarata yang berisi ajaran Hindu-Budha. Kemudian, dengan media yang sama, ajarannya diganti unsur-unsur Islam. Lahirlah istilah jimat kalimosodo,” jelasnya.
Begitu juga dalam ilmu beladiri, lanjut Gus Yusuf yang merupakan pengasuh Paguron Sapujagad yang bernaung di Pagar Nusa ini, Walisongo juga melakukan hal serupa.
“Ilmu Bandungbondowoso dan Rawarontek misalnya, pada mulanya adalah ilmu-ilmu dari ajaran pra-Islam. Tapi kemudian Walisongo mengawinkannya dengan Islam. Maka muncullah kalimah Allah dalam bacaan ilmu itu,” tambahnya.
Menurut Gus Yusuf, hal itu merupakan kerarifan dari Walisongo dalam menyikapi situasi masyarakat pulau Jawa pada waktu itu.
AKTRAKSI PAGAR NUSA (ILMU BADUNG BONDOWOSO DAN RAWA RONTEK)
Jakarta, NU Online
Halaman museum Fatahillah, Jakarta, akhir pekan lalu, dipenuhi orang-orang berpakaian hitam-hitam. Mereka membentuk lima kelompok yang berbaris rapi menghadapi pentas sederhana tanpa lindungan terik matahari pukul sembilan pagi yang menyengat. Mereka adalah 300 pendekar Pagar Nusa yang menghadiri “Soft Launching Festival Pagar Nusa 2012”.
Seorang berpakaian hitam-hitam bernama Sugeng, berlari ke hadapan pentas diiringi rampak gendang berirama padungdung, yang bernada cepat. Ia kemudian berjumpalitan di udara berkali-kali, seolah menerjang musuh di hadapannya. Kemudian ia berhenti, berdiri tegak dan menjura kepada tamu undangan yang duduk di kursi, dinaungi tenda, yang ada di sebelah kanan pentas.
Di tenda itu, tampak Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa KH Fuad Anwar, Staf Ahli Kementerian Pemuda dan Olahraga Tunas Dwidharto, perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif M. Farid, jajaran pengurus Pagar Nusa dan tamu undangan. Mereka menyimak gerak-gerik pendekar Sugeng yang menjura ke empat penjuru arah mata angin.
Kemudian tiga orang menghampiria Sugeng. Mereka mengikatkan sepuluh borgol di kedua pergelangan tangannya, dan dua borgol di kedua ibu jarinya. Sugeng kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Adegan itu, kontan saja menarik perhatian ratusan pengunjung Kota Tua yang sedang berakhir pekan. Tanpa dikomandoi siap pun mereka merangsek, mendekati Sugeng.
Sugeng kemudian menolakkan kedua belah tangannya. Dan seketika itu pula, borgol besi itu berantakan di pelataran halaman museum Fatahillah. Tepuk tangan pun mengiringi jatuhnya besi-besi itu.
“Sugeng menggunakan ilmu Bandung Bondowoso,” terang Gus Yusuf dari Pengurus Pusat Pagar Nusa.
Sugeng kemudian membuka baju hitamnya. Seorang temannya yang menenteng cemeti sepanjang satu setengah meter mendekat. Tanpa tedeng aling-aling, ia menghantam perut dan punggung Sugeng, “tar…tar..tar…”
Tak dinyana, Sugeng hanya senyum-senyum. Ia seolah tak merasa apa-apa, meski garis-garis merah membekas di tubuhnya.
Atraksi selanjutnya semakin berbahaya. Seorang teman Sugeng kali ini yang melakukannya. Kedua tangannya diikat tambang sebesar ibu jari. Kemudian kedua tali itu ditarik dua buah motor bebek. Kedua motor itu digas berbarengan ke arah bertolakkan. Tapi tak seinci pun bannya bergeser.
“Kali ini dia menggunakan Rawa Rontek,” jelas Gus Yusuf lagi menjelaskan atraksi itu. “Kalaupun tubuhnya penggal, pemilik ilmu itu akan tenang-tenang saja karena bagian tubuhnya akan nyambung kembali,” tambahnya.
Redaktur: A. Khoirul Anam
Penulis: Abdullah Alawi
Halaman museum Fatahillah, Jakarta, akhir pekan lalu, dipenuhi orang-orang berpakaian hitam-hitam. Mereka membentuk lima kelompok yang berbaris rapi menghadapi pentas sederhana tanpa lindungan terik matahari pukul sembilan pagi yang menyengat. Mereka adalah 300 pendekar Pagar Nusa yang menghadiri “Soft Launching Festival Pagar Nusa 2012”.
Seorang berpakaian hitam-hitam bernama Sugeng, berlari ke hadapan pentas diiringi rampak gendang berirama padungdung, yang bernada cepat. Ia kemudian berjumpalitan di udara berkali-kali, seolah menerjang musuh di hadapannya. Kemudian ia berhenti, berdiri tegak dan menjura kepada tamu undangan yang duduk di kursi, dinaungi tenda, yang ada di sebelah kanan pentas.
Di tenda itu, tampak Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa KH Fuad Anwar, Staf Ahli Kementerian Pemuda dan Olahraga Tunas Dwidharto, perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif M. Farid, jajaran pengurus Pagar Nusa dan tamu undangan. Mereka menyimak gerak-gerik pendekar Sugeng yang menjura ke empat penjuru arah mata angin.
Kemudian tiga orang menghampiria Sugeng. Mereka mengikatkan sepuluh borgol di kedua pergelangan tangannya, dan dua borgol di kedua ibu jarinya. Sugeng kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Adegan itu, kontan saja menarik perhatian ratusan pengunjung Kota Tua yang sedang berakhir pekan. Tanpa dikomandoi siap pun mereka merangsek, mendekati Sugeng.
Sugeng kemudian menolakkan kedua belah tangannya. Dan seketika itu pula, borgol besi itu berantakan di pelataran halaman museum Fatahillah. Tepuk tangan pun mengiringi jatuhnya besi-besi itu.
“Sugeng menggunakan ilmu Bandung Bondowoso,” terang Gus Yusuf dari Pengurus Pusat Pagar Nusa.
Sugeng kemudian membuka baju hitamnya. Seorang temannya yang menenteng cemeti sepanjang satu setengah meter mendekat. Tanpa tedeng aling-aling, ia menghantam perut dan punggung Sugeng, “tar…tar..tar…”
Tak dinyana, Sugeng hanya senyum-senyum. Ia seolah tak merasa apa-apa, meski garis-garis merah membekas di tubuhnya.
Atraksi selanjutnya semakin berbahaya. Seorang teman Sugeng kali ini yang melakukannya. Kedua tangannya diikat tambang sebesar ibu jari. Kemudian kedua tali itu ditarik dua buah motor bebek. Kedua motor itu digas berbarengan ke arah bertolakkan. Tapi tak seinci pun bannya bergeser.
“Kali ini dia menggunakan Rawa Rontek,” jelas Gus Yusuf lagi menjelaskan atraksi itu. “Kalaupun tubuhnya penggal, pemilik ilmu itu akan tenang-tenang saja karena bagian tubuhnya akan nyambung kembali,” tambahnya.
Redaktur: A. Khoirul Anam
Penulis: Abdullah Alawi
PAGAR NUSA DAN GUS MAKSUM
Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam
pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih,
tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga
berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan
kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji.
Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding.
pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih,
tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga
berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan
kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji.
Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding.
Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren.
Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia
pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian
menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.
Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia
pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian
menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.
Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari
Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan
menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus
Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang
beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”.
Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan
menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus
Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang
beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”.
berkumpulah mereka di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk
membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus
mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat
dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon,
bahkan dari pulau Kalimantan pun datang.
Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok
Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Sang Pendekar, Gus
Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak
silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa yang
merupakan kepanjangan dari Pagarnya NU dan Bangsa. Kontan para
musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus
Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH.
Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH. Ahmad Sidiq.
Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Sang Pendekar, Gus
Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak
silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa yang
merupakan kepanjangan dari Pagarnya NU dan Bangsa. Kontan para
musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus
Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH.
Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH. Ahmad Sidiq.
Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944,
salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim.
Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH. Abdullah Jauhari di
Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke
Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih
senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam,
pengobatan dan kejadukan (*Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista
Surabaya*).
salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim.
Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH. Abdullah Jauhari di
Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke
Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih
senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam,
pengobatan dan kejadukan (*Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista
Surabaya*).
Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku *nyeleneh* menurut adatkebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong,
jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu
memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren,
Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias *ngerowot*. Uniknya lagi, dia suka
memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum
memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas,
buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.
Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya
tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus
Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar
biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin,
kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan
laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang
mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para
pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk
membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui
Pagar Nusa.
tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus
Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar
biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin,
kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan
laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang
mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para
pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk
membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui
Pagar Nusa.
dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik
praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa
warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan
PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan
Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan
PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium.
Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun
eksekutif. Pendekar *ya *pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21
Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo
dengan meninggalkan semangat dan keberanian
Langganan:
Postingan (Atom)




