Selasa, 14 Agustus 2012

PENCAK SILAT GHUL-GHUL MADURA

Seni Pertarungan yang Memikat

Berbicara tentang Pencak Silat, maka yang ada di pelupuk mata adalah sebuah pertarungan yang menegangkan sekaligus mengasyikkan. Ketegangan itu dibangun ketika menyaksikan kecepatan serta keluwesan gerakan yang dipertontonkan oleh para pesilat. Konon, seni bela diri ini asli Indonesia dan telah menyebar merata di seluruh kepulauan nusantara. Bahkan melanglang sampai ke negara tetangga, Malaysia, Thailand dan Cina.
Seni bela diri Pencak Silat merupakan sebuah prosesi pertarungan yang melibatkan satu orang (tunggal), dua orang (berpasangan) atau lebih dalam sebuah arena. Dalam pertarungan Pencak Silat ini, ada yang menggunakan senjata tajam atau hanya menggunakan tangan kosong. Adapun gerakan yang paling spesifik dari Pencak Silat adalah lompatan-lompatan energik dan luwes, tangkas serta sedikit banyak mengandung unsur seni akrobatik. Disamping itu, gerakan-gerakan dalam Pencak Silat mempunyai persamaan dengan seni tari dari segi ketepatan gerak, gerak di udara dan seni pertarungan. Dan didalamnya terdapat tehnik pengendalian diri, baik dari segi mental dan fisikal.
Disamping menguasai tehnik bertarung yang mengandalkan kecekatan, ketangkasan dan kemahiran, para jawara silat biasanya membekali diri dan menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya. Penguasaan ilmu kekebalan tubuh ataupun ilmu tenaga dalam (kanoragan) diyakini akan mampu memberikan support kekuatan mental.
Selain digunakan dalam  pertarungan, gerakan-gerakan Pencak Silat sering dimodifikasi menjadi gerakan dasar tarian dalam genre kesenian. Pengaruh pola gerak Pencak Silat dapat diketemukan pada kesenian Topeng, Ludruk, tari laki-laki dalam tayub dan beberapa gaya hadrah. Pada umumnya, pemakaian acuan gerakan Pencak Silat berkenaan dengan pengungkapan tantangan, keberanian, kewiraan, kekuatan serta rasa percaya diri baik dari segi fisikal dan metal.
Penyebaran seni Pencak Silat di berbagai daerah di nusantara, ternyata mampu menciptakan gerakan-gerakan, gaya serta versi yang berbeda, sesuai dengan lingkungan, situasi dan kondisi daerah. Begitu pula yang terjadi di wilayah Sumenep, seni bela diri Pencak Silat pertama kali menjadi andalan para putra raja di lingkungan keraton, setelah itu menyebar di kalangan rakyat dan sangat diminati oleh kalangan pemuda. Pada akhirnya jenis seni Pencak Silat menjadi primadona di kalangan rakyat kebanyakan
Dalam perkembangannya, seni bela diri Pencak Silat mengalami pembaharuan yaitu dengan memasukkan unsur seni lainnya dalam setiap pementasan. Unsur tari dan unsur musik tersebut tidak mengurangi substansi dan nilai-nilai yang ada, bahkan cenderung memperkuat dengan kemasan gerakan-gerakan yang lebih indah. Masyarakat pencinta Pencak ini menamakan “Silat Ghul-Ghul”. Nama Ghul-Ghul berasal dari kependekan Guluk-Guluk.
Pencak Silat Ghul-Ghul pada awalnya dikembangkan di lingkungan pondok Pesantren, dan merupakan perpaduan antara pencak silat dan musikal. “Pencak” yang mempertontonkan kecekatan, ketangkasan dan ketahanan fisik serta ilmu tenaga dalam ini mampu diperagakan dalam gerakan-gerakan luwes, indah dan gemulai serta diiringi oleh hentikan alat musik gendang. Tidaklah mengherankan kalau perpaduan gerak tangkas dan gerakan luwes tarian tersebut mampu menarik minat serta menyedot perhatian masyarakat untuk mempelajarinya. Sehingga pada masa itu perkumpulan-perkumpulan silat Ghul-Ghul tumbuh bagai jamur di musim penghujan.
Modifikasi Berbagai Aliran Silat
Seperti halnya permainan Pencak silat pada umumnya, dasar-dasar dari gerakan silat adalah sama. Gerakan pencak yang dimainkan biasanya memodifikasi dari berbagai gerakan silat yang sudah ada, serta memainkan dari berbagai versi daerah. Pada umumnya para pesilat Ghul-Ghul didominasi pesilat laki-laki. Dalam setiap pementasan pesilat ini memperagakan gaya permainan yang sudah dibakukan, diantaranya ; gaya Malaju berasal dari Sumenep, gaya Bhabiyan berasal dari pulau Bawean, gaya Cemandik berasal dari Betawi dan gaya Pamor yang berasal dari Pamekasan.
Adapun ciri-ciri yang membedakan gerakan-gerakannya, sebagai berikut ;
  1. Gaya Malaju (Sumenep) gerakan dalam gaya ini sangatlah halus, luwes dan gemulai. Dibalik kehalusan dan keluwesan, setiap gerakan yang dimainkan mengandung tenaga dalam tinggi. Setiap tendangan yang dilontarkan mengandung jurus-jurus mematikan.
  2. Gaya Bhabiyan (Bawean), gaya permainan ini adalah perpaduan silat dan tari. Sehingga tidaklah mengherankan kalau gaya Bhabiyan  cenderung  pada gerakan-gerakan tarian dan keindahan penampilan. Tujuan dari permainan gaya ini adalah menciptakan suasana menyenangkan. Sehingga jurus-jurus yang dimainkan tidak mengandung tenaga dalam tinggi serta tendangan-tendangan yang dilontarkan tidak hebat dan mematikan.
  3. Gaya Cemandik (Betawi), gaya ini mirip gaya Bhabiyan, yaitu gerakan-gerakan silat cenderung pada gerakan tarian.  Namun dibalik keindahan dan keluwesan setiap gerakan, mengandung satu kekuatan tenaga dalam yang dahsyat dan mematikan.
  4. Gaya Pamor (Pamekasan), permainan dalam gaya ini cenderung kasar. Setiap gerakan yang dimainkan adalah mempertontonkan kepandaian dan ketangkasan bertarung. Namun dalam diri para pesilat tidak mempunyai/memiliki tenaga dalam dan jurus-jurus yang dimainkan tidak mematikan.  Oleh sebab itu, ketika tampil  para pesilat melengkapi penampilannya dengan senjata tajam, misalnya celurit. Alat tersebut digunakan untuk memamerkan keperkasaan.
Adapun alat musik pengiring permainan silat Ghul-Ghul, terdiri dari beberapa alat musik, yaitu  1 gendang besar, 3 gendang kecil (ketipung), 1 jidur dan 1 kerca. Adapun para penabuh terdiri dari 5 personel. Tujuan dari memasukkan unsur musik adalah memberikan semangat agar permainan silat Ghul-Ghul semakin menyenangkan dan menggairahkan.
Dalam setiap pementasan, unsur musik menjadi sangat dominan ketika mengikuti langkah-langkah kaki para pesilat saat berlaga. Permainan irama dalam musik pun beragam, disesuaikan dengan gaya yang dimainkan oleh para pesilat. Adapun irama musik yang dimainkan silat Ghul-Ghul pada saat pementasan, pertama, irama  Serama, yang terdiri dari dua unsur, Serama Teter dan Serama Biyasa,  kedua ; irama Bhabiyan, terdiri dari dua, yakni Bhabiyan Sumenebben dan Bhabiyan Palembhang.  Ketika  menampilkan pencak gaya Malaju, irama yang dimainkan adalah irama musik Serama, gaya Cemandik, diiringi irama Serama Teter, gaya Bhabiyan diiringi oleh irama Serama Teter, gaya Bhabiyan Sumenebben dan Bhabiyan Palembhang memakai irama Serama Teter. Untuk gaya Pamor, irama musik yang dimainkan adalah Serama Biyasa.
Ketika sedang beristirahat permainan musik tetap dimainkan, adapun nama irama-nya adalah ; Ayak Komedi, Ayak  Sampang, Polisiyan dan Tenggian.  instrumental yang didominasi pukulan gendang tersebut, ternyata mampu membangkitkan  kegairahan kepada para pesilat untuk lebih piawai menunjukkan kecepatan dan ketepatan pukulan sekaligus mempertontonkan kelenturan tubuh. Sehingga tontonan yang dikemas dalam pementasan tersebut semakin memikat.
Prosesi Pertunjukan
Komunitas pencinta Pencak Silat Ghul-Ghul hanya ada di wilayah kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep. Komunitas ini setiap setengah bulanan mengadakan pertemuan rutin dengan cara menampilkan acara Pencak di sebuah arena terbuka. Biasanya pementasan diadakan bergiliran sesuai dengan jadwal yang diatur, atau pada saat salah satu anggota memperoleh undian arisan. Selain itu perkumpulan tersebut sering diundang ketika seseorang sedang melaksanakan hajatan ataupun dalam acara pengajian. Tak jarang beberapa perkumpulan silat Ghul-Ghul tampil dalam satu arena, dengan tujuan adu kepandaian, kepiawaian dan kehebatan ketika tampil memainkan jurus-jurus silat mematikan. Meskipun tampil dalam satu arena permainan, keharmonisan antar perkumpulan tetap terjaga.
Dalam setiap penampilan arena yang dipergunakan menempati halaman yang sangat luas, serta didirikan sebuah panggung. Adapun prosesi penampilan dalam setiap pertemuan sebagai berikut ;
 Pertama adalah prakata yang disampaikan oleh ketua dan wakil ketua perkumpulan. Isi dari prakata tersebut adalah perkembangan perkumpulan silat serta tujuan diadakannya perkumpulan. Setelah itu acara dilanjutkan dengan penampilan atraksi Can-macanan (berkostum harimau, dimainkan oleh 1 atau 2 orang). Atraksi ini menampilkan kepandaian dan kemahiran melakukan gerakan-gerakan lompatan, bergulingan ataupun gerakan akrobatik. (Can-macanan mengadopsi dari budaya Cina, Barongsai). Adapun musik yang dimainkan dalam penampilan Can-macanan  adalah irama Serama Teter, tetapi tidak menggunakan alat musik Jidur
Setelah penampilan atraksi Can-macannan yang mendebarkan usai, para penonton disuguhi  penampilan pelawak, dengan memakai kostum badut. Penampilan para pelawak ini mampu mengocok perut penonton, sehingga suasana semakin hangat dan menyenangkan. Setelah acara lawakan usai, maka penampilan permainan silat dimulai. Pertama-tama yang tampil adalah permainan tunggal, 5 sampai 7 orang pesilat menampilkan permainan silat Kembhangan. Para pesilat tunggal ini, memperagakan berbagai macam kemahiran, ketangkasan serta keluwesan gerak.
Setelah penampilan silat Kembhangan selesai, maka inti permainan pertandingan dimulai. Para pesilat secara bergantian memamerkan ketangkasan, kehebatan tendangan dan jurus-jurus silat dengan kelenturan tubuh, gerak yang gemulai, indah mempesona. Walaupun dalam posisi bertanding, jurus-jurus yang dimainkan tidak sampai menimbulkan cedera pada lawan tanding. Karena kemahiran yang dipertontonkan dalam pertandingan tersebut hanya ber-tujuan melihat perkembangan kemampuan para pesilat dalam satu perkumpulan.
Pada acara inti pertandingan silat Ghul-Ghul, terkadang ada beberapa pesilat dari perkumpulan lain  mengambil bagian memamerkan kemahirannya bermain silat. Walaupun dalam posisi bertanding, para petanding lebih mengutamakan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan. Sehingga kehebatan dan kepiawaian dalam menguasai berbagai gaya ilmu silat, hanya dipamerkan dalam bentuk gerakan-gerakan tanpa menciderai lawan tanding, karena pertandingan tersebut tidak bertujuan mencari pemenang.
Silat Ghul-Ghul merupakan sebuah media menjalin tali ukhuwah Islamiyah. Maka tidak mengherankan perkumpulan-perkumpulan yang ada di setiap desa sering mengadakan pertunjukan bersama atau saling mengundang. Di samping itu silat Ghul-Ghul sering dipentaskan apabila merayakan hari-hari besar Islam ataupun diundang dalam acara hajatan.
Adapun pakaian yang dikenakan oleh para pesilat biasanya memakai seragam satu warna, yaitu hitam-hitam atau putih-putih. Dengan model baju longgar, celana longgar serta aksesoris lain seperti ikat kepala. Untuk para penabuh pakaian yang dikenakan berwarna hitam-hitam, celana sebatas lutut (komprang), dipadu kaos bergaris (warna merah-putih), dengan aksesoris lainnya, pemakaian odheng serta kain ikat di bagian pinggang.
Sebagai Sarana Silaturahmi
Konon kabarnya, dekade tahun 60-an sampai dengan 70-an, perkumpulan-perkumpulan silat Ghul-Ghul hampir merata ada di setiap desa dalam wilayah kecamatan Guluk-Guluk. Perkumpulan-perkumpulan tersebut biasanya dipimpin oleh seorang jawara (guru silat) yang mumpuni dan kondang. Di tempat perkumpulan itulah, para pesilat muda digodok mempelajari jurus-jurus silat dan media arisan digunakan sebagai tali pengikat antar sesama anggota. Pertemuan rutin diadakan setiap setengah bulanan atau setiap bulan sekali. Dalam pertemuan tersebut diperagakan keahlian dan kepandaian pesilat muda, sekaligus sebagai arena untuk menguji sejauh mana pesilat muda mampu menyerap ilmu yang disampaikan oleh sang guru.
Saat ini komunitas pencinta Pencak Silat Ghul-Ghul hanya tinggal hitungan jari. Untuk pelestariannya, para jawara (jago) senior mulai merekrut kaum muda untuk mempelajari serta menggeluti seni bela diri ini. Sehingga tidaklah mengherankan, kalau atraksi ini masih dapat disaksikan ketika ada hajatan, ataupun saat-saat gebyar meriah memperingati hari besar Nasional, tujuh-belasan. Dalam acara tersebut biasanya para jagoan, baik secara individu maupun kelompok turun gunung memamerkan ketangkasan, kelincahan, kegesitan sekaligus kelenturan, keindahan gerakan dalam satu arena. Menjadi komoditas tontonan yang sangat apik, menarik dan memikat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar