Senin, 19 September 2011

MA’HAD TAHFIDH AL-QUR’AN AL-AMIEN PRENDUAN

A. LATAR BELAKANG BERDIRINYA

Secara histories ada beberapa sumber inspirasi yang melatar belakangi berdirinya Ma’had Tahfidh Al-Qur’an Al-Amien, antara lain:
  1. Kejayaan Islam di abad keemasan ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh yang sejak dini telah ditanamkan kecintaan dan komitmen yang kuat kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga mereka rata-rata hafal Al-Qur’an sejak masa kecil dan mengusai ilmu-ilmunya (Qiraatan, hifdzan, fahman wa tafsiran) serta mampu mengamalkan ajaran-ajarannya secara kaffah. Hal ini tercermin dalam pola hidup mereka yang penuh zuhud dan waro’, kemampuan memadukan fikir dan Dzikir, sikap yang positif dan pandangan yang undichotomatis terhadap iptek, ruhul ijhad dan ijitihad yang tinggi untuk berjasa sebesar-besarnya bagi agama dan ummat manusia, semangat yang tak pernah padam untuk berkreasi dan berprestasi dalam berbagai bidang dan lain-lain yang menjadi ciri sifat keberagamaan dan keilmuan saat itu.
  2. Semangat untuk memberikan kontribusi yang besar bagi upaya penggalian dan pengembangan iptek dan para khalifah, ulama’ dan cendikiawan muslim, yang terkenal dalam sejarah melalui berdirinya Universitas-universitas Islam, secara implisit telah diakui sebagai pemberi ilham bagi berdirinya Universitas-universitas di Eropa. Demikian Pula “Baitul Hikmah” (The House Of Wisdom) perpustakaan terbesar di kota Baghdad yang didirikan oleh kholifah Al-Makmum, dan menjadi tempat berkumpulnya cendikiawan dari berbagai penjuru dunia yang telah mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan iptek zaman itu.
  3. Perkembangan IPTEK di Era Globalisasi dan Informasi saat ini tidak saja menuntut para santri di masa yang akan datang untuk menguasai pengetahuan luas dan teknologi canggih atau memiliki kemampuan antisifatif terhadap perubahan yang terjadi di luar dirinya (Baik yang bersifat mikro ataupun makro), agar mereka bisa memberikan kontribusi yang lebih bermakna bagi upaya “I’dadi izzil Islam Walmuslimien”.
  4. Tradisi pendirian jama’ah Tahfidh Al-Qur’an di berbagai masjid timur tengah yang telah mampu melahirkan beribu-ribu tokoh dan pemimpin ummat formal dan informal, ilmuan, teknokrat dan budayawan yang telah memperoleh pengakuan dunia internasional.
  5. Tradisi turun temurun di kalangan Keluarga Besar Syaikh Ismail Mandurah (Buyut para pengasuh Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN saat ini), seorang ulama’ Muhaffidh kota sampang yang kemudian banyak melahirkan para huffadh di Indonesia dan di Mekkah Al-Mukarromah. Suatu tradisi yang seharusnya dilestarikan oleh cucu-cucunya.
B. SEJARAH BERDIRINYA
KH Ahmad Djauhari dalam usahanya memajukan pendidikan Islam, pondok pesantren, serta madrasah-madrasah, maka beliau selalu memperkuat cita-citanya yang tinggi, yaitu ingin mempunyai pesantren di tempatnya, seperti halnya sistem pendididikan modern ala Gontor Ponorogo. Karena besarnya kehendak dan cita-citanya sampai putera-puteranya dan putera-putera familinya, keluarga dan kawan-kawannya tidak kurang dari sepuluh orang diusahakan menjadi pelajar aktif di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo.
Ternyata dari besarnya kemauan (himmah) dan cita-citanya, berhasillah putera-puteranya lulus dari Pondok Pesantren Modern Gontor dan meneruskan pendidikannya ke Universitas di kerajaan Saudi Arabia, dan adapula yang meneruskan ke Universitas al-Azhar di Kairo Mesir serta perguruan-perguruan tinggi lainnya.
Maka kini berdirilah di tempat tinggalnya pondok pesantren yang diberi nama”Al-Amien” di Prenduan Sumenep Madura yang mana sekarang ini merupakan Pondok Pesantren terbesar di pulau Madura dan sistem pembelajarannya disamakan dengan Pondok Pesantren Modern Gontor.
Nama “Al-Amien” dipilih dan ditetapkan sebagaimana pondok pesantren ini sebagai idenditas, apresiasi, dan obsesi yaitu:
Tasmiatan”,(pemberian nama), yaitu agar pesantren ini memiliki nama dan idenditas yang jelas, karena memang sebelumnya belum mempunyai nama.
Tansiqan”,(koordinasi) yaitu sebagai upaya mengkoordinir seluruh lembaga yang ada di lingkungan pesantren ini. Karena pesantren ini mempunyai beberapa lembaga pendidikan diantaranya: lembaga pendidikan sekolah dari jenjang TK sampai perguruan tinggi, Tarbiatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI), Tarbiatul Mu’allimat al-Islamiayah (TMaI/TMI), dan Ma’had Tahfidhul-Qur’an (MA’HAD TAHFIDHUL QUR’AN), Institut Dirosah Al-Islamiah Al-Alamien (IDIA) Prenduan yang kesemuanya dibawah naungan Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN.
Tarikhan”,(mengenang sejarah), yaitu mengenang generasi kepada pelanjut di mana awal berdirinya pesantren ini atas sumbangan (wakaf) tanah dari masyarakat yang dipercayakan kepada pendiri pondok (KH. Djauhari) untuk dijadikan lembaga Pondok Pesantren.
Taqdiran” wa Takhlidan”,(penghargaan dan pengabdian),yaitu sebagai penghargaan kepada pendiri pesantren ini, Kyai Djauhari, sekaligus untuk mengabadikan nama kecilnya “Muhammad Amien”.
Tafa’ulan”,(menumbuhkan optimisme), yaitu agar selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW.(Al-Amien), dengan harapan agar santri-santri Al-Amien Prenduan menjadi orang-orang yang bisa di percaya, kapan saja dan dimana saja.
Berangkat dari obsesi lama untuk mendidik generasi “hafadhotul Qur’an” yang mampu menjawab tantangan zaman dan tuntutan umat, maka pada tahun 1990 di AL-AMIEN PRENDUAN dibuka kembali “Jama’ah Tahfidh” di kalangan santri-santri senior. Kemudian lewat syekh Bakar Khumais, seorang dermawan Saudi Arabia bernama Syekh Ahmad Hasan Fatihy bersedia menyediakan dana yang cukup untuk membuka lembaga khusus Tahfidhul Qur’an.
Untuk itu, pada pertengahan bulan Sya’ban 1411 H, atau Februari 1991 M, Kyai Idris Djauhari bersama Kyai ‘Ainul Haq dan K.H. Zainulloh Rois, Lc berkeliling ke beberapa ma’had Tahfidhul Qur’an di Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah, untuk studi banding mencari pola atau sistem yang representatif bagi Ma’had Tahfidhul Qur’an AL-AMIEN PRENDUAN itu, selain menemui beberapa pakar untuk minta pendapat mereka tentang hal tersebut. Akhirnya didapatkanlah suatu pola konvergensif integratif, dengan sistem Ma’had Tahfidh yang lazim berlaku di dalam dan di luar negri, dengan sistem sekolah yang berupa SMP, SMA, dan MAK, dengan masa studi selama 6 tahun.
Setelah segala persiapan matang, maka tepat pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Rabi’ul Awal 1412H atau 21 September1991 M. Kyai Tidjani Djauhari meresmikan berdirinya Ma’had Tahfidhul Qur’an AL-AMIEN PRENDUAN, dengan jumlah santri pertama sebanyak 28 orang, hasil seleksi dari 50 orang. Secara formal mereka belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tahfidh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar